Bisnis / Keuangan
Kamis, 16 April 2026 | 13:03 WIB
Pekerja mengamati layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • IHSG terkoreksi 0,36 persen ke level 7.596 pada penutupan sesi pertama perdagangan akibat aksi ambil untung investor.
  • Pasar domestik cenderung wait and see terhadap konflik Timur Tengah meskipun bursa regional Asia sedang bergerak menguat.
  • IMF merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5 persen akibat dampak perlambatan ekonomi global.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai terkoreksi pada perdagangan hari ini, di mana penutupan sesi I turun 27 poin atau 0,36 persen ke level 7.596.

Mengutip riset Pliarmas Investindo Sekuritas, pelemahan IHSG terjadi saat bursa regional Asia justru bergerak menguat. Sentimen positif datang dari harapan dimulainya kembali negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta rilis data ekonomi Tiongkok yang lebih baik dari perkiraan.

Pasar saat ini menaruh perhatian pada potensi perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran selama dua minggu guna membuka ruang pembicaraan damai. Meski demikian, situasi di Selat Hormuz masih menjadi sorotan karena jalur distribusi energi global itu masih berada dalam kondisi tidak sepenuhnya normal.

Prospek negosiasi damai tersebut turut mendorong penurunan harga minyak ke bawah 100 dolar AS per barel, sehingga membantu meredakan kekhawatiran inflasi global.

Pengunjung melintas dibawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Dari China, data ekonomi juga memberikan sentimen positif. Pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu tercatat sebesar 5 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, meningkat dari 4,5 persen pada kuartal sebelumnya dan sedikit melampaui ekspektasi pasar. Secara kuartalan, ekonomi Tiongkok tumbuh 1,3 persen, sejalan dengan proyeksi.

Meski demikian, dari dalam negeri, pergerakan IHSG cenderung variatif. Pelaku pasar masih memilih sikap wait and see terhadap perkembangan konflik Timur Tengah, mengingat belum adanya jadwal resmi untuk putaran kedua negosiasi AS dan Iran.

Selain itu, aksi profit taking juga membayangi pasar setelah IHSG mencatat reli selama lima hari berturut-turut.

Sentimen lainnya datang dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya 5,1 persen, sebelum kembali naik tipis menjadi 5,1 persen pada 2027.

Sementara secara global, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia melambat ke level 3,1 persen pada 2026 akibat dampak konflik Timur Tengah.

Baca Juga: Menilik Labirin Penarikan Dana Trading: Mengapa Transfer Internasional Tak Pernah Instan?

Trafik Perdagangan

Pada perdagangan Sesi I, sebanyak 24,18 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 10,74 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,64 juta kali.

Dalam perdagangan sesi I, sebanyak 344 saham bergerak naik, sedangkan 340 saham mengalami penurunan, dan 275 saham tidak mengalami pergerakan.

Pada sesi pertama hari ini, saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain DEFI, KRYA, WBSA, SMDM, dan EMDE.

Sementara saham dengan penurunan terdalam di antaranya PSDN, SDMU, ROTI, ASPR, dan SMIL.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Load More