- Peletakan rupiah di Rp17.000 per dolar dipicu faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan geopolitik global.
- Ekonom Bank Permata menegaskan fundamental domestik Indonesia, termasuk pertumbuhan dan cadangan devisa, masih solid.
- Bank Indonesia memiliki ruang kebijakan memadai untuk menjaga stabilitas, namun harus mengelola *trade-off* kebijakan.
Suara.com - Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS dinilai belum mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal.
“Level Rp17.000 tidak bisa langsung dibaca sebagai cerminan fundamental ekonomi yang melemah. Tekanan terhadap rupiah saat ini lebih didorong oleh penguatan dolar AS, kenaikan yield global, serta eskalasi geopolitik yang menekan hampir seluruh mata uang emerging markets,” jelas Josua saat dihubungi Suara.com, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, dari sisi domestik, indikator makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi, rasio utang, hingga cadangan devisa dinilai tetap berada dalam kondisi terjaga.
Namun demikian, Josua mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi secara dalam dan berkepanjangan berpotensi memengaruhi persepsi investor.
“Jika pelemahan berlangsung persisten, ini bisa mulai berdampak pada persepsi terhadap stabilitas eksternal. Jadi, kondisi saat ini lebih tepat dilihat sebagai sinyal kewaspadaan, bukan indikasi krisis,” katanya.
Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah disebut masih akan sangat bergantung pada dinamika global. Selama tekanan eksternal dan tensi geopolitik belum mereda, volatilitas nilai tukar diperkirakan tetap tinggi dengan kecenderungan melemah.
Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi membuat rupiah sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia. Meski begitu, Josua menilai pelemahan rupiah masih berada dalam koridor yang terkendali.
“Selama fundamental domestik tetap terjaga dan respons kebijakan konsisten, pelemahan ini cenderung bersifat terkendali, bukan depresiasi yang bersifat disorderly,” ujar dia.
Baca Juga: Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk
Lebih lanjut, Josua menilai, Bank Indonesia masih memiliki ruang kebijakan yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Instrumen seperti intervensi valuta asing, pengelolaan likuiditas, hingga suku bunga dinilai masih efektif untuk meredam gejolak.
Cadangan devisa yang kuat juga menjadi bantalan penting dalam menghadapi tekanan pasar. Namun, ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukan pada keterbatasan instrumen kebijakan.
“Isunya bukan pada keterbatasan amunisi, tetapi pada trade-off kebijakan yang harus dikelola. Stabilisasi nilai tukar bisa menimbulkan konsekuensi terhadap likuiditas dan pertumbuhan,” ujarnya.
Menurut Josua, situasi saat ini menjadi ujian bagi efektivitas dan kredibilitas bauran kebijakan Bank Indonesia dalam menghadapi tekanan global yang tinggi, sekaligus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
Berita Terkait
-
Tensi Perang Timur Tengah, Aliran Modal Asing Indonesia Hengkang Tembus Rp18 Triliun
-
BI Batasi Pembelian Tunai Dolar Mulai April, Rupiah Terus Melemah
-
Perang di Timur Tengah, BI Tahan Suku Bunga Biar Rupiah Makin Kuat
-
Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menko Airlangga: Tugas BI Ini!
-
Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.975
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
BRI Apresiasi Penempatan Dana SAL Pemerintah, Fokus Pembiayaan Produktif untuk Akselerasi Ekonomi
-
Dolar AS Diproyeksi Perkasa Ditopang Wall Street, Rupiah Bisa Anjlok Lagi?
-
Trump Mau Pecat Gubernur The Fed, Malah Kena 'Tampar' Mahkamah Agung!
-
Kilang Terbesar Arab Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Mulai Stabil
-
Harga LNG Dipangkas, Mampukah Bendung PHK?
-
Harga Gas untuk Industri Turun, Dasco: Kabar Gembira untuk Buruh
-
Pendaftaran Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Resmi Dibuka, Cek Jadwal dan Rinciannya
-
Pasokan Gas Murah Seret, Kemenperin Minta AGIT Dicabut demi Tak Ada PHK
-
DEN: Rupiah Melemah saat Kepercayaan pada Pemerintah Tergerus
-
Investor Ritel Kini Bisa Punya Analis Saham Berbasis AI