- Nilai tukar Rupiah anjlok 0,61 persen menjadi Rp17.856 per dolar AS pada Kamis, 23 April 2026. Mata uang dengan performa paling buruk di Asia.
- Konflik di Timur Tengah dan kegagalan perundingan AS-Iran memicu kenaikan harga minyak serta menekan mata uang Asia.
- Faktor internal seperti beban anggaran negara dan kebijakan suku bunga Bank Indonesia memperparah pelemahan nilai tukar Rupiah.
Suara.com - Nilai tukar Rupiah masih babak belur pada Kamis sore (23/4/2026). Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah anjlok 0,61 persen menjadi Rp 17.856 per dolar Amerika Serikat.
Alhasil rupiah menjadi mata uang dengan performa paling buruk di Asia, kawasan yang mata uangnya juga mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir akibat konflik di Timur Tengah.
Sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, nilai tukar rupiah sudah anjlok 3 persen. Faktanya kinerja rupiah hanya unggul dari rupee India di periode konflik.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah sepanjang sesi ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang kurang menguntungkan.
Di kancah global, kenaikan harga minyak menjadi beban utama yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
"Rupiah dan mata uang Asia pada umumnya melemah terhadap dolar AS di tengah kembali naiknya harga minyak mentah dunia oleh kekuatiran dan ketidakpastian perkembangan di Timur Tengah," katanya saat dihubungi Suara.com.
Penilaian ini juga diamini oleh pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi. Ia menekankan pelemahan rupiah yang cukup signifikan ini disebabkan gagalnya perundingan antara AS dengan Iran.
“Salah satu penyebabnya, pertama adalah masalah eksternal, di mana pertemuan di minggu ini antara AS dan Iran yang difasilitasi Pakistan gagal,” ucapnya di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut Lukman melihat faktor internal juga berpengaruh terhadap pelemahan rupiah. Salah satu faktor adalah anggaran negara yang semakin tergerus akibat harga minyak yang semakin mahal. Selain itu, kebijakan BI yang mempertahankan suku bunga membuat aliran keluar modal asing semakin tinggi.
Baca Juga: BI Longgarkan Transaksi NDF Offshore untuk Perkuat Rupiah
"Hingga saat ini, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut walau ada intervensi dari BI," jelasnya.
Negara-negara Asia, terutama yang merupakan importir minyak seperti Indonesia, Filipina, India dan Thailand juga mengalami pelemahan nilai tukar mata uang masing-masing.
Peso Filipina ditutup ambles 0,59 persen pada Kamis. Selanjutnya, baht Thailand anjlok 0,51 persen dan rupee India tertekan 0,29 persen.
Dolar Taiwan juga ditutup terkoreksi 0,27 persen. Berikutnya ada ringgit Malaysia turun 0,25 persen. Lalu ada yen Jepang dan yuan China yang sama-sama tergelincir 0,07 persen. Won Korea Selatan turun 0,06 persen dan dolar Singapura melemah tipis 0,02 persen terhadap greenback.
Sementara itu, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat setelah naik tipis 0,009 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
Terkini
-
PT SMI Salurkan Pembiayaan Rp 275 T ke Proyek Infrastruktur, Serap 10,9 Juta Tenaga Kerja
-
Evaluasi Program Magang Nasional, Menaker Blacklist Perusahaan Langgar Jam Kerja
-
Menaker Siapkan Program Pelatihan Vokasi-Magang, Diserap ke PSN hingga Kawasan Ekonomi Khusus
-
Kondisi Rupiah Kian Memburuk, Keponakan Prabowo Bisa Apa?
-
Komentar Purbaya soal Tarif Selat Malaka Bikin Malaysia dan Singapura Kalang Kabut
-
Pemerintah Mau Kasih Insentif Kendaraan Listrik, Tapi Ada Syaratnya
-
Rupiah Keok Tembus Rp17.301, Airlangga: Ini Gejolak Global!
-
PLN Cari Biang Kerok Penyebab Mati Listrik Massal di Jakarta
-
Jika PPN Jalan Tol Berlaku, Jusuf Hamka Akui Akan Ada Kenaikan Tarif
-
Gelar RUPST Tahun Buku 2025, Prodia Setujui Dividen 70% Hingga Komitmen Akselerasi Inovasi Layanan