- KPPU memutuskan penetapan bunga pinjol maksimal 0,8 persen per hari adalah pelanggaran persaingan usaha merugikan konsumen.
- Kesepakatan batas bunga pinjaman tersebut dilakukan melalui pedoman asosiasi industri, bukan berdasarkan mekanisme pasar atau arahan OJK.
- Putusan perkara ini disampaikan pada sidang Kamis (26/3/2026) karena melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.
Suara.com - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkap praktik penetapan bunga pinjaman online (pinjol) yang sempat dipatok maksimal 0,8 persen per hari sebagai bentuk pelanggaran persaingan usaha yang berpotensi merugikan konsumen.
Temuan tersebut terungkap dalam sidang putusan perkara nomor 05/KPPU-I/2025 yang dibacakan pada Kamis (26/3/2026). Majelis Komisi menilai penetapan batas bunga tersebut dilakukan melalui kesepakatan antar pelaku usaha, bukan mekanisme pasar.
Ketua Majelis KPPU, Ridho Jusmadi, menyebut penetapan bunga tersebut terjadi melalui pedoman asosiasi industri yang diikuti oleh para anggota.
“Bahwa penetapan harga telah terjadi dengan mempertimbangkan mekanisme penyusunan pedoman perilaku AFPI yang telah diketahui dan tidak mendapatkan penolakan secara nyata oleh para anggota AFPI," ujar Ridho di Jakarta.
Dalam fakta persidangan, batas bunga pinjaman sempat ditetapkan tidak melebihi 0,8 persen per hari sejak 2018. Kebijakan ini kemudian diperbarui dengan penurunan menjadi 0,4 persen per hari pada 2021, namun tetap melalui mekanisme yang sama.
Dalam persidangan, para perusahaan sempat berdalih bahwa pengaturan batas bunga tersebut merupakan arahan dari Otoritas Jasa Keuangan. Namun, Majelis Komisi menolak alasan tersebut karena tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
“Bahwa dalil yang menyatakan jika pengaturan besaran maksimum suku bunga merupakan arahan dari OJK adalah lemah dan dikesampingkan mengingat arahan tersebut bersifat lisan dan tidak terdapat bukti tertulis terkait arahan tersebut," ungkapnya.
Majelis juga menyoroti tidak adanya dokumen resmi yang mendukung klaim tersebut.
“Bahkan tidak terdapat notulensi tertulis dalam setiap rapat pembahasan. Hal ini justru menunjukkan lemahnya dalil arahan atau rekomendasi dari OJK," jelasnya.
Baca Juga: KPPU Hukum 97 Pinjol, Denda Fantastis Rp755 Miliar Menanti
Selain itu, KPPU menegaskan bahwa tidak ada regulasi yang memberikan kewenangan kepada pelaku usaha atau asosiasi untuk mengatur besaran bunga pinjaman.
“Bahwa tidak terdapat peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pemberian kewenangan kepada pelaku usaha tertentu dan atau kumpulan pelaku usaha tertentu untuk mengatur besaran suku bunga dalam jasa layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi," jelasnya.
Majelis Komisi menyimpulkan praktik penetapan bunga tersebut merupakan kesepakatan antar pelaku usaha pesaing yang berdampak pada konsumen.
“Dengan demikian seluruh unsur ketentuan Pasal 5 UU Nomor 5 Tahun 1999 terpenuhi," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Rincian Sanksi Berat NH Korindo Terkait Pelanggaran IPO POSA
-
Denda dan Larangan Seumur Hidup: Sanksi OJK untuk Saham POSA dan Benny Tjokrosaputro
-
OJK Jatuhkan Denda Rp5,6 Miliar dalam Kasus IPO POSA, Benny Tjokro Disanksi Seumur Hidup
-
OJK Bakal Rombak Aturan Papan Pemantauan Khusus, Sinyal Positif bagi Investor?
-
Paripurna DPR Setujui 5 Pimpinan OJK Priode 2026 - 2031
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Strategi Investasi Usai Rebalancing MSCI: Saatnya Wait and See atau Borong Blue Chip?
-
Baru IPO! 95,82 Persen Saham WBSA Ternyata Dikuasai Beberapa Pihak, Bakal Jadi Sorotan MSCI?
-
Nilai Tukar Rupiah Menguat Jelang Long Weekend, Ini Penyebabnya
-
Purbaya Temui Bahlil Siapkan Swasembada Energi dan Listrik Desa
-
Krisis LPG di NTT, Sejumlah SPPG Hentikan Operasi Sementara
-
Kemendag Bakal Wajibkan Marketplace Transparan soal Biaya Admin Seller
-
Sejumlah SPBU Vivo di Jabodetabek Tutup, Netizen Heboh Keluhkan Isu Pembatasan Kuota
-
Cara Membersihkan Nama di SLIK OJK, Ini Panduannya agar Pengajuan Pinjaman Disetujui
-
BI Buka Suara Menkeu Purbaya Mau Turun Tangan Stabilkan Rupiah
-
Pertamina Goes to Campus 2026 Siap Jelajahi Kampus di Indonesia