Bisnis / Keuangan
Senin, 09 Maret 2026 | 09:04 WIB
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Hingga Maret 2026, belum ada perusahaan yang mencatatkan IPO, namun pasar modal aktif melalui aksi korporasi lain.
  • Penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk berhasil menghimpun dana signifikan mencapai Rp41,41 triliun dari 26 penerbit.
  • Terdapat tujuh perusahaan besar mengantre IPO, sementara pipeline EBUS mencakup 20 rencana emisi, didominasi sektor keuangan.

Suara.com - Sejak awal Januari hingga Maret 2026 belum ada calon perusahaan yang menggelar penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Namun, pasar modal Indonesia terus menunjukkan geliat di awal tahun 2026.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sejumlah aksi korporasi mulai dari penerbitan efek utang hingga rights issue yang telah menghimpun dana puluhan triliun rupiah.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan hingga awal Maret 2026 penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) telah menghasilkan dana signifikan bagi emiten.

“Telah diterbitkan 37 emisi dari 26 penerbit EBUS dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp41,41 triliun,” ujar Nyoman dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).

Selain instrumen utang, aksi penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue juga mulai bergulir. Hingga 6 Maret 2026, tercatat tiga perusahaan publik telah mengeksekusi rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun.

Di sisi lain, minat perusahaan untuk melantai di bursa juga masih terjaga. Saat ini terdapat tujuh perusahaan yang tengah mengantre untuk melakukan penawaran umum perdana saham (IPO).

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna. [Suara.com/Rina]

Mayoritas calon emiten tersebut merupakan perusahaan dengan skala aset besar. Berdasarkan data bursa, enam dari tujuh perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar, sementara satu perusahaan lainnya tergolong perusahaan dengan aset menengah.

Mengacu pada regulasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 53/POJK/04/2017, perusahaan dengan aset menengah diklasifikasikan memiliki total aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.

Sementara itu, pada jalur penerbitan efek utang, pipeline EBUS saat ini mencatat 20 rencana emisi dari 13 penerbit. Sektor keuangan mendominasi dengan lima perusahaan yang berencana menerbitkan instrumen tersebut.

Baca Juga: Megawati Soekarnoputri Muncul di Daftar Pemegang Saham Sentul City (BKSL), Kempit 1,97 Miliar Lembar

Selain sektor keuangan, terdapat masing-masing dua perusahaan dari sektor energi, industri, serta manufaktur. Adapun sektor bahan baku dan konsumer non-siklikal masing-masing diwakili satu penerbit.

Meski demikian, bursa belum mengungkapkan estimasi nilai dana yang berpotensi dihimpun dari 13 penerbit EBUS tersebut. Di sisi rights issue, pipeline masih relatif tipis.

Baru satu perusahaan yang tercatat berencana melakukan aksi korporasi tersebut, yang berasal dari sektor properti dan real estat.

Dengan sejumlah rencana aksi korporasi yang masih mengantre, aktivitas penggalangan dana di pasar modal diperkirakan tetap ramai dalam beberapa waktu ke depan.

Load More