- Nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp17.188 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 17 April 2026.
- Pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh dominasi sentimen negatif domestik dibandingkan faktor eksternal di pasar keuangan.
- Investor kini memantau perkembangan konflik Timur Tengah serta menanti keputusan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren negatif pada penutupan perdagangan sore ini, Jumat (17/4/2026).
Mata uang Garuda tercatat melemah cukup dalam hingga menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah. Padahal indeks dolar AS sendiri tengah berada dalam posisi yang tidak terlalu tangguh.
Berdasarkan, data bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup Rp 17.188. Level ini membuat rupiah melemah 0,29 persen dibandingkan perdagangan Kamis (16/4/2026) di level Rp 17.138.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah kali ini lebih banyak datang dari faktor internal ketimbang eksternal. Menurutnya, sentimen negatif domestik menjadi faktor determinan yang membuat rupiah kehilangan tajinya.
"Rupiah kembali melemah cukup besar dan mencatatkan rekor terlemah sejarah. Sentimen negatif domestik masih menjadi pemicu utama perlemahan rupiah," ujar Lukman saat dihubungi Suara.com.
Kondisi ini terbilang ironis mengingat indeks dolar AS (DXY) sebenarnya sedang bergejolak rendah. Walaupun sempat mengalami rebound tipis, indeks dolar AS masih tertahan di sekitar level terendahnya dalam enam minggu terakhir. Hal ini mengonfirmasi bahwa pelemahan rupiah bukan semata-mata karena keperkasaan greenback, melainkan beban berat dari dalam negeri.
Menatap awal pekan depan, Lukman menilai pergerakan rupiah masih akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah. Jika ada titik terang mengenai perdamaian di kawasan tersebut, hal itu diharapkan mampu memberikan napas buatan bagi rupiah.
"Untuk Senin akan tergantung pada perkembangan seputar Timur Tengah. Hanya apabila ada harapan besar pada perdamaian, hal itu bisa mendukung rupiah. Namun, secara keseluruhan sentimen domestik masih lebih membebani," tambahnya.
Selain faktor geopolitik, para investor kini tengah bersikap wait and see mengantisipasi Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan pada pekan depan. Pasar memprediksi Bank Indonesia akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level saat ini.
Baca Juga: Tertekan Data AS dan Sentimen Domestik, Kurs Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.180
"Investor mengantisipasi RDG BI minggu depan yang hingga saat ini masih diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Keputusan untuk menahan bunga ini dinilai akan semakin membebani posisi rupiah ke depannya," jelasnya.
Sementara kurs Jisdor BI, rupiah ada di level Rp17.189. Hal ini juga terjadi pada mata uang Asia lainnya yang juga melemah.
Di mana, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,33 persen.
Selain itu, ada won Korea Selatan yang ambles 0,17 persen dan dolar Taiwan yang ditutup tertekan 0,13 persen. Disusul, peso Filipina yang ditutup turun 0,1 persen
Berikutnya, ringgit Malaysia terkoreksi 0,08 persen. Lalu, yen Jepang dan yuan China sama-sama tergelincir 0,07 persen.
Kemudian, dolar Hong Kong yang turun 0,05 persen serta dolar Singapura yang bergerak tipis dengan kecenderungan melemah di sore ini. Sedangkan, rupee India jadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat setelah melonjak 0,44 persen terhadap the greenback.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Pintu PHK 20 Persen Karyawan, Industri Kripto RI Mulai Goyang?
-
Perundingan AS-Iran Alot, Harga Minyak Mentah Global Tertahan di Level Tinggi
-
Danantara Mau Merger Asuransi BUMN, AAJI Buka Suara
-
BPS: Harga Beras Naik per Mei 2026, Dari Penggilingan hingga Eceran
-
Rupiah Makin Terpuruk! Tembus Rp17.839 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
-
BPS Ungkap Harga Emas Perhiasan per Mei 2026 Alami Deflasi Tiga Bulan Beruntun
-
Adu LHKPN Seskab Teddy Indra Wijaya dan Dino Patti Djalal, Siapa yang Lebih Kaya?
-
Gencar Ekspansi Jadi Modal TMAS Bidik Pendapatan Rp 5,53 Triliun di 2026
-
Full Surcharge Resmi Naik hingga 50%, Warganet Mulai Menangis Lihat Harg Tiket Pesawat
-
Saham Wilmar di Singapura Anjlok, Usai Pemerintah RI Bidik Dugaan Manipulasi Ekspor Sawit