Bisnis / Keuangan
Kamis, 05 Maret 2026 | 08:27 WIB
Ilustrasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • IHSG ditutup turun signifikan 4,57% ke level 7.577,06, sejalan pelemahan bursa regional Asia.
  • Penurunan pasar saham dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah, khususnya penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
  • BEI menyatakan pergerakan IHSG masih lebih baik dibanding bursa global meskipun investor cenderung melakukan aksi jual.

Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih lebih baik dibandingkan beberapa bursa saham global.

Sebagai informasi, IHSG ditutup merosot 362,70 poin atau 4,57 persen ke level 7.577,06, setelah sepanjang hari bergerak di zona merah.

Direktur Pengaturan dan Pengawasan Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, mengatakan tekanan di pasar saham domestik tersebut sejalan dengan pelemahan yang juga terjadi di sejumlah bursa regional Asia.

Apalagi, pergerakan IHSG saat ini dipengaruhi sentimen global, khususnya meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, dan ASX,” ujar Irvan dalam jawaban tertulis di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Ia menambahkan, tekanan di pasar bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan di Korea Selatan.

Selat Hormuz

“Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah indeksnya turun lebih dari 8 persen,” katanya.

Menurut Irvan, gejolak pasar dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memanas. Situasi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi krisis energi global.

Pasalnya, Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.

Baca Juga: IHSG Jeblok 4,57%, Apa yang Bikin Pasar Panik?

“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup Selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kekhawatiran pasar tersebut juga tercermin dari kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Irvan, lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik global membuat investor cenderung melakukan aksi jual di berbagai bursa, termasuk di Indonesia.

Untuj itu, BEI tetap memantau perkembangan pasar dan memastikan perdagangan saham berjalan secara teratur, wajar, dan efisien di tengah volatilitas global.

Load More