Bisnis / Makro
Jum'at, 06 Maret 2026 | 19:22 WIB
Siswa menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Tamansari, Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Program MBG ringankan beban ekonomi & tingkatkan gizi anak secara signifikan.
  • 85% siswa habiskan menu MBG; berdampak pada kenaikan nilai rapor & fokus belajar.
  • Sekolah & Dinkes harus kolaborasi awasi standar mutu dapur demi efektivitas program.

Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti memberikan dampak ganda (multiplier effect), tidak hanya bagi kesehatan fisik siswa tetapi juga stabilitas ekonomi rumah tangga. Riset terbaru dari dua lembaga kredibel memperkuat sinyal bahwa program ini menjadi oase bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) dalam laporan Maret 2026 mengungkapkan, program MBG menjadi solusi konkret bagi beban ekonomi keluarga. Senada, Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada Februari 2026 mencatat adanya perubahan pola konsumsi yang signifikan di tingkat akar rumput.

Ketua LabSosio UI, Dr. Hari Nugroho, MA, menyatakan bahwa penerimaan masyarakat terhadap program ini sangat tinggi, terutama dari kelompok ekonomi rentan. MBG dinilai efektif memangkas pengeluaran harian, salah satunya uang jajan anak.

"Temuan paling menggembirakan adalah tingginya penerimaan masyarakat. Orang tua merasa terbantu karena kepastian anak mendapatkan asupan bergizi di sekolah, terutama bagi mereka yang sibuk bekerja sejak pagi," ujar Hari dalam keterangan resminya.

Data LabSosio UI memotret realitas pahit di lapangan: sebanyak 48,5% siswa jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat sekolah. Kehadiran MBG mengubah drastis pola ini, di mana 85,8% siswa tercatat selalu menghabiskan sajian yang diberikan.

Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, menambahkan bahwa 81% orang tua rumah tangga rentan mendukung penuh keberlanjutan program ini. "Dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian akses nutrisi," jelasnya.

Menariknya, MBG juga mengubah perilaku makan anak. RISED mencatat 72% anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55% mulai terbiasa dengan variasi makanan baru yang sebelumnya jarang mereka temui di rumah.

Meski menuai sukses, riset UI menekankan pentingnya evaluasi. Dr. Hari Nugroho menyarankan agar sekolah ditempatkan sebagai subjek utama perencanaan, bukan sekadar objek pelaksana. Selain itu, keterlibatan Dinas Kesehatan sangat krusial dalam mengawasi standar mutu dapur secara berkala.

Dengan sinergi lintas sektor, program MBG diprediksi akan menjadi fondasi kokoh bagi lahirnya generasi emas Indonesia yang sehat secara fisik dan tangguh secara intelektual.

Baca Juga: Surel Gus Lilur Direspons Presiden, KKP Terbitkan Permen KP No. 5 Tahun 2026

Load More