- Pemerintah Indonesia melalui Kemenhan mengakuisisi sistem rudal jelajah supersonik BrahMos India untuk modernisasi Alutsista maritim.
- Kesepakatan final pengadaan teknologi persenjataan tersebut dilaporkan mencapai nilai US$450 juta pada Selasa (10/3/2026).
- Rudal BrahMos memiliki kecepatan Mach 2,8–3,0 dan fleksibilitas platform operasi untuk memperkuat daya gentar pertahanan laut.
Suara.com - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan mengonfirmasi langkah strategis untuk mengakuisisi sistem rudal jelajah supersonik BrahMos asal India.
Keputusan ini merupakan bagian dari upaya masif dalam memodernisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) guna memperkuat pengamanan di wilayah perairan nasional.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, menyatakan bahwa pengadaan teknologi persenjataan ini bertujuan untuk meningkatkan daya getar (deterrence effect) serta kapabilitas pertahanan maritim Indonesia.
"Kesepakatan ini adalah fondasi penting dalam modernisasi perangkat militer kita, khususnya untuk memastikan kedaulatan di sektor laut terjaga dengan optimal," ujar Sirait sebagaimana dilaporkan pada Selasa (10/3/2026), dikutip via Reuters.
Negosiasi mengenai akuisisi sistem rudal ini sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Meski diskusi awal sempat memperkirakan nilai kontrak di kisaran US$200 juta hingga US$350 juta, laporan terbaru menyebutkan bahwa nilai kesepakatan final mencapai US$450 juta atau setara dengan Rp7,2 hingga Rp7,3 triliun.
Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara Asia Tenggara berikutnya yang menggunakan teknologi BrahMos setelah Filipina, yang sebelumnya telah menandatangani kontrak senilai US$375 juta pada tahun 2022 lalu.
Spesifikasi Rudal BrahMos
BrahMos merupakan produk unggulan dari perusahaan patungan antara India dan Rusia yang dibentuk pada tahun 1998 (pusat operasional di New Delhi).
Rudal ini diakui dunia sebagai salah satu peluru kendali tercepat di kelasnya. Berikut adalah spesifikasi teknis yang menjadikannya senjata mematikan:
Baca Juga: 8 Beda Syarat Jadi Wapres di Indonesia dan Iran, Berapa Usia Minimal?
- Kecepatan Super: Mampu melesat hingga Mach 2,8 – 3,0, atau tiga kali kecepatan suara, yang membuatnya sangat sulit diantisipasi oleh sistem pertahanan radar lawan.
- Jangkauan Luas: Memiliki radius serang antara 290 km hingga 450 km, dengan potensi pengembangan teknologi di masa depan hingga menjangkau 800 km.
- Daya Ledak: Dibekali hulu ledak konvensional seberat 200 kg hingga 300 kg yang memiliki kemampuan menembus lapisan pelindung baja (semi-armor piercing).
- Fleksibilitas Platform: Sistem ini sangat adaptif karena dapat dioperasikan dari berbagai medan, mulai dari peluncur darat, kapal perang permukaan, kapal selam, hingga pesawat tempur.
- Sistem Navigasi: Mengandalkan kombinasi Inertial Navigation System (INS) serta dukungan GPS/GLONASS untuk akurasi target yang presisi.
Berita Terkait
-
Siap-siap Hujan Rudal Iran
-
Bukan Sekadar Clean Sheet: Alasan Teja Paku Alam Kalah Saing di Timnas Indonesia Era John Herdman
-
Dipanggil Timnas Indonesia, Eliano Reijnders Ungkap Misi Besar
-
John Herdman Punya Stok Melimpah di Posisi Bek, Siapa Saja Mereka?
-
Ezra Walian dan Calvin Verdonk Reuni, akan Kembali Bersama Setelah 13 Tahun
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Dasco Puji BI yang Bikin Kuat Rupiah: RI Kini Tak Bergantung Dolar AS
-
AS-Iran Resmi Berdamai? Draf Kesepakatan Rahasia Dua Negara Bocor!
-
PM Malaysia Kenang Bung Hatta: Negara Tidak Boleh Ditopang Segelintir Elit
-
Dugaan Dikerahkan Kawal Demo, Apakah Komcad Dapat Gaji dan Tunjangan?
-
Pemerintah Janji Stok Pupuk Nasional Aman, Zulhas: Kopdes Jadi Penyalur
-
DPR Apresiasi Langkah Baru Bank Indonesia Perkuat Nilai Rupiah
-
Foto e-KTP Jelek Bisa Diganti? Ini Aturan dan Syarat Resminya
-
Dasco Dukung Gebrakan 'Dedolarisasi' BI: Transaksi Triliunan ke China Cukup Pakai QRIS
-
Tiket Pesawat Mahal! Pengamat Bongkar Anomali Pajak 'Tersembunyi'
-
Harga Bawang dan Beras Kompak Naik, Minyak Goreng Ikut Makin Mahal