- Anggaran subsidi BBM 2026 bengkak Rp 100 T demi jaga harga tak naik saat minyak dunia 110 USD.
- Pemerintah andalkan kebijakan WFH dan Biodiesel B50 untuk hemat anggaran hingga Rp 54,2 T.
- Pengamat nilai pembatasan BBM subsidi bagi mobil pribadi lebih efektif hemat Rp 120 T per tahun.
Suara.com - Pemerintah baru saja mengetuk palu keputusan yang cukup berisiko bagi kesehatan fiskal kita. Harga BBM subsidi resmi tidak naik per 1 April 2026.
Keputusan ini, meski menjadi oase di tengah teriknya inflasi bagi masyarakat bawah, membawa konsekuensi angka yang tidak main-main bagi kas negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus kembali "menelan" beban tambahan sebesar Rp 90 triliun hingga Rp 100 triliun. Angka ini murni hanya untuk subsidi energi, belum menghitung biaya kompensasi yang angkanya masih disimpan rapat di laci kementerian.
Mengapa Anggaran Kita Membengkak?
Penyebab utamanya bukan di Jakarta, melainkan ribuan kilometer di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara AS-Israel melawan Iran telah mencekik pasokan minyak dunia. Hasilnya? Harga minyak mentah melonjak ke angka psikologis 110 USD per barel.
Bagi Indonesia sebagai net importer minyak, kenaikan ini adalah pukulan ganda:
- Harga Beli Melambung: Kita membeli minyak dengan harga pasar global yang mahal.
- Harga Jual Tetap: Kita menjualnya ke rakyat dengan harga murah (subsidi).
Selisih inilah yang harus ditutup oleh negara. Dalam APBN 2026, awalnya kita hanya mengalokasikan Rp 210,1 triliun. Dengan tambahan dari Purbaya, beban subsidi energi kita bisa menembus angka fantastis di atas Rp 300 triliun.
Strategi Bertahan: Dari WFH hingga B50
Pemerintah menyadari bahwa sekadar menambah anggaran tanpa langkah efisiensi adalah tindakan bunuh diri fiskal. Ada dua strategi "pemadam kebakaran" yang disiapkan oleh pihkanya.
Baca Juga: Update Harga BBM Pertamina dan Swasta April 2026 di Berbagai Daerah di Indonesia
Pertama, kebijakan bekerja dari rumah (WFH) bagi ASN dan swasta kembali digulirkan. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksi langkah ini bisa menghemat APBN sebesar Rp 6,2 triliun karena berkurangnya mobilitas.
Kedua, mulai 1 Juli 2026, implementasi biodiesel B50 dipercepat. Dengan mencampur 50% minyak sawit ke dalam solar, Airlangga berharap bisa memangkas impor solar dan menghemat anggaran hingga Rp 48 triliun dalam enam bulan.
Kritik: Antara Wacana dan Keberanian Membatasi
Namun, pengamat ekonomi energi dari UGM, Fahmy Radhi, melihat pemerintah masih "main aman". Menurutnya, kebijakan seperti WFH dan konversi listrik adalah solusi jangka panjang yang tidak menggigit untuk kondisi darurat saat ini.
Fahmy menawarkan solusi yang selama ini menjadi "hantu" politik bagi setiap rezim yakni melakukan pembatasan BBM Bersubsidi.
Logikanya sederhana menurut dia, jika mobil pribadi dilarang mengonsumsi BBM subsidi dan hanya diperuntukkan bagi motor serta angkutan logistik, negara bisa hemat Rp 120 triliun. Sayangnya, urusan teknis seperti sistem barcode yang bocor dan ketegasan di lapangan masih menjadi ganjalan utama.
Pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo lalu, lanjut dia, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi hanya berupa wacana yang tidak pernah diterapkan hingga saat ini.
Menurut Fahmy, salah satu tantangan penerapan kebijakan itu terletak pada mekanismenya.
"Pertamina pernah uji coba penggunaan MyPertamina tetapi gagal. Saat ini digunakan barcode untuk membatasi pembelian BBM subsidi, namun banyak kendaraan pribadi yang mendapatkan barcode dengan mudah," jelas dia.
Oleh karenanya, ia mengusulkan penggunaan mekanisme sederhana dengan menetapkan kendaraan yang diperbolehkan menggunakan BBM subsidi. Kendaraan yang dimaksud antara lain sepeda motor, angkutan orang, dan kendaraan angkutan barang kebutuhan pokok. Sementara itu, mobil pribadi harus beralih dari penggunaan BBM subsidi ke BBM non-subsidi.
Kesimpulan
Saat ini, pemerintah memilih jalur "populis" dengan menjaga daya beli. Namun, dengan minyak dunia yang betah di angka 110 USD, ketahanan APBN kita sedang diuji hingga batas maksimal. Tanpa pembatasan yang tepat sasaran, tambahan Rp 100 triliun ini mungkin hanyalah awal dari lubang anggaran yang lebih dalam.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Laba Medco Ambles 72 Persen, Beban Utang Membengkak di Tengah Merosotnya Harga Komoditas
-
Motor Ekonomi Baru, Kampung Nelayan Bisa Produksi hingga 2,15 Juta Ton Ikan per Tahun
-
Harga CPO Melonjak, Harga Kakao Anjlok Tajam
-
BPJS Ketenagakerjaan Ajak Pekerja Manfaatkan Keringanan Iuran 50 Persen JKK dan JKM
-
Perbankan Berbondong-bondong Beri Kredit Triliunan Rupiah ke Program MBG
-
Trump akan Lanjutkan Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas 100 Dolar AS
-
Ribuan PPPK Terancam Diberhentikan, Regulasi Alokasi APBD Jadi Penyebab?
-
Harga Tembaga dan Emas Terkoreksi, Tekan Kinerja Ekspor Tambang Awal April 2026
-
Pasar Semen Lesu, Laba Indocement Justru Melompat 12 Persen di 2025
-
Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Level Rp16.983