- Ketua Banggar DPR RI mengusulkan verifikasi biometrik sidik jari atau retina untuk pendistribusian gas LPG 3 kilogram.
- Langkah tersebut bertujuan memastikan subsidi energi tepat sasaran kepada 5,4 juta masyarakat yang memang berhak menerima.
- Penerapan teknologi digital ini diharapkan dapat mencegah manipulasi data serta efisiensi anggaran subsidi pemerintah tahun 2026 mendatang.
Suara.com - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI melontarkan usulan baru terkait mekanisme pendistribusian Liquefied Petroleum Gas (LPG) tabung 3 kilogram atau yang sering disebut sebagai "gas melon".
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mengusulkan agar proses pembelian gas subsidi tersebut menggunakan verifikasi biometrik berupa pemindaian sidik jari (fingerprint) atau retina mata.
Langkah ini dinilai perlu dilakukan untuk memastikan bahwa subsidi energi yang dialokasikan pemerintah benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak.
Usulan ini muncul di tengah diskusi mengenai efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama terkait beban subsidi energi yang terus membengkak.
Said Abdullah menegaskan bahwa distribusi LPG 3 kg saat ini masih memiliki celah besar sehingga sering kali tidak tepat sasaran.
Dengan mekanisme biometrik, identitas penerima manfaat dapat dikunci secara digital dan sulit untuk dimanipulasi oleh pihak yang tidak berwenang.
"Caranya bukan sekadar semata-mata pemerintah punya data sentral, tapi juga lakukanlah berulang kali saya bolak-balik (usul) dengan sidik jari atau retina mata bagi orang yang berhak untuk mendapatkan tabung LPG 3 kg," ujar Said Abdullah saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (6/4/2026).
Meskipun mengusulkan pengetatan melalui teknologi biometrik, Said Abdullah menyatakan ketidaksetujuannya jika pemerintah mengambil langkah untuk mengurangi besaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menurutnya, fokus utama pemerintah seharusnya bukan memotong angka subsidi bagi rakyat, melainkan memperbaiki data dan metode distribusinya, khususnya pada komoditas LPG 3 kg.
Baca Juga: Simalakama Harga BBM: Menjaga Dompet Rakyat di Tengah Gejolak Selat Hormuz
Ia berpendapat bahwa jumlah masyarakat yang benar-benar layak menerima subsidi LPG 3 kg sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan pagu anggaran yang saat ini ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan perhitungan internal Banggar DPR, hanya sekitar 5,4 juta orang yang masuk kategori berhak jika kriteria "tepat sasaran" diterapkan secara ketat.
Angka ini jauh di bawah kuota yang ada dalam pagu anggaran saat ini yang mencakup sekitar 8,6 juta orang.
"Karena hitungan kami dari 8,6 juta, kalau mau tepat sasaran, targeted, tidak sia-sia menghambur-hamburkan anggaran, LPG 3 kilo, tabung 3 kg itu hanya 5,4 juta. Cukup, dari 8,6 yang ada di pagu," kata Ketua DPP PDIP tersebut.
Said juga menyoroti fluktuasi harga minyak mentah internasional yang memberikan tekanan pada segala aspek ekonomi.
Namun, ia mengingatkan agar beban tersebut tidak lantas dialihkan kepada rakyat melalui pengurangan subsidi energi.
Berita Terkait
-
Gandeng Swasta, Pemerintah Kebut Bangun 1.000 Rumah Murah
-
Bahlil Berpikir Keras Cari Stok LPG
-
Pembangunan Pabrik DME PTBA Butuh 3 Tahun, Pendanaan Masih Menunggu Danantara
-
Harga LPG Tak Naik per April 2026, Pemerintah Jamin Stok Aman
-
Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Sampai Akhir Tahun: Gini-gini Uangnya Banyak!
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Banjir Rendam 40 Titik Palembang, Dua Lansia Sakit Tak Berdaya hingga Dievakuasi dari Rumah Terendam
-
Baru 17 Tahun, Siti Khumaerah Sudah Diterima di 5 Kampus Dunia
-
Sidoarjo Mencekam! Tim Jibom Turun Tangan Selidiki Ledakan Maut di Pabrik Baja Waru
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
Terkini
-
IHSG Anjlok di Bawah Level 7.000, Mampukah Rebound Hari Ini?
-
Ada Harapan Perang AS-Iran Usai, Wall Street Langsung Ngegas
-
Kemnaker: Perusahaan Aktif Sertifikasi Magang, Dapat Reward dan Prioritas Program
-
Pemerintah Hapus Bea Masuk Suku Cadang Pesawat Demi Lindungi Industri Penerbangan
-
Respon Maskapai tentang Kebijakan Baru Soal Avtur
-
OJK Mitigasi Risiko Jelang Keputusan Bobot Indeks MSCI
-
Pemerintah Jaga Harga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau Meski Harga Avtur Melambung
-
Bahlil Berpikir Keras Cari Stok LPG
-
Emiten PPRE Raih Kontrak Proyek Infrastruktur Penunjang Hilirisasi Nikel
-
Penerimaan Pajak Naik 20,7 Persen di QI 2026, Purbaya: Ekonomi Alami Perbaikan