Setelah krisis mereda, rupiah kembali stabil di kisaran Rp9.000–Rp10.000 pada periode 2009–2011.
Periode Fluktuatif (2013–2019)
Memasuki 2013, rupiah kembali mengalami tekanan akibat kebijakan tapering off The Fed sehingga membuat defisit transaksi berjalan dan ketergantungan pada impor.
Pada periode ini, kurs rupiah bergerak di kisaran: Rp12.000 – Rp14.500 per dolar AS
Meski fluktuatif, pelemahan masih tergolong gradual dan tidak ekstrem seperti 1998.
Pandemi COVID-19 (2020)
Tahun 2020 menjadi salah satu momen penting dalam sejarah nilai tukar rupiah. Pandemi COVID-19 menyebabkan ketidakpastian global yang tinggi.
Pada Maret 2020, rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp16.000 per dolar AS. Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama karena:
- Intervensi agresif Bank Indonesia
- Stimulus ekonomi pemerintah
- Pemulihan pasar global
Setelah itu, rupiah kembali menguat ke kisaran Rp14.000-an.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.310, Sinyal Bahaya Ekonomi Lebih Buruk dari Krisis 1998?
Kondisi Terkini (2024–2026): Mendekati Level Krisis
Dalam beberapa tahun terakhir, rupiah kembali mengalami tekanan akibat faktor global seperti kenaikan suku bunga AS, ketegangan geopolitik dan arus modal keluar (capital outflow).
Pada Maret 2025, nilai tukar rupiah sempat mencapai sekitar Rp16.600 per dolar AS, mendekati level terendah sejak krisis 1998.
Bahkan pada 2026, kurs rupiah dilaporkan berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS secara nominal.
Namun, penting dicatat bahwa kondisi saat ini berbeda dengan 1998. Pelemahan rupiah terjadi secara bertahap dan didukung oleh fundamental ekonomi yang lebih kuat, seperti inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama
Berita Terkait
-
Rupiah Hari Ini Menguat Tipis ke Rp17.284 per Dolar AS
-
Rupiah di Level Kritis Rp17.300, Pakar Sarankan Ini Buat Pemerintahan Prabowo
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Rupiah Tembus Rp17.310, Sinyal Bahaya Ekonomi Lebih Buruk dari Krisis 1998?
-
Terburuk di Asia, Rupiah Ditutup Anjlok di Kamis Sore
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Menkeu Purbaya Bongkar Alasan Copot Febrio dan Luky: Ada 'Noise' Internal!
-
BTN Tak Bagikan Dividen, Laba Bersih Ditahan untuk Perkuat Modal
-
Babah Alun Rayakan Kemenangan Gugatan CMNP Terhadap Hary Tanoe dan MNC
-
Berkat Bantuan BI Rupiah Akhirnya Bangkit, Ditutup ke Level Rp 17.228
-
Pemerintah Tangguhkan Ekspor Minyak Mentah, Fokus Kebutuhan Dalam Negeri
-
BRI Consumer Expo 2026 Tawarkan Bunga KPR 1,75% dan Hiburan Meriah
-
Potret Horor Ketimpangan Ekonomi: Harta 50 Triliuner RI Bertambah Rp13,48 Miliar Setiap hari
-
Hari Bumi 2026, Telkom Pertegas Langkah Strategis Menuju Masa Depan Berkelanjutan
-
Kisah Nasabah PNM Mekaar, Ibu Anastasia: Membangun Salon Inklusif dan Gratis untuk ODGJ
-
Sambut Idul Adha, Berkurban Makin Praktis dan Nyaman lewat BRImo, Berikut Langkah-langkahnya