Bisnis / Keuangan
Kamis, 23 April 2026 | 09:55 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah melemah sebesar 0,62 persen ke level Rp17.288 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 22 April 2026.
  • Tekanan global akibat ketidakpastian geopolitik Timur Tengah mendorong investor beralih ke aset aman dolar Amerika Serikat.
  • Kenaikan harga minyak dan keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga memperburuk kondisi pelemahan nilai tukar rupiah.

Suara.com - Dolar Amerika Serikat (AS) terus ngamuk terhadap mata uang Asia. Termasuk, rupiah yang dibuka tumbang pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis, 22 April 2026.

Mata uang Garuda tercatat ambruk akibat kombinasi tekanan sentimen global dan minimnya katalis positif dari dalam negeri. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka Rp17.288 per dolar AS.

Pembukaan ini lebih lemah 0,62 persen dari perdagangan Selasa (21/4/2026) di level Rp17.180.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah sepanjang sesi ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang kurang menguntungkan.

Di kancah global, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi beban utama yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

"Rupiah diperkirakan aka kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah eskalasi dan ketidakpastian akan perdamaian di Timteng," katanya saat dihubungi Suara.com.

Ilustrasi Bank Indonesia. [Antara]

Dia mengatakan pelemahan rupiah ini masih akan terus terjadi. Apalagi sentimen BI mempertahankan suku bunga membuat rupiah terus tertekan.

"Harga minyak mentah yang kembali naik dan keputusan BI mempertahankan suku bunga juga membebani rupiah. Range 17150-17250," imbuhnya.

Sementara itu, kurs Jisdor BI menunjukkan rupiah ada di level Rp17.179. Sedangkan mata uang Asia lainnya bergerak fluktuatif. Di mana, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,45 persen.

Baca Juga: Kurs Rupiah Masih Tembus Rp17.000, Bos BI Klaim Cadangan Devisa Aman

Selanjutnya, baht Thailand yang tertekan 0,19 persen dan ringgit Malaysia turun 0,09 persen. Disusul, dolar Taiwan yang melemah tipis 0,02 persen.

Sementara itu, yen Jepang dan won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah sama-sama naik 0,06 persen.

Berikutnya, yuan China terkerek 0,05 persen dan dolar Hong Kong terangkat 0,02 persen. Kemudian, dolar Singapura terlihat menguat tipis 0,008 persen terhadap the greenback di pagi ini.

Load More