Suara.com - Industri plastik domestik tengah menghadapi tekanan berat menyusul lonjakan harga yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Fenomena ini memicu kekhawatiran luas, mulai dari pelaku industri manufaktur, pedagang pasar, hingga konsumen akhir, lantaran kenaikannya mulai merembet pada harga pangan kemasan.
Faktor utama yang memengaruhi gejolak ini berakar pada tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik, khususnya naphta, yang sangat rentan terhadap stabilitas geopolitik global.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran, menjadi faktor tunggal penyebab tersendatnya rantai pasok. Pasalnya, kawasan tersebut merupakan sumber utama bagi 60 persen kebutuhan naphta Indonesia.
"Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah naphta. Naphta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah," ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor KSP, Istana, Jakarta.
Gangguan distribusi ini tidak hanya memukul Indonesia. Sejumlah produsen besar di Singapura, China, Korea Selatan, hingga Thailand dilaporkan mengalami kondisi force majeure, yang menyebabkan suplai plastik global menjadi tidak stabil dan mendorong harga ke level tertinggi.
Dampak Riil: Harga di Pasar Naik hingga 50 Persen
Di tingkat retail, dampak kenaikan ini sudah terasa sejak bulan Ramadan. Silvia, seorang pedagang plastik di Jakarta Selatan, menyebutkan bahwa harga produk plastik kini telah melonjak hingga 50 persen.
Kenaikan ini bersifat menyeluruh, mencakup kantong plastik, gelas, piring, hingga wadah makanan (thinwall). Sebagai gambaran, plastik kiloan yang semula dijual seharga Rp10.000, kini harus ditebus konsumen dengan harga Rp15.000 hingga Rp17.000.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Harga BBM Tidak Naik
Kondisi ini menciptakan efek domino; para penjual makanan mulai menyesuaikan harga jual produk mereka karena biaya kemasan yang membengkak. Hal ini menunjukkan betapa vitalnya peran plastik dalam struktur biaya konsumsi masyarakat.
Pemerintah tengah mengupayakan langkah strategis dengan mencari alternatif sumber pasokan di luar Timur Tengah. Negara-negara seperti India, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Afrika kini menjadi target diversifikasi impor.
Namun, Mendag Budi Santoso menekankan bahwa proses perpindahan sumber pasokan ini tidak bisa terjadi secara instan. Terdapat penyesuaian besar yang harus dilakukan terkait logistik, biaya angkut, hingga sinkronisasi spesifikasi bahan baku dengan mesin produksi di dalam negeri.
"Memang ini butuh waktu, karena harus pindah dari Timur Tengah ke negara lain," jelas Budi.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi struktur industri nasional. Ketergantungan yang terlampau tinggi pada satu kawasan (Timur Tengah) untuk bahan baku vital seperti naphta menempatkan ekonomi Indonesia pada risiko besar saat terjadi gejolak global.
Para pengamat industri menilai, selain diversifikasi negara impor, Indonesia perlu memperkuat kapasitas produksi bahan baku plastik di dalam negeri.
Berita Terkait
-
Berburu Minyak Dunia: Mengapa Cadangan 'Jumbo' Kita Masih Terkubur?
-
Mengenal Nafta Minyak Bumi, Biang Kerok Harga Plastik Naik Drastis
-
Apa itu Nafta? Bahan Baku Ini Buat Harga Plastik Melonjak Saat Perang
-
Penyebab Iran Tak Jalin Kerjasama Kilang Minyak dengan Indonesia Meski Kaya SDA
-
Harga BBM Terancam Naik, Ekonom Minta Pemerintah Gaungkan Kembali Insentif EV
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
94.294 Nomor Kontak Diblokir, Dana Penipuan Hampir Rp600 Miliar
-
Harga Minyak Brent Tembus 111 Dolar AS, Iran Syaratkan Ganti Rugi Perang
-
Harga Emas Antam Ambruk Rp26 Ribu
-
Dolar AS Naik, Rupiah Makin Anjlok ke Level Rp17.006
-
Gempur Judi Online, OJK Blokir 33.252 Rekening Bank
-
Emas Antam Lagi Murah Dibanderol Rp2,83 Juta/Gram
-
2 BUMN Ini Kolaborasi Tingkatkan Kualitas Hunian Masyarakat
-
Harga Minyak Mendidih! Tembus 110 Dolar AS per Barel saat Perang Memanas
-
IHSG Ambruk di Senin Pagi, Bergerak ke Level 6.900
-
Harga Emas Bergejolak, Bank Mega Syariah Siapkan Strategi Ini