Bisnis / Keuangan
Kamis, 23 April 2026 | 12:20 WIB
Nilai tukar Rupiah tengah berada dalam tekanan hebat. Pada perdagangan Kamis (23/4/2026) siang, mata uang Garuda terpantau loyo hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS). Foto Antara.
Baca 10 detik
  • Rupiah tembus Rp17.300/USD akibat ketidakpastian global dan lonjakan harga minyak.
  • BI lakukan intervensi berlapis di pasar spot, DNDF, hingga pembelian SBN di pasar sekunder.
  • Amunisi kuat, cadangan devisa Maret 2026 capai USD148,2 miliar untuk jaga stabilitas.

Suara.com - Nilai tukar Rupiah tengah berada dalam tekanan hebat. Pada perdagangan Kamis (23/4/2026) siang, mata uang Garuda terpantau loyo hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS).

Menanggapi hal ini, Bank Indonesia (BI) langsung pasang badan memastikan stabilitas pasar tetap terjaga.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan ini tak lepas dari badai ketidakpastian global yang juga menghantam mata uang di kawasan Asia. Secara year-to-date, Rupiah tercatat melemah sebesar 3,54 persen.

"Tekanan terhadap Rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional," ujar Destry dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2026).

Guna meredam gejolak, BI memastikan akan terus meningkatkan intensitas intervensi. Tidak hanya mengandalkan satu jalur, bank sentral melakukan aksi di berbagai lini:

  • Pasar Offshore: Melalui Non-Deliverable Forward (NDF).
  • Pasar Domestik: Intervensi langsung di pasar Spot dan Domestic NDF (DNDF).
  • Pasar Sekunder: Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga kepercayaan investor.

BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market. Langkah ini diambil agar aset domestik tetap seksi di mata investor meskipun konflik di Timur Tengah terus membara.

Meski rupiah terpuruk hingga 0,8 persen—penurunan harian terbesar sejak September lalu menurut data Bloomberg—BI meminta pasar tidak panik. Destry membeberkan bahwa amunisi Indonesia masih sangat mencukupi.

"Cadangan devisa tetap kuat sebesar USD148,2 miliar pada akhir Maret 2026," tegasnya.

Pelemahan Rupiah kali ini memang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang merusak sentimen terhadap aset-aset negara berkembang. Namun, BI menegaskan akan selalu hadir di pasar dengan langkah-langkah terukur untuk memastikan Rupiah tidak liar.

Baca Juga: Solois Kwon Eun Bi Resmi Gabung RBW, Satu Agensi dengan MAMAMOO

Load More