- Menlu Singapura Vivian Balakrishnan menyatakan Selat Malaka lebih strategis dibandingkan Selat Hormuz saat menegaskan tak akan bernegosiasi dengan Iran.
- Politikus Malaysia Nurul Izzah Anwar menuding pernyataan Balakrishnan tidak netral dan mengabaikan pendekatan diplomasi dalam konflik Timur Tengah.
- Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (8/4/2026) menekankan posisi strategis Indonesia dalam mengendalikan selat-selat penting di tengah ketegangan global.
Hak tersebut, kata Balakrisnan, diatur dalam hukum internasional yakni United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang mengatur bahwa semua kapal boleh melintasi semua selat internasional dengan damai. Aturan ini juga berlaku untuk kapal dari negara yang bahkan tidak meneken UNCLOS.
Hak melintas tersebut, lanjut Balakrisnan, juga berlaku di selat internasional lain termasuk Selat Malaka. Ia mengingatkan, dibandingkan Selat Hormuz jalur Selat Malaka jauh lebih strategis karena dilewati lebih banyak kapal dengan beragam muatan yang diangkut.
"Ingat, Singapura faktanya adalah salah satu choke point penting di dunia," kata Balakrisnan.
Ia membeberkan bahwa jumlah minyak mentah dan minyak olahan yang melewati Selat Malaka jauh lebih besar dibandingkan dengan di Selat Hormuz. Selain itu jumlah kapal kontainer yang melewati Selat Malaka juga jauh melebihi di Selat Hormuz.
"Dan yang terpenting, secara geografis banyak orang tidak sadar. Titik tersempit di Selat Hormuz adalah 21 mil laut. Coba tebak, seberapa lebar titik tersempit di Selat Malaka? Kurang dari 2 mil laut," lanjut Balakrisnan mengacu pada jalur antara Singapura dan Kepulauan Riau.
"Jadi Anda semua kini paham mengapa kita harus mengambil posisi tegas. Bahwa hukum internasional dan UNCLOS adalah konstitusi di lautan. Bahwa untuk melintas adalah hak, bukan pemberian dan ini sangat penting bagi Singapura," tutup dia.
Penegasan ini disampaikan Singapura ketika Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama 12 hari. Selama masa gencatan senjata itu, perwakilan AS dan Iran akan berunding di Pakistan.
Di saat yang sama, Iran mengatakan akan membuka kembali Selat Hormuz yang selama perang ditutup. Meski demikian setiap kapal yang hendak lewat diminta untuk berkoordinasi dengan Teheran. Ini memicu spekulasi bahwa Iran masih menarik ongkos dari setiap kapal yang melintas di perairan tersebut.
Prabowo Sebut Selat Malaka saat Bahas Konflik Timur Tengah
Baca Juga: AS - Israel Khianati Perjanjian dengan Bom Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
Ketika adu mulut terjadi di jiran kita, Presiden Prabowo di hadapan para menterinya Rabu (8/4/2026) berpidato untuk mengingatkan bahwa posisi Indonesia sangat strategis dalam peta geopolitik dan ekonomi global. Ia secara khusus menyoroti soal selat-selat strategis, termasuk Selat Malaka.
Menurut Prabowo, penutupan Selat Hormuz menjadi pelajaran penting bagi Indonesia mengenai arti strategis jalur laut dunia. Penutupan jalur energi global tersebut berlangsung memicu kepanikan besar pasar internasional dan lonjakan harga minyak dunia.
"Sadarkah kita bahwa 70 persen kebutuhan energinya Asia Timur dan 70 persen perdagangan lewat laut-laut Indonesia? Sadarkah kita bahwa Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar dan sebagainya itu laut Indonesia? Sadarkah kita betapa pentingnya Indonesia?" ujar Prabowo.
Presiden menegaskan faktor geografis tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan posisi tawar tinggi sekaligus pusat perhatian dunia. Karena itu, pengelolaan negara harus dilakukan secara kuat, tepat, dan andal.
Selain letak strategis, Prabowo juga menyoroti kekayaan sumber daya alam Indonesia yang dinilai mampu menjadikan negara ini kuat dan makmur apabila dikelola secara optimal.
Ia menambahkan, banyak bangsa asing yang ingin menguasai Indonesia, mengeruk kekayaan Indonesia dengan cara mengadu domba. Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan nasional serta mempercepat agenda kemandirian, khususnya di sektor pangan dan energi.
Tag
Berita Terkait
-
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Kapal Tanker Terpaksa Putar Balik di Oman
-
Panas! Donald Trump Minta 'Jatah Preman' di Selat Hormuz, Inggris Marah Besar
-
Selat Malaka Milik Siapa? Bikin Singapura Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz
-
Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?
-
Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari
-
AVIA Bagikan Dividen Jumbo Rp1,36 Triliun, Segini Jatah untuk Pemegang Saham