- Blokade Selat Hormuz oleh Iran sejak Februari 2026 mengganggu 20 persen pasokan energi dunia serta menahan 2.000 kapal.
- Pemulihan rantai pasok global pasca-konflik diprediksi memakan waktu berbulan-bulan akibat penumpukan barang dan kerusakan infrastruktur pelabuhan utama.
- Pelaku industri logistik kini beralih ke rute alternatif guna memitigasi risiko keamanan dan ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut.
Suara.com - Penutupan efektif Selat Hormuz telah memutus aliran energi vital yang selama ini menopang perekonomian dunia. Meski jalur tersebut dibuka kembali dalam waktu dekat, para ahli perdagangan dan pelayaran memperingatkan bahwa pemulihan rantai pasok global tidak akan terjadi seketika, melainkan akan memakan waktu yang sangat lama.
Para pelaku industri logistik menegaskan bahwa berakhirnya konflik militer tidak secara otomatis menyelesaikan kemacetan distribusi barang di pelabuhan-pelabuhan utama kawasan teluk.
"Ketika perang resmi berakhir dan pengeboman dihentikan, bukan berarti perang bagi sektor logistik juga selesai. Justru pada titik itulah pekerjaan yang sebenarnya dimulai," ujar Nils Haupt, Direktur Senior Komunikasi Korporat di perusahaan pelayaran raksasa asal Jerman, Hapag-Lloyd, dikutip dari Aljazeera.
Haupt memprediksi ratusan kapal akan langsung berebut masuk ke pelabuhan utama di kawasan Teluk Persia begitu jalur dibuka.
Menurutnya, tumpukan kontainer yang masuk ke wilayah tersebut akan memicu gangguan rantai pasok dari dan menuju kawasan tersebut dalam durasi yang cukup lama.
Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (IMO), saat ini terdapat sekitar 2.000 kapal yang tertahan di kawasan tersebut akibat blokade parsial Iran.
Otoritas Teheran dilaporkan hanya mengizinkan lewatnya kapal-kapal dari negara yang dianggap memiliki hubungan baik.
Dari jumlah tersebut, sekitar 400 unit kapal berada di Teluk Oman. Data dari perusahaan intelijen maritim, Windward, menunjukkan bahwa banyak perusahaan pelayaran saat ini tengah menahan posisi demi bersiap ketika selat resmi dibuka kembali.
Kondisi ini memaksa ratusan kapal lainnya beralih ke Terusan Suez atau mengambil rute yang jauh lebih panjang melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk mencapai Asia dan Eropa.
Baca Juga: Bahlil: RI Dapat Pasokan Minyak Baru Pengganti Timur Tengah
Bahkan, pengiriman minyak dari Arab Saudi kini harus dialihkan melalui Laut Merah guna menghindari titik api di selat tersebut.
Svein Ringbakken, Direktur Pelaksana Asosiasi Risiko Perang Bersama Pemilik Kapal Norwegia, menilai tumpukan muatan minyak, gas, dan barang lainnya akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibereskan.
"Jawaban singkatnya adalah diperlukan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan rantai pasok pelayaran ke kondisi normal karena adanya tumpukan barang yang sangat besar," ungkap Ringbakken.
Ia menambahkan bahwa banyak lini produksi terpaksa berhenti karena keterbatasan kapasitas penyimpanan di pelabuhan. Selain itu, kerusakan parah pada infrastruktur produksi dan pelabuhan akibat serangan militer semakin memperburuk efisiensi saat jalur tersebut nantinya dibuka kembali.
Blokade yang diluncurkan Iran sebagai balasan atas serangan AS-Israel sejak akhir Februari 2026 ini telah mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Hal ini memicu lonjakan harga energi global secara drastis serta menghentikan ekspor bahan kimia, pupuk, dan bahan baku plastik.
Berita Terkait
-
Baru Mendarat, Pasukan Elit Amerika untuk Serang Iran Mau Ditarik Lagi
-
Tak Dipindah, Presiden FIFA Sebut Iran Tetap Berlaga di Amerika Serikat pada Piala Dunia 2026
-
Bursa Saham Asia Kompak di Zona Hijau saat AS Klaim Serang Militer Iran
-
Ambisi Perang AS-Zionis Bikin Rakyat Israel Sengsara, Muncul Seruan Gulingkan Netanyahu
-
Efek Perang Iran: Tak Hanya BBM, Harga HP di Indonesia Terancam Naik!
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
-
Tsunami Terjadi di Halmahera Barat dan Bitung, Begini Ketinggiannya
-
Mencekam! SPBE di Cimuning Bekasi Terbakar Hebat, Langit Malam Berubah Merah
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
Terkini
-
Harga Tembaga dan Emas Terkoreksi, Tekan Kinerja Ekspor Tambang Awal April 2026
-
Pasar Semen Lesu, Laba Indocement Justru Melompat 12 Persen di 2025
-
Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Level Rp16.983
-
Update Harga Pangan, Cabai Rawit 'Gila-gilaan', Beras dan Minyak Ikut Kompak Naik
-
Warga Belanja di Korsel Bisa Bayar lewat QRIS
-
Indonesia Siap Beli Pesawat Tempur KAAN Turki dengan Pinjaman Luar Negeri
-
Laba Bersih Jamkrindo Syariah Meroket 160 Persen, Tembus Rp141,03 Miliar pada 2025
-
Emiten DVLA dan Astra Garap Pasar Alkes Berbasis AI
-
Harga Emas di Pegadaian Naik Signifikan Hari Ini, Kembali ke Rp 3 Jutaan
-
Kunjungan Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan Diklaim Sukses Dongkrak Kepercayaan Investor