- Kemenperin mengimbau industri yang bergantung impor agar gunakan transaksi mata uang lokal untuk mitigasi pelemahan rupiah.
- Pelemahan rupiah menimbulkan tantangan signifikan bagi industri dalam negeri yang masih mengandalkan bahan baku impor.
- Industri berorientasi ekspor didorong memanfaatkan pelemahan rupiah untuk meningkatkan daya saing produk di pasar global.
Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti dampak nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.000 per dolar AS terhadap kinerja industri dalam negeri. Kemenperin mengimbau pelaku usaha untuk mulai menggunakan skema transaksi mata uang lokal guna mengurangi tekanan biaya impor.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan pelemahan rupiah memang menjadi tantangan, khususnya bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor.
“Memang ada tantangan yang akan dihadapi oleh industri, salah satunya itu adalah kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar,” ujar Febri di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah mendorong penggunaan fasilitas Local Currency Transaction (LCT) yang disediakan Bank Indonesia dalam transaksi impor.
“Imbauan kami agar industri menggunakan fasilitas Local Currency Transaction ketika mengimpor bahan baku,” katanya.
Menurut dia, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS serta meminimalkan dampak fluktuasi nilai tukar.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dinilai membuka peluang bagi industri berorientasi ekspor untuk meningkatkan daya saing di pasar global. Produk dalam negeri menjadi relatif lebih kompetitif dibandingkan produk dari negara lain.
“Industri yang berorientasi ekspor kan justru menarik. Ini saatnya untuk meningkatkan daya saing produk manufaktur di pasar global,” ujarnya.
Ia juga mendorong pelaku industri yang selama ini berfokus pada pasar domestik untuk mulai memperluas pasar ekspor dan memanfaatkan momentum pelemahan nilai tukar.
Baca Juga: Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk
“Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan daya saing dan membanjiri rantai pasok global dengan produk-produk industri dalam negeri,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Kemenperin: Industri Kimia dan Petrokimia Mulai Terimbas Konflik Timur Tengah
-
Indeks Kepercayaan Industri Anjlok di Februari, Tapi Masih di Zona Ekspansi
-
Digilas Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar Rupiah Terus Lemas
-
Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.995
-
Rupiah Sudah Sentuh Rp17.000, Sinyal Waspada Buat Indonesia
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
BEI Bakal Berubah, OJK Godok Aturan Demutualisasi, Danantara, BI Bisa Masuk Jadi Pemegang Saham
-
Rincian Perubahan Harga BBM Pertamina Per Hari Ini
-
Harga BBM Turun per 1 Juli 2026: Pertamax Turbo dan Pertamina Dex Lebih Murah
-
QuickPro Apakah Platform Investasi Resmi Berizin di Indonesia? Ini Penjelasannya
-
Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50
-
J Trust Bank (BCIC) Rombak Jajaran Direksi
-
Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan
-
Target Swasembada Garam 2027 Dinilai Sulit Tercapai Tanpa Reformasi Impor
-
BUMN Logistik Baru Mulai Terbentuk, Merger dari 7 Perusahan
-
Vonis Nadiem Makarim Jadi Sorotan Media Internasional: Investor Asing Semakin Tak Percaya