Bisnis / Energi
Kamis, 09 April 2026 | 06:04 WIB
Presiden Prabowo Subianto mengatakan krisis yang tengah dihadapi dunia akibat perang di Timur Tengah menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan. (Suara.com/Novian Ardiansyah)
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo memanfaatkan krisis global di Timur Tengah untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan demi menjaga ketahanan nasional Indonesia.
  • Pemerintah mendorong swasembada melalui produksi bahan bakar nabati dari singkong, jagung, serta batu bara untuk mengurangi ketergantungan impor BBM.
  • Indonesia diprediksi akan memiliki ketahanan energi yang sangat kuat dalam dua belas bulan ke depan melalui transformasi sistem energi.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto mengatakan krisis yang tengah dihadapi dunia akibat perang di Timur Tengah menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan demi ketahanan nasional.

“Krisis dunia ini bagi saya adalah peluang untuk mempercepat langkah kita. Ini membuat kita lebih fokus. Berarti strategi kita sudah benar, tetapi kita harus mempercepat bahwa energi kita harus terbarukan,” ujar Prabowo dalam taklimatnya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4).

Prabowo juga mendorong swasembada energi dengan mengembangkan bahan bakar nabati (biofuel) dari singkong dan jagung sebagai alternatif pengganti solar dan bensin. Langkah ini bertujuan mengurangi impor BBM dengan memanfaatkan kekayaan alam dalam negeri.

“Dan kita bisa dari batu bara, kita bisa menghasilkan solar dan bensin dari batu bara, dari singkong, dari jagung,” ucapnya.

Prabowo mengatakan Indonesia memiliki fondasi ekonomi dan ketahanan energi yang kuat untuk menghadapi krisis global. Menurutnya, Indonesia relatif aman dari dampak langsung gangguan pasokan energi global karena memiliki sumber energi mandiri.

“Ternyata setelah mengkaji, kita punya kekuatan ekonomi yang cukup kuat,” ungkapnya.

“Karena sumber-sumber minyak dan gas kita tidak terlalu banyak yang lewat Selat Hormuz. Kita bisa menjadi alternatif lain,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Prabowo memprediksi krisis yang dihadapi dunia tidak akan berlangsung lama. Ia berharap transformasi sistem energi terbarukan dapat diimplementasikan lebih cepat dalam waktu singkat.

“Yang saya anggap jangka pendek, yang saya anggap kritis ini 12 bulan ke depan. Sesudah 12 bulan, kita akan menjadi sangat kuat,” pungkasnya.

Baca Juga: Work From Home, Krisis Energi, dan Mimpi Besar Swasembada yang Belum Tuntas

Load More