Bisnis / Keuangan
Kamis, 23 April 2026 | 14:10 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. [Dok. Kemenko Perekonomian]
Baca 10 detik
  • Kurs tembus Rp17.301 per dolar AS akibat tekanan geopolitik global.
  • Pemerintah tak mau reaktif dan sebut mata uang regional ikut bergejolak.
  • Menko Perekonomian tegaskan stabilisasi nilai tukar adalah tanggung jawab Bank Indonesia.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren mengkhawatirkan. Pada perdagangan Kamis (23/4/2026) siang, mata uang Garuda resmi terperosok hingga melewati level psikologis baru di angka Rp17.301.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, buka suara terkait jebloknya nilai tukar ini. Menurutnya, tekanan hebat yang dialami rupiah merupakan dampak langsung dari dinamika global yang tengah membara, termasuk memanasnya konflik geopolitik di berbagai belahan dunia.

"Ya kan itu gejolak, gejolak global juga," ujar Airlangga saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

Airlangga berkilah bahwa nasib nahas ini tidak hanya dialami oleh Indonesia. Ia menyebut mayoritas mata uang di kawasan regional juga sedang babak belur dihantam keperkasaan dolar AS.

"Karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak," imbuhnya.

Meski posisi rupiah kian terpojok, Ketua Umum Partai Golkar ini menyatakan bahwa pemerintah tidak akan mengambil langkah gegabah. Ia menegaskan, fluktuasi pasar yang sangat dinamis tidak bisa disikapi dengan kebijakan yang bersifat reaktif setiap saat.

Pemerintah memilih untuk memasang mode wait and see sembari memantau pergerakan pasar lebih dalam.

"Nanti kita monitor saja (pergerakan nilai tukar rupiah) karena ini kan enggak bisa kita setiap hari reaktif," tegas Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga pun melempar tanggung jawab stabilisasi nilai tukar kepada Bank Indonesia (BI). Ia meyakini bank sentral memiliki instrumen yang cukup untuk meredam gejolak di pasar valas.

Baca Juga: Rupiah Terkapar Rp17.300, BI Pasang Badan Guyur Pasar!

"Itu BI tugasnya menjaga (nilai tukar rupiah)," pungkasnya singkat.

Berdasarkan data pasar pada pukul 12.10 WIB, rupiah terpantau nangkring di level Rp17.301 per dolar AS. Posisi ini merosot tajam jika dibandingkan dengan pembukaan perdagangan pagi tadi yang masih berada di level Rp17.255.

Jika ditarik dari penutupan hari sebelumnya, rupiah tercatat sudah keok sebesar 74 poin atau melemah sekitar 0,43 persen. Kondisi ini kian menambah beban berat bagi sektor riil dan impor nasional di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Load More