- Pengamat pertanian Khudori menyatakan kebijakan HET sulit diterapkan karena tingginya harga gabah di tingkat hulu petani saat ini.
- Pelaku usaha kesulitan beroperasi sehingga distribusi beras antarwilayah menjadi terhambat dan pasokan pasar tidak lagi optimal.
- Keterbatasan kapasitas Perum Bulog menyebabkan pemerintah belum mampu menggantikan peran distribusi beras yang selama ini dilakukan swasta.
Suara.com - Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) dinilai semakin sulit diterapkan di lapangan seiring tingginya harga gabah. Kondisi ini membuat pelaku usaha, baik pedagang maupun penggilingan, kesulitan menjual beras sesuai harga yang ditetapkan pemerintah.
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori menilai, tekanan biaya di tingkat hulu berdampak langsung pada rantai distribusi hingga ke konsumen.
“Dari kalkulasi sederhana dihasilkan bahwa amat sulit bagi pedagang dan penggilingan bisa menjual beras sesuai HET dengan harga gabah yang ada,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha tidak mampu bertahan di pasar, sehingga distribusi beras ikut terganggu.
“Ini, di satu sisi membuat sejumlah pelaku usaha terlempar dari pasar,” kata Khudori.
Selain itu, tingginya harga gabah juga mengurangi insentif bagi pelaku usaha untuk menyimpan stok beras antarmusim maupun melakukan distribusi antarwilayah.
“Di sisi lain, perdagangan antarwilayah macet karena insentif menguasai stok antarmusim tergerus,” ujarnya.
Akibatnya, aliran pasokan beras menjadi tidak optimal, terutama ke wilayah yang membutuhkan distribusi dari daerah surplus.
Dalam kondisi tersebut, peran pemerintah melalui Perum Bulog menjadi semakin penting untuk menjaga ketersediaan di pasar.
Baca Juga: Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
Namun Khudori menilai, kapasitas Bulog tetap memiliki keterbatasan dalam menggantikan peran pelaku usaha secara keseluruhan.
“Dalam kondisi seperti ini, pasokan dan penetrasi beras ke pasar akan lebih banyak mengandalkan BULOG,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menyebut meskipun Bulog memiliki stok besar, jumlah tersebut tidak cukup untuk menggantikan peran distribusi yang selama ini dilakukan oleh sektor swasta.
“Sebesar-besarnya penguasaan beras BULOG, tak mungkin menggantikan swasta,” kata Khudori.
Berita Terkait
-
Siap-siap! Pemerintah Siap Salurkan Bantuan Pangan Buat 33 Juta Orang
-
Bos Bulog Jamin Beras yang Diekspor untuk Jamaah Haji Berkualitas Super Premium
-
Mentan Amran: Impor Beras Amerika untuk Makanan Turis, Bukan Konsumsi Umum
-
Ekspor Beras ke Arab Saudi Berisiko Terganggu Akibat Perang AS dan Israel vs Iran
-
Bulog Mulai Kirim 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi untuk Jamaah Haji
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
Terkini
-
Danantara Bela-belain Bentuk Perusahaan Baru Pantau Proyek Sampah Jadi Listrik
-
Alasan Kemenhub Tak Otak-atik Harga Tiket Pesawat
-
Investasi Emas Tanpa Ribet, Cicil Melalui Super App BRImo dan Dapatkan Bonus Cashback Menarik
-
Tensi Iran-AS Memanas, Harga Minyak Asia Menguat di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata
-
Harga Emas Antam Naik Tipis ke Rp 2.857.000 Juta per Gram
-
Strategi Hery Gunardi Bawa Transformasi BRI Menuju Era Perbankan Modern dan Inklusif
-
Rupiah Mulai Rebound, Dolar AS Masih Betah di Level Rp17.083
-
Ngenes, Generasi Sandwich Diramal Tidak akan Punya Tabungan Pensiun
-
IHSG Dibuka Lari Kencang ke Level 7.346
-
Harga Minyak Dekati Level 100 Dolar: Selat Hormuz Mencekam di Tengah 'Drama' Trump-Iran