- Nilai tukar rupiah menguat 93 poin menjadi Rp17.012 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 8 April 2026.
- Tekanan rupiah disebabkan dinamika global dan suku bunga Amerika Serikat, bukan karena rapuhnya fundamental ekonomi domestik Indonesia.
- Penguatan dolar AS justru menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekspor serta memperkuat industri domestik.
Suara.com - Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto mengatakan pergerakan rupiah saat ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dan bahwa justru di saat yang ada peluang bagi pelaku usaha di Indonesia.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (8/4/2026) menguat 93 poin atau 0,54 persen menjadi Rp17.012 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS.
David menilai rupiah masih tertekan tidak mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi Indonesia. Tekanan yang terjadi lebih merupakan bagian dari dinamika global yang tengah bergejolak, mulai dari penguatan dolar AS hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Menurutnya, penguatan dolar AS terjadi secara menyeluruh terhadap berbagai mata uang dunia, khususnya di negara berkembang, seiring tingginya suku bunga di Amerika Serikat dan meningkatnya kecenderungan investor global mencari aset aman.
“Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal. Ini bukan semata persoalan domestik, melainkan bagian dari penyesuaian global,” kata David.
Ekonomi Tumbuh Solid
David menekankan bahwa di tengah tekanan tersebut, kondisi ekonomi Indonesia tetap berada dalam jalur yang solid. Pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen, inflasi terkendali dalam target Bank Indonesia, serta sektor perbankan menunjukkan ketahanan yang kuat dengan permodalan dan likuiditas yang memadai.
Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia juga masih berada di level yang sehat, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor. Dalam laporan Bank Indonesia, cadangan devisa RI pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar USD 148,2 miliar.
"Selain itu, neraca perdagangan yang masih mencatat surplus menjadi penopang penting, didorong oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan nikel," tambah David.
Baca Juga: Rupiah Babak Belur ke Rp17.100, BI Siapkan Instrumen Operasi Moneter
Pandangan senada disampaikan Ekonom Fakhrul Fulvian. Ia melihat pelemahan rupiah saat ini telah memasuki fase overshooting, yakni kondisi ketika nilai tukar bergerak melampaui titik keseimbangan jangka pendek akibat respons berlebihan pasar terhadap tekanan global.
“Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen,” jelasnya.
Fakhrul menambahkan, salah satu faktor yang mendorong fenomena ini adalah tertundanya penyesuaian harga domestik, terutama pada komponen yang diatur pemerintah. Dalam kondisi tersebut, nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat menyesuaikan.
Meski demikian, ia menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sudah tepat. Intervensi di pasar, baik melalui spot maupun instrumen derivatif, dinilai penting untuk meredam volatilitas dan menjaga kepercayaan pasar, meski tidak serta-merta menghilangkan tekanan secara instan.
Ada Peluang
Di balik tekanan yang terjadi, pelemahan rupiah justru membuka peluang strategis bagi perekonomian nasional. David melihat kondisi ini dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global, sekaligus mendorong perbaikan neraca transaksi berjalan.
Berita Terkait
-
Rupiah 'Pura-pura' Kuat di Level Rp17.000, Cadangan Devisa yang Keropos Jadi Ancaman Nyata
-
Kronologi Kurs Rupiah Kembali ke Level Rp16.900 Setelah Sempat Tembus Rp17.100
-
Dikuras untuk Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Menciut ke Titik Terendah
-
Sejarah Kelam Rp17.100 per Dolar AS: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Kas APBN Kita?
-
Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.999
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Pemerintah Mau Bangun Tol Gilimanuk-Mengwi, Butuh Duit Rp12,7 Triliun
-
Purbaya Tak Masalah Jika Gaji Menteri Dipotong, Perkirakan Sampai 25%
-
IHSG Akhirnya Perkasa Naik 4 Persen, Ini Pemicunya
-
Purbaya Baru Tahu Ada Pengadaan Motor Listrik MBG, Sebut dari Anggaran Tahun Lalu
-
Kolaborasi Pemerintah & Industri Jadi Kunci Peluang Kerja Tetap Terbuka di Tengah Tantangan Global
-
Jumlah Turis Empat Kali Lipat dari Penduduk, Gubernur Koster Sebut Orang Bali Makin Terpinggirkan
-
Purbaya soal Marak Joki Coretax: Desain Agak Cacat, Sulit Dipakai Orang Biasa
-
Rupiah 'Pura-pura' Kuat di Level Rp17.000, Cadangan Devisa yang Keropos Jadi Ancaman Nyata
-
BRI Salurkan KUR Rp31,42 Triliun, Dorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan
-
Lawan Serbuan Impor, Latinusa (NIKL) Genjot Efisiensi dan Daya Saing di 2026