Bisnis / Ekopol
Selasa, 31 Maret 2026 | 09:09 WIB
Logo Bank Indonesia. [Antara]
Baca 10 detik
  • Peletakan rupiah di Rp17.000 per dolar dipicu faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan geopolitik global.
  • Ekonom Bank Permata menegaskan fundamental domestik Indonesia, termasuk pertumbuhan dan cadangan devisa, masih solid.
  • Bank Indonesia memiliki ruang kebijakan memadai untuk menjaga stabilitas, namun harus mengelola *trade-off* kebijakan.

Suara.com - Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS dinilai belum mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal.

“Level Rp17.000 tidak bisa langsung dibaca sebagai cerminan fundamental ekonomi yang melemah. Tekanan terhadap rupiah saat ini lebih didorong oleh penguatan dolar AS, kenaikan yield global, serta eskalasi geopolitik yang menekan hampir seluruh mata uang emerging markets,” jelas Josua saat dihubungi Suara.com, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, dari sisi domestik, indikator makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi, rasio utang, hingga cadangan devisa dinilai tetap berada dalam kondisi terjaga.

Namun demikian, Josua mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi secara dalam dan berkepanjangan berpotensi memengaruhi persepsi investor.

“Jika pelemahan berlangsung persisten, ini bisa mulai berdampak pada persepsi terhadap stabilitas eksternal. Jadi, kondisi saat ini lebih tepat dilihat sebagai sinyal kewaspadaan, bukan indikasi krisis,” katanya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. [Antara]

Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah disebut masih akan sangat bergantung pada dinamika global. Selama tekanan eksternal dan tensi geopolitik belum mereda, volatilitas nilai tukar diperkirakan tetap tinggi dengan kecenderungan melemah.

Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi membuat rupiah sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia. Meski begitu, Josua menilai pelemahan rupiah masih berada dalam koridor yang terkendali.

“Selama fundamental domestik tetap terjaga dan respons kebijakan konsisten, pelemahan ini cenderung bersifat terkendali, bukan depresiasi yang bersifat disorderly,” ujar dia.

Baca Juga: Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk

Lebih lanjut, Josua menilai, Bank Indonesia masih memiliki ruang kebijakan yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Instrumen seperti intervensi valuta asing, pengelolaan likuiditas, hingga suku bunga dinilai masih efektif untuk meredam gejolak.

Cadangan devisa yang kuat juga menjadi bantalan penting dalam menghadapi tekanan pasar. Namun, ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukan pada keterbatasan instrumen kebijakan.

“Isunya bukan pada keterbatasan amunisi, tetapi pada trade-off kebijakan yang harus dikelola. Stabilisasi nilai tukar bisa menimbulkan konsekuensi terhadap likuiditas dan pertumbuhan,” ujarnya.

Menurut Josua, situasi saat ini menjadi ujian bagi efektivitas dan kredibilitas bauran kebijakan Bank Indonesia dalam menghadapi tekanan global yang tinggi, sekaligus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Load More