- IMF pangkas proyeksi ekonomi RI 2026 jadi 5% akibat lonjakan harga komoditas global.
- Konflik Timur Tengah picu harga minyak naik 21,4% dan ganggu rantai pasok pangan dunia.
- Ekonomi global melambat ke 3,1%; Vietnam pimpin ASEAN dengan pertumbuhan 7,1%.
Suara.com - Dana Moneter Internasional (IMF) membawa kabar kurang sedap bagi prospek ekonomi nasional. Dalam laporan terbarunya, lembaga donor internasional tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% pada tahun 2026.
Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang sempat dipatok di level 5,1%. Penurunan ini tertuang dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026.
Penyebab utamanya tak lain adalah tensi geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas. Eskalasi konflik tersebut memicu lonjakan harga komoditas global, terutama di sektor energi, yang pada akhirnya memberikan tekanan hebat bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Perekonomian di seluruh dunia menghadapi dampak buruk melalui pengaruh langsung dari kenaikan harga komoditas," tulis laporan IMF yang dikutip Senin (20/4/2026).
Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia tampaknya harus bekerja ekstra keras. Vietnam diproyeksikan masih menjadi primadona dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi mencapai 7,1% pada 2026.
Sementara itu, dalam peta persaingan regional lainnya, Indonesia bersanding dengan Malaysia yang sama-sama diproyeksikan tumbuh di angka 4,7% dalam skenario tertentu.
IMF menjelaskan bahwa dalam skenario dasar (baseline), konflik diasumsikan berlangsung singkat dalam beberapa minggu ke depan dengan pemulihan bertahap hingga pertengahan 2026. Namun, risiko "lubang hitam" ekonomi tetap mengintai jika konflik berlangsung lebih lama dan intensitasnya meningkat.
Secara global, IMF melihat adanya tren perlambatan. Ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3,1% pada 2026, turun dari posisi 3,4% pada 2025. Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga energi yang diperkirakan melambung hingga 19% tahun ini.
Harga minyak mentah diproyeksikan naik signifikan sebesar 21,4% akibat gangguan distribusi di Timur Tengah, dengan rata-rata harga menyentuh US$ 82 per barel. Efek domino dari kenaikan ini dipastikan akan merembet ke harga pangan karena naiknya biaya pupuk dan logistik global.
Baca Juga: Dari Bertahan hingga Serangan, Ini Evaluasi Timnas Indonesia U-17 Usai Gagal di Piala AFF
"Tanpa adanya perang, aktivitas ekonomi global sebenarnya berpotensi tetap berada di jalur stabil pada 2026. Namun, konflik yang berlangsung saat ini menambah ketidakpastian dan menekan prospek pertumbuhan," tutup laporan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
Terkini
-
Saham BBCA dan BBRI Sedang 'Cuci Gudang', Saatnya Borong?
-
Pasar Modal Indonesia Ditinggal Investor, 15 Perusahaan Masih Nekat IPO Tahun Ini
-
MinyaKita Hilang dari Rak Toko, Tukang Gorengan Akui Rugi Pengeluaran Bengkak
-
Punya Rumah Tak Lagi Ribet, Pengajuan KPR untuk Gen Z Dipermudah
-
Meski Rupiah-IHSG Loyo, Purbaya Buktikan Arus Modal Asing Masih Ramai Masuk RI
-
Akibat IHSG Bobrok, Dana Asing Telah Keluar Rp 4,1 T Sepanjang Mei
-
Raih Kinerja Topcer, Anak usaha Emiten TUGU Catatkan Laba Bersih Rp 95,1 M di 2025
-
Emiten Farmasi MDLA Perkuat Bisnis Berkelanjutan, Gunakan Mobil Listrik
-
Orang Kaya Tak Wajib Serok Surat Utang Danantara, Siapa yang Beli?
-
Perbaiki Arus Kas, Begini Strategi Emiten PPRO