- Pemerintah mendorong penggunaan BBM dan LPG secara bijak serta mengalihkan sumber impor dari Timur Tengah ke kawasan lain seperti Amerika, Afrika, dan Asia untuk mengurangi risiko pasokan.
- KKKS diminta mengutamakan minyak mentah domestik untuk diolah di kilang dalam negeri, bukan diekspor, guna menjaga ketersediaan energi nasional.
- Pemerintah menggenjot produksi LPG melalui optimalisasi kilang serta mengalihkan pasokan dari industri ke LPG 3 kg agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan lima langkah mitigasi guna menghadapi ancaman krisis energi dampak dari situasi di Timur Tengah.
Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran berdampak terhadap jalur distribusi minyak dan gas global, karena penutupan Selat Hormuz.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, mengungkap mitigasi pertama yakni mengatur konsumsi BBM dan LPG secara wajar dan bijak.
"Surat pengaturan terkait dengan pengaturan ini sudah diterbitkan oleh Ditjen Migas dan BPH Migas," ujar Rizwi saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Rabu (8/4/2026).
Kemudian kedua, yakni mengalihkan impor BBM dan LPG yang sebelumnya dari negara-negara di Timur Tengah ke negara di luar kawasan tersebut.
"Menjadi ke negara-negara lain seperti Amerika, Afrika, Asia, dan negara-negara di ASEAN," jelasnya.
Ketiga, meminta kepada seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mengutamakan kebutuhan minyak mentah dalam negeri dibanding dengan ekspor.
"Artinya crude yang diproduksi dalam negeri diupayakan untuk seluruhnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk kilang minyak di dalam negeri," papar Rizwi.
Setelah itu keempat, mengoptimalkan kilang-kilang dalam negeri, termasuk RDMP Balikpapan. Strategi yang dilakukan adalah mengalihkan penggunaan bahan baku naft yang sebelumnya digunakan untuk memproduksi polipropilena dengan nilai jual lebih tinggi untuk memperkaya produksi LPG nasional.
Baca Juga: Prabowo Beri Bahlil 1 Minggu untuk Evaluasi Tambang Ilegal
Terakhir kelima, secara aktif mencari pasokan LPG tambahan, baik dari impor maupun produksi domestik, dengan memperluas sumber pengadaan ke negara-negara di Asia dan ASEAN. Selain itu, pemerintah berupaya mengalihkan alokasi LPG industri untuk memenuhi kebutuhan LPG 3 kg bagi masyarakat.
"LPG yang selama ini dijual ke industri juga diupayakan untuk dialihkan untuk kebutuhan LPG 3 kg yang dimana kebutuhan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat," pungkas Rizwi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?
-
OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja
-
Harga Minyak DIproyeksi Bergejolak dalam 60 Hari ke Depan Usai Sanksi Iran Dicabut
-
Bantah Krisis 1998 Terulang, Purbaya: Saya Pinteran Dikit dari IMF
-
NCKL Siapkan Rp1 Triliun untuk Buyback Saham, Cek Jadwalnya
-
Kapan IHSG Kembali Dibuka Setelah Iduladha 2026, Ini Jadwalnya
-
PHE dan Mitra Global Perkuat Kerja Sama Pengembangan Proyek CCS Lintas Batas IndonesiaKorsel
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
Ekonom: Rupiah Telah Melemah Lebih dari 5%
-
Carbon Trading Dinilai Jadi Senjata Baru Tekan Emisi di Indonesia