- Pasar saham Indonesia dibuka kembali pasca libur Lebaran dengan proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami penurunan lanjutan.
- MNC Sekuritas memprediksi IHSG mungkin terkoreksi ke rentang 6.745-6.887 berdasarkan analisis teknikal gelombang saat ini.
- Meskipun tren turun diprediksi, terdapat potensi penguatan jangka pendek dengan target terdekat antara 7.176 hingga 7.238.
Suara.com - Pasar saham Indonesia, besok mulai kembali dibuka, setelah libur lebaran. Namun, diproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa kembali merosot.
IHSG pada perdagangan terakhir Rabu (18/3), ditutup menguat 1,20 persen ke level 7.106 pada perdagangan terbaru, didukung oleh munculnya volume pembelian di pasar.
Mengutip riset MNC Sekuritas, posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase teknikal tertentu yang membuka peluang penurunan lanjutan.
"Kami memperkirakan, posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (v) dari wave [c] dari wave A pada label hitam atau wave (2) pada label merah. Hal tersebut berarti, terdapat kemungkinan IHSG masih akan melanjutkan koreksinya ke rentang 6,745-6,887," tulis MNC Sekuritas dalam risetnya seperti dikutip, Selasa (24/3/2026).
Meski demikian, peluang penguatan jangka pendek masih terbuka dengan target terdekat di kisaran 7.176 hingga 7.238.
Adapun level support IHSG berada di 6.991 dan 6.843, sementara resistance di 7.156 dan 7.239.
Rekomendasi Saham
Seiring dengan pergerakan IHSG, MNC Sekuritas juga memberikan sejumlah rekomendasi saham yang menarik dicermati pelaku pasar.
Saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) direkomendasikan buy on weakness setelah menguat 4,35 persen ke level 288.
Baca Juga: IHSG Senin Pekan Ini Buka atau Tidak? Ini Jadwal Lengkap Libur Bursa
Sementara itu, saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) melonjak signifikan 15,63 persen ke level 2.960 dan berhasil menembus MA20. MNC Sekuritas menilai EXCL berada di awal tren penguatan lanjutan.
Untuk saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), MNC Sekuritas memberikan rekomendasi speculative buy meski terkoreksi 3,46 persen ke level 2.510. Saham ini dinilai masih berpeluang menguat selama bertahan di atas 2.410.
Sementara saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menguat 2,19 persen ke level 700 dan masih berada di atas MA60. Posisinya dinilai berada di awal fase penguatan.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
Terkini
-
Gegara Selat Hormuz Tutup, Harga BBM di AS Tembus Rp 68.000
-
BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional
-
Aturan Baru Purbaya: Jatim Jadi Provinsi Terbanyak Dapat Jatah Hasil Cukai Tembakau
-
Ekonomi India Mulai Terpukul, Konflik Timur Tengah Bikin Aktivitas Bisnis Melambat
-
7.131 Bus Ditemukan Tak Layak Jalan Saat Mudik Lebaran
-
Arus Balik Lebaran, KAI Catat 253 Ribu Kursi Masih Tersedia hingga Awal April
-
Arus Balik Mulai Padat, Jumlah Penumpang Kereta ke Jakarta Lampaui Keberangkatan
-
Perang di Timteng Memanas Bikin Premi Asuransi Meningkat
-
Arus Balik Mulai Menggeliat, Penumpang Bakauheni Tembus 91 Ribu di H+1 Lebaran
-
BI: Sektor Perbankan dalam Kondisi Prima di Tengah Krisis Akibat Konflik Timur Tengah