Bisnis / Keuangan
Kamis, 23 April 2026 | 11:51 WIB
Sejumlah alat berat dioperasikan untuk mengumpulkan batu bara di salah satu tempat penampungan (stockpile) batu bara kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Jumat (9/1/2026). [Antara]
Baca 10 detik
  • SIG pangkas 467 ribu ton batu bara lewat pemanfaatan bahan bakar sampah.
  • Pemanfaatan energi alternatif naik 24%, dorong rasio substitusi panas ke 9,77%.
  • SIG telah mereklamasi 628 hektare lahan tambang dan raih 6 PROPER Hijau 2025.

Suara.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) semakin agresif menjalankan transisi energi hijau dalam operasional bisnisnya. Melalui optimalisasi limbah industri hingga sampah perkotaan menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF), emiten bersandi SMGR ini mengklaim sukses menekan ketergantungan pada batu bara secara signifikan.

Langkah ini merupakan bagian dari penguatan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang telah terintegrasi dalam strategi jangka panjang perusahaan. Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengungkapkan bahwa keberlanjutan kini bukan sekadar kewajiban, melainkan keunggulan kompetitif bagi perseroan.

“SIG membuktikan bahwa kinerja keberlanjutan dapat berjalan seiring dengan kinerja bisnis, bahkan memperkuat ketahanan operasional perusahaan,” ujar Vita dalam keterangan resminya.

Terobosan utama SIG terletak pada penggunaan bahan bakar alternatif yang mencakup limbah industri, biomassa, hingga sampah kota. Sepanjang tahun 2025, pemanfaatan bahan bakar alternatif ini melonjak 24% menjadi 681 ribu ton.

Angka tersebut setara dengan pengurangan penggunaan batu bara hingga 467 ribu ton, sebuah pencapaian yang mendorong Thermal Substitution Rate (TSR) perusahaan naik ke level 9,77%. Dampaknya tidak hanya pada penurunan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi sektor pertanian melalui pemanfaatan biomassa.

Selain fokus pada bahan bakar alternatif, SIG juga memperluas penggunaan panel surya dan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG). Hasilnya, intensitas emisi GRK cakupan 1 turun 21% dari baseline 2010, dan emisi cakupan 2 merosot 15% dari baseline 2019.

Komitmen ini pun membuahkan apresiasi tinggi dari pemerintah. SIG sukses memboyong enam penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk sejumlah pabriknya.

“Ke depan, kami akan terus mempercepat transformasi industri bahan bangunan dengan pendekatan yang lebih efisien, inovatif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkas Vita.

Baca Juga: BEI Jatuhkan 845 Sanksi ke 494 Perusahaan Emiten Tercatat

Load More