-
Iran menyatakan kesiapan melanjutkan perang rudal tanpa batas waktu melawan Amerika Serikat.
-
Menlu Abbas Araghchi secara resmi menutup peluang negosiasi diplomatik dengan pemerintah Donald Trump.
-
Konflik regional menyebabkan harga minyak melonjak dan memicu krisis kemanusiaan di banyak negara.
Suara.com - Ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington perang kini memasuki babak baru yang sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluarkan pernyataan provokatif mengenai kesiapan militer negaranya dalam menghadapi tekanan Barat.
Pihak Teheran memberikan sinyal kuat bahwa mereka tidak akan mundur dari konfrontasi bersenjata yang sedang berlangsung saat ini.
Pernyataan ini menjadi sorotan utama karena disampaikan di tengah gejolak perang yang melibatkan banyak negara di kawasan tersebut.
Araghchi menekankan bahwa kekuatan rudal Iran akan terus dikerahkan selama kepentingan nasional mereka merasa terancam oleh lawan.
“Kami siap menyerang mereka dengan rudal selama diperlukan dan selama dibutuhkan,” kata Araghchi dikutip dari PBS News.
Ketegasan ini muncul sebagai respons langsung atas klaim sepihak dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya.
Trump sempat melontarkan pernyataan optimis bahwa eskalasi peperangan di Timur Tengah akan segera menemui titik akhir.
Namun pemimpin Amerika tersebut juga memberikan peringatan keras bahwa pihak lawan akan mengalami kerugian besar jika tetap melawan.
Baca Juga: GILA! Israel Beli 5.000 Bom Pintar dari Boeing, Buat Hancurkan Iran?
Pihak Iran tampaknya sudah kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap proses diplomasi yang melibatkan pemerintah Amerika Serikat saat ini.
Araghchi mengenang kembali sejarah interaksi kedua negara yang dianggapnya hanya memberikan dampak negatif bagi rakyat Iran.
Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan menjadi alasan utama mengapa Teheran enggan kembali ke meja perundingan formal.
Keputusan untuk menutup pintu komunikasi ini menandakan potensi eskalasi yang lebih panjang di masa depan bagi kedua negara.
Gelombang serangan udara menggunakan teknologi rudal dan drone Iran telah menjangkau berbagai titik strategis di kawasan Teluk.
Target serangan tersebut menyasar fasilitas di Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga wilayah kedaulatan Israel.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Kebakaran Hutan di Iwate Meluas, 3.000 Warga Otsuchi Dievakuasi
-
KPAI: Anak Korban Kekerasan Daycare Little Aresha Yogyakarta Berpotensi Alami Trauma Serius!
-
AS Perketat Aturan Kartu Hijau, Pemohon yang Mendukung Palestina akan Ditolak
-
Rektor Paramadina: Penutupan Prodi Visi Jangka Pendek, Kampus Bukan Sekadar Cetak Pekerja!
-
Polisi Sikat Markas Narkoba Viral di Kebon Melati, 9 Orang Ditangkap dari Pinggir Rel!
-
Menaker Yassierli: Lulusan Perguruan Tinggi harus Miliki Strategi Triple Readiness Hadapi Era AI
-
Penghargaan Pemda Strategi Tingkatkan Kinerja dan Kepercayaan Publik
-
Wamensos Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Jalan Emas Putus Rantai Kemiskinan
-
KPAI Ungkap Dugaan Pelanggaran Berlapis di Kasus Daycare Litte Aresha Yogyakarta!
-
Hari Kekayaan Intelektual 2026, Kementerian Hukum Dorong Industri Olahraga dan Inovasi Nasional