- BBCA anjlok 6,45%, sentuh level terendah dalam lima tahun.
- BBRI turun ke Rp2.740, asing masih gencar melakukan net sell.
- Analis nilai koreksi tajam mulai buka peluang akumulasi saham.
Suara.com - Tekanan terhadap saham-saham perbankan jumbo belum menunjukkan tanda mereda. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali terperosok ke level terendah dalam lima tahun terakhir setelah dihantam aksi jual investor asing secara masif sepanjang 2026.
Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), saham BBCA anjlok 6,45 persen atau turun 350 poin ke level Rp5.075 per saham. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terendah dalam 52 pekan dan menyeret kapitalisasi pasar perseroan menjadi Rp619,36 triliun.
Sementara itu, saham BBRI ditutup melemah 2,49 persen ke level Rp2.740 per saham. Harga saham bank pelat merah tersebut bahkan sempat menyentuh Rp2.730 pada perdagangan intraday, yang juga menjadi titik terendah dalam setahun terakhir.
Koreksi tajam kedua saham perbankan terbesar di Indonesia itu mempertegas sentimen negatif yang masih membayangi pasar modal domestik. Sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD), BBCA telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya, sedangkan BBRI juga mencatat pelemahan signifikan di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan likuiditas pasar.
Jika dibandingkan dengan posisi lima tahun lalu, harga kedua saham tersebut kini telah kembali ke level yang pernah tercatat pada 2021. Kondisi ini menjadikan BBCA dan BBRI sebagai dua emiten perbankan besar yang mengalami erosi nilai paling dalam akibat gelombang keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.
Data perdagangan menunjukkan investor asing menjadi faktor utama di balik tekanan tersebut. Sepanjang 2026, saham BBCA mencatatkan aksi jual bersih (net sell) asing mencapai Rp31,34 triliun. Adapun BBRI membukukan net sell asing sebesar Rp9,57 triliun.
Data kepemilikan saham juga mengindikasikan penurunan eksposur investor global terhadap sektor perbankan nasional. Kepemilikan asing di BBCA hingga akhir Mei 2026 tercatat menyusut 10,07 persen dibandingkan posisi akhir 2025 menjadi sekitar 36,91 miliar saham. Sementara kepemilikan asing di BBRI turun 6 persen menjadi sekitar 41,6 miliar saham.
Meski demikian, sejumlah analis melihat koreksi yang sangat dalam tersebut mulai membuka ruang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap. Dengan valuasi yang kini jauh lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya, saham-saham bank besar dinilai mulai memasuki area yang menarik, terutama bagi investor yang percaya fundamental sektor perbankan nasional masih relatif kuat.
Namun demikian, peluang rebound masih akan sangat bergantung pada kembalinya aliran dana asing dan perbaikan sentimen terhadap pasar keuangan Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Meski Rupiah-IHSG Loyo, Purbaya Buktikan Arus Modal Asing Masih Ramai Masuk RI
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan