- Presiden Trump pada 21 Maret mengultimatum Iran membuka Selat Hormuz atau pembangkit listrik Iran dihancurkan, memicu ancaman balasan.
- Iran mengancam menghancurkan infrastruktur energi dan desalinasi Timur Tengah jika pembangkit listriknya diserang Amerika Serikat.
- Kehancuran fasilitas desalinasi sangat mengancam negara Teluk karena 40% air minum kawasan itu bergantung padanya.
Suara.com - Konflik di Timur Tengah meningkat awal pekan ini setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu 21 Maret kemarin mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 48 jam, jika tidak semua pembangkit listrik di negeri Persia tersebut akan dihancurkan.
Ancaman ini disambut Iran dengan gertakan balik. Satu saja pembangkit listrik dihancurkan, maka infrastruktur energi dan desalinasi di Timur Tengah akan dihancurkan.
Menurut para analis, desalinasi adalah ancaman paling mengerikan dan bisa menjerumuskan negara-negara Teluk ke jurang kiamat kecil. Instalasi desalinasi adalah sumber kehidupan masyarakat di Timur Tengah dan kehancuran fasilitas-fasilitas itu akan membuat Timur Tengah mengalami krisis yang lebih parah dari kehancuran infrastruktur minyak.
"Jika infrasktruktur energi dan minyak Iran diserang musuh, maka semua infastruktur energi, teknologi informasi dan fasilitas desalinasi air milik Amerika Serikat dan rezim di kawasan ini akan menjadi target," kata juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaqari pada Minggu (22/3/2026).
Ancaman Iran ini tak bisa dipandang sebelah mata. Sejak Israel dan AS menyerang negara itu pada 28 Februari lalu, Iran selalu menepati ultimatumnya termasuk soal menghantam infrastruktur minyak di negara-negara Arab dan menutup Selat Hormuz.
Para analis sejak lama sudah memperingatkan Trump dan Amerika Serikat bahwa jika terjadi perang, rezim Teheran tidak hanya akan menyasar AS tapi juga "menyandera" tetangganya dan bahkan dunia dengan menutup Selat Hormuz sehingga negara-negara yang terdampak krisis energi menekan AS serta Israel untuk menghentikan perang.
Dan inilah yang sekarang terjadi. Ancaman baru Iran untuk menghancurkan instalasi desalinasi akan menjadi pukulan telak bagi negara-negara Arab di Teluk Persia. Ini adalah kelemahan utama negara-negara kaya seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Oman hingga Arab Saudi.
Kawasan Timur Tengah saat ini bergantung pada air minum dari fasilitas desalinasi - yang mengubah air laut menjadi air yang bisa langsung diminum. Dulu orang-orang di gurun-gurun Arab bergantung pada sumur, tapi dengan semakin banyaknya penduduk butuh infrastruktur besar.
Pada dekade 1950an, negara-negara Arab masih bisa mengandalkan cadangan air tanah yang di akuifer. Tapi kini bahkan cadangan itu sudah habis juga.
Baca Juga: Ancaman 'Kiamat' Energi: Trump Beri Ultimatum, Guncang Pasokan Migas Dunia
Menurut data terbaru yang dikumpulkan The Guardian, 70 persen air minum di Arab Saudi berasal dari instalasi desalinasi. Oman sekitar 86 persen. Uni Emirat Arab sekitar 42 persen. Kuwait bahkan mencapai 90 persen.
Sekitar 40 persen air minum di Timur Tengah berasal dari fasilitas desalinasi, yang memasok sekitar 28,96 meter kubik air per hari.
"Beberapa negara Teluk Persia, kota-kota besar tak bisa beroperasi tanpa air dari fasilitas desalinasi," kata Nima Shokri direktur pada Institute Geo-Hydroinformatics, Universitas Teknologi Hamburg, Jerman.
"Kehancuran fasilitas-fasiltas ini bisa memicu krisis air di beberapa negara Teluk," ia memperingatkan.
Uniknya instalasi-instalasi ini banyak terdapat di pesisir Teluk Persia yang berhadapan langsung dengan Iran. Jadi fasiltas-fasiltas ini bukan target yang sukar untuk dihancurkan oleh rezim Teheran.
Shokri juga memperingatkan bahwa instalasi desalinasi butuh waktu lama untuk diperbaiki atau dibangun kembali jika rusak diterjang misil atau drone.
Berita Terkait
-
Jepang Kirim Pasukan Khusus Bela Diri ke Selat Hormuz, Ikut Perang?
-
Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran
-
Kecam Iran, 20 Negara Siap Buka Selat Hormuz
-
Tantrum Harga Minyak Meroket, Trump Cap NATO Pengecut Karena Tak Mau Ikut Buka Selat Hormuz
-
Singgung Nuklir, Iran: Selat Hormuz Ditutup Total Bagi AS dan Israel!
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri
-
Jawaban Menohok Purbaya Saat Dikritik Pertumbuhan Ekonomi Gegara Stimulus Pemerintah
-
Tersiar Kabar PPPK Kena PHK Massal Setelah APBD Dipotong, Apa Kata Pemerintah?
-
Rupiah Kembali Merosot ke Level Rp 17.382, Apa Penyebabnya?
-
Ada Apa dengan IHSG Hari Ini, Ambruk 2% hingga 607 Saham Merah
-
UMKM Mitra Binaan Pertamina Mengudara, Kini Menjangkau Penumpang Pesawat Pelita Air
-
Ambisi Prabowo-Bahlil: Alirkan Listrik Lintas Negara ke Wilayah 3T