Bisnis / Keuangan
Jum'at, 24 April 2026 | 15:29 WIB
BI mengubah batas maksimum pembelian valas dengan menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan ini berlaku mulai April mendatang di tengah ancaman krisis energi akibat konflik di Teluk Persia. [Antara]

Setelah krisis mereda, rupiah kembali stabil di kisaran Rp9.000–Rp10.000 pada periode 2009–2011.

Periode Fluktuatif (2013–2019)

Memasuki 2013, rupiah kembali mengalami tekanan akibat kebijakan tapering off The Fed sehingga membuat defisit transaksi berjalan dan ketergantungan pada impor.

Pada periode ini, kurs rupiah bergerak di kisaran: Rp12.000 – Rp14.500 per dolar AS

Meski fluktuatif, pelemahan masih tergolong gradual dan tidak ekstrem seperti 1998.

Pandemi COVID-19 (2020)

Tahun 2020 menjadi salah satu momen penting dalam sejarah nilai tukar rupiah. Pandemi COVID-19 menyebabkan ketidakpastian global yang tinggi.

Pada Maret 2020, rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp16.000 per dolar AS. Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama karena:

  • Intervensi agresif Bank Indonesia
  • Stimulus ekonomi pemerintah
  • Pemulihan pasar global

Setelah itu, rupiah kembali menguat ke kisaran Rp14.000-an.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.310, Sinyal Bahaya Ekonomi Lebih Buruk dari Krisis 1998?

Kondisi Terkini (2024–2026): Mendekati Level Krisis

Dalam beberapa tahun terakhir, rupiah kembali mengalami tekanan akibat faktor global seperti kenaikan suku bunga AS, ketegangan geopolitik dan arus modal keluar (capital outflow).

Pada Maret 2025, nilai tukar rupiah sempat mencapai sekitar Rp16.600 per dolar AS, mendekati level terendah sejak krisis 1998. 

Bahkan pada 2026, kurs rupiah dilaporkan berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS secara nominal. 

Namun, penting dicatat bahwa kondisi saat ini berbeda dengan 1998. Pelemahan rupiah terjadi secara bertahap dan didukung oleh fundamental ekonomi yang lebih kuat, seperti inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Kontributor : Rishna Maulina Pratama

Load More