Suara.com - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah (IDR) merupakan salah satu indikator penting dalam melihat kesehatan ekonomi Indonesia.
Sejak krisis moneter 1998, pergerakan kurs rupiah terhadap dolar mengalami dinamika yang sangat signifikan, mulai dari anjlok drastis, pemulihan bertahap, hingga kembali menghadapi tekanan global di era modern.
Krisis Moneter 1997–1998: Titik Terendah Rupiah
Sebelum krisis melanda Asia pada 1997, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp2.300-Rp2.600 per dolar AS. Namun, ketika krisis keuangan Asia terjadi, rupiah mengalami depresiasi tajam.
Pada awal 1998, nilai tukar rupiah sempat menyentuh sekitar Rp17.000 per dolar AS, dan berada di kisaran Rp16.650–Rp16.800 pada pertengahan tahun.
Penyebab utama kejatuhan ini antara lain karena krisis keuangan Asia, tingginya utang luar negeri swasta, pelepasan sistem nilai tukar menjadi free float ditambah lagi dengan ketidakstabilan politik dalam negeri.
Depresiasi ini menjadikan 1998 sebagai titik terburuk dalam sejarah nilai tukar rupiah.
Periode Pemulihan (1999–2007)
Setelah krisis mereda, rupiah mulai menunjukkan tanda pemulihan. Pada akhir 1998, nilai tukar sempat menguat kembali ke sekitar Rp8.000 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.310, Sinyal Bahaya Ekonomi Lebih Buruk dari Krisis 1998?
Memasuki awal 2000-an, kurs rupiah cenderung stabil di kisaran:
- Rp8.000 – Rp10.000 (awal 2000-an)
- Rp9.000 – Rp11.000 (pertengahan dekade)
Pemulihan ini didorong oleh stabilitas politik pascareformasi yang juga berdampak pada reformasi sektor perbankan, intervensi Bank Indonesia sehingga masuknya kembali investor asing.
Meski belum sepenuhnya pulih ke level pra-krisis, periode ini menjadi fondasi stabilitas ekonomi Indonesia.
Krisis Global 2008 dan Dampaknya
Pada 2008, dunia kembali dilanda krisis keuangan global yang dipicu oleh runtuhnya sektor perbankan di Amerika Serikat. Dampaknya, rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp12.000 per dolar AS.
Namun, berbeda dengan 1998, pelemahan ini relatif lebih terkendali karena fundamental ekonomi Indonesia lebih kuat. Selain itu cadangan devisa meningkat juga menjadi penolong sistem perbankan lebih sehat.
Berita Terkait
-
Rupiah Hari Ini Menguat Tipis ke Rp17.284 per Dolar AS
-
Rupiah di Level Kritis Rp17.300, Pakar Sarankan Ini Buat Pemerintahan Prabowo
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Rupiah Tembus Rp17.310, Sinyal Bahaya Ekonomi Lebih Buruk dari Krisis 1998?
-
Terburuk di Asia, Rupiah Ditutup Anjlok di Kamis Sore
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Timnas Indonesia Lolos Semifinal Piala AFF U-19 2026 Usai Kalahkan Vietnam
Pilihan
-
Luhut Bawa Chatib Basri ke Istana, Ini Tujuannya
-
Di Mana Menkeu Purbaya saat Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana
-
Media Asing: Donald Trump 'Permalukan' FIFA Sebelum Piala Dunia 2026 Dimulai
-
Chatib Basri: Tugas Menkeu Gampang!
-
Tok! DPR Resmi Sahkan Revisi UU Polri Jadi Undang-Undang dalam Rapat Paripurna
Terkini
-
IHSG Terlalu Perkasa Hari Ini Naik 7%, Saham BBCA dan BBRI Jadi Buruan
-
BRI Hadirkan QRIS Cross Border BRImo di China, Permudah Transaksi Nasabah di Luar Negeri
-
Luhut Bawa Chatib Basri ke Istana, Ini Tujuannya
-
Di Mana Menkeu Purbaya saat Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana
-
Pemerintah Santai Tanggapi Penurunan Cadangan Devisa RI
-
Chatib Basri, Menkeu Spesialis Krisis Ekonomi, Temui Prabowo di Istana, Luhut Jadi Pendamping
-
Chatib Basri Ungkap Jalan Keluar Krisis Ekonomi saat Rumor Jadi Menkeu: Jangan Naikkan Pajak
-
Gegara BI-Rate Rupiah Bernasib Baik Hari Ini, Tapi Masih Rp 18.000
-
Cadev Turun 1,3 Miliar Dolar AS, Gubernur BI Singgung IMF
-
Harga Kedelai Mahal Gegara Rupiah Melemah, Pemerintah Beri Subsidi Rp2.000