Bisnis / Keuangan
Kamis, 23 April 2026 | 15:32 WIB
Kondisi Rupiah Kian Memburuk, Keponakan Prabowo Bisa Apa? Foto Gemini AI
Baca 10 detik
  • Rupiah anjlok ke Rp17.303 per dolar AS akibat sentimen global.
  • Kebijakan Deputi Gubernur BI baru diuji di tengah tren pelemahan.
  • Menko Airlangga pilih pantau pasar dan serahkan beban stabilisasi ke BI.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian memprihatinkan. Mata uang Garuda seolah tak bertenaga menghadapi 'amukan' The Greenback yang kian membara, hingga menyeretnya ke level terburuk sepanjang sejarah.

Mengutip data Bloomberg pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah dibuka lunglai di level Rp17.288 per dolar AS, melemah 0,62 persen dibanding penutupan sebelumnya. Tak butuh waktu lama, posisi Garuda makin terperosok hingga menyentuh level psikologis baru yang mengerikan di Rp17.303.

Kenapa Rupiah Melemah?

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, rontoknya rupiah adalah kombinasi maut antara hantaman global dan minimnya sentimen positif domestik. Eskalasi konflik di Timur Tengah memaksa investor kabur ke aset aman (safe haven).

"Rupiah diperkirakan akan terus melemah di tengah ketidakpastian perdamaian Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman.

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi beban tambahan bagi mata uang domestik. Dari sisi internal, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang tetap mempertahankan suku bunga acuan dinilai belum cukup kuat untuk menahan laju depresiasi rupiah.

"Keputusan BI mempertahankan suku bunga juga membebani rupiah. Range pergerakan hari ini diperkirakan ada di angka Rp17.150 hingga Rp17.250," imbuh Lukman.

Tuah Thomas Djiwandono Dinanti

Sorotan tajam kini tertuju pada Thomas Djiwandono. Keponakan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang kini menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) itu tengah diuji nyalinya.

Baca Juga: Rupiah Keok Tembus Rp17.301, Airlangga: Ini Gejolak Global!

Pasalnya, sejak awal tahun ini gerak-gerik Rupiah boleh dibilang cukup mengkhawatirkan. Tengok saja, berdasarkan data pasar saat pembukaan perdagangan 1 Januari 2026 posisi Rupiah berada pada level Rp16.678. Kondisi ini makin memburuk pada tanggal 20 Januari dengan menyentuh level Rp16.945. Selepas itu rupiah sempat menguat ke Rp16.681 pada tanggal 28 Januari 2026.

Tapi itu penguatan Rupiah yang terakhir kalinya sebelum memasuki tren pelemahan cukup panjang. Bahkan setelah Thomas Djiwandono dilantik pada 9 Februari 2026 mata uang Garuda kembali anjlok ke Rp16.862. Tren pelemahan ini terus berlanjut hingga akhirnya masuk level psikologis baru di Rp17.033 pada 7 April 2026.

Setelah itu hari-hari Rupiah makin tak berdaya, hingga hari ini Rupiah mengalami pelemahan paling buruk sepanjang sejarah di Rp17.303.

Menyelamatkan Rupiah

Kondisi ini membuat bank sentral mengambil sejumlah langkah mitigasi agar nilai tukar Rupiah makin tak anjlok, salah satunya menurunkan batas maksimum pembelian valuta asing (valas) terhadap rupiah dari USD100 ribu menjadi USD50 ribu per pelaku per bulan. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 April 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono mengatakan per 17 April 2026, rata-rata harian transaksi spot nasabah menurun.

“Mengenai kesiapan bank-bank tersebut, karena terdapat transisi selama satu bulan untuk pelaporan dan penyampaian dokumen tersebut, sehingga para bank sudah siap dan tidak ada masalah di situ,” ucapnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang digelar daring pada, Rabu (22/4/2026).

Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, penggunaan dokumen underlying dalam transaksi spot telah meningkat menjadi 93,5 persen dari 89,2 persen. Menurutnya, meski baru berjalan sebentar, pengetatan kebijakan transaksi valas sudah memberikan hasil yang positif.

Sejalan dengan itu, BI juga mendorong peningkatan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

“Sehingga hasil positifnya juga sudah kelihatan bahwa semakin banyak transaksi untuk Domestic Non-Deliverable Forward,” ucap Perry.

Thomas mengklaim kebijakan ini mulai membuahkan hasil. "Rata-rata harian transaksi spot nasabah menurun dari US$ 78 juta menjadi US$ 60 juta. Bank-bank sudah siap dan tidak ada masalah di transisi ini," tegas dia.

Pemerintah Pilih 'Wait and See'

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, tampak lebih santai menyikapi jebloknya rupiah. Ia berkilah bahwa nasib nahas ini dialami oleh hampir seluruh mata uang regional.

"Ya kan itu gejolak global. Berbagai mata uang di regional juga bergejolak," ujar Airlangga saat ditemui di Jakarta Selatan.

Alih-alih menyiapkan langkah darurat dari sisi fiskal, Ketua Umum Partai Golkar ini menegaskan pemerintah memilih mode wait and see. Ia enggan bersikap reaktif dan memilih melempar "bola panas" stabilisasi nilai tukar ke pangkuan Bank Indonesia.

"Nanti kita monitor saja. Itu tugas BI menjaga (nilai tukar rupiah)," pungkasnya singkat.

Load More