- Hingga Maret 2026, belum ada perusahaan yang mencatatkan IPO, namun pasar modal aktif melalui aksi korporasi lain.
- Penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk berhasil menghimpun dana signifikan mencapai Rp41,41 triliun dari 26 penerbit.
- Terdapat tujuh perusahaan besar mengantre IPO, sementara pipeline EBUS mencakup 20 rencana emisi, didominasi sektor keuangan.
Suara.com - Sejak awal Januari hingga Maret 2026 belum ada calon perusahaan yang menggelar penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Namun, pasar modal Indonesia terus menunjukkan geliat di awal tahun 2026.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sejumlah aksi korporasi mulai dari penerbitan efek utang hingga rights issue yang telah menghimpun dana puluhan triliun rupiah.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan hingga awal Maret 2026 penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) telah menghasilkan dana signifikan bagi emiten.
“Telah diterbitkan 37 emisi dari 26 penerbit EBUS dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp41,41 triliun,” ujar Nyoman dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Selain instrumen utang, aksi penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue juga mulai bergulir. Hingga 6 Maret 2026, tercatat tiga perusahaan publik telah mengeksekusi rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun.
Di sisi lain, minat perusahaan untuk melantai di bursa juga masih terjaga. Saat ini terdapat tujuh perusahaan yang tengah mengantre untuk melakukan penawaran umum perdana saham (IPO).
Mayoritas calon emiten tersebut merupakan perusahaan dengan skala aset besar. Berdasarkan data bursa, enam dari tujuh perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar, sementara satu perusahaan lainnya tergolong perusahaan dengan aset menengah.
Mengacu pada regulasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 53/POJK/04/2017, perusahaan dengan aset menengah diklasifikasikan memiliki total aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.
Sementara itu, pada jalur penerbitan efek utang, pipeline EBUS saat ini mencatat 20 rencana emisi dari 13 penerbit. Sektor keuangan mendominasi dengan lima perusahaan yang berencana menerbitkan instrumen tersebut.
Baca Juga: Megawati Soekarnoputri Muncul di Daftar Pemegang Saham Sentul City (BKSL), Kempit 1,97 Miliar Lembar
Selain sektor keuangan, terdapat masing-masing dua perusahaan dari sektor energi, industri, serta manufaktur. Adapun sektor bahan baku dan konsumer non-siklikal masing-masing diwakili satu penerbit.
Meski demikian, bursa belum mengungkapkan estimasi nilai dana yang berpotensi dihimpun dari 13 penerbit EBUS tersebut. Di sisi rights issue, pipeline masih relatif tipis.
Baru satu perusahaan yang tercatat berencana melakukan aksi korporasi tersebut, yang berasal dari sektor properti dan real estat.
Dengan sejumlah rencana aksi korporasi yang masih mengantre, aktivitas penggalangan dana di pasar modal diperkirakan tetap ramai dalam beberapa waktu ke depan.
Berita Terkait
-
Emiten BFIN Andalkan Program Loyalitas Dongkrak Pembiayaan Mobil Bekas
-
Deretan Saham Konsumsi dan Ritel yang Berpotensi Cuan saat Ramadan 2026
-
Emiten Asuransi TUGU Siapkan Strategi Kejar Kinerja Positif di 2026
-
Nagita Slavina Mau Caplok Saham VISI, Siap-siap Dapat Utang
-
Daftar Emiten RI yang Turun Kasta Versi MSCI
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
IHSG Sesi I Melonjak 2,34% ke Level 5.881, BBCA Jadi Bintang
-
Pengusaha Logistik Curhat Harga BBM Naik: Tambahan Biaya Makin Menekan
-
Harga Minyak Kembali Meroket! Serangan AS ke Iran Bikin Harga BBM Makin Mahal
-
Efek Domino BBM Naik, Harga Komoditas Pangan Langsung Terbang 10 Persen Lebih
-
BBM Naik-Rupiah Jebol, Warga: Sekarang Belanja Cuma Dapat Sayur dan Bumbu-bumbuan Saja!
-
Rupiah Menguat ke Rp17.900, Efek Gerilya Akhir Pekan Dasco
-
Pertamax Melonjak, SPBU Swasta Ikut Kerek Naik Harga BBM Hingga Tembus Rp17.000 per Liter
-
Pasar Makin Tak Pasti, Ini Cara Investor Mengubah Kepanikan Jadi Cuan
-
Perkokoh Sinergi Ekosistem Syariah, Pegadaian - Bank Syariah Nasional Kolaborasi Pendanaan & Digital
-
Rupiah Menguat ke Level Rp17.908 per Dolar AS Paling Perkasa di Asia