- Milenial & Gen Z pilih riset properti via media sosial ketimbang cara konvensional.
- Kenaikan bunga KPR buat konsumen lebih selektif dan hati-hati sebelum membeli hunian.
- Akses transportasi dan gaya hidup jadi faktor utama penentu keputusan beli rumah.
Suara.com - Di tengah tekanan suku bunga kredit dan daya beli yang masih menantang, calon pembeli dari kalangan milenial dan Gen Z kini tidak lagi mengandalkan cara-cara konvensional seperti brosur atau pameran untuk mencari hunian impian.
Data terbaru menunjukkan bahwa riset digital menjadi langkah pertama yang wajib dilakukan sebelum mengambil keputusan besar. Dengan penetrasi internet di Indonesia yang mencapai 78 persen, mayoritas pencarian rumah kini dimulai dari kanal online dan media sosial.
"Pengaruh media sosial sangat besar dalam mencari properti. Calon pembeli kini tidak lagi bergantung pada brosur. Mereka menggali informasi melalui konten digital sebelum memutuskan survei langsung," ujar Aya Choiriyah, influencer sekaligus konsumen properti, dalam Seminar Property Outlook ASG Expo di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Menurut Aya, faktor kenaikan suku bunga KPR membuat konsumen jauh lebih hati-hati. Mengingat sebagian besar pembiayaan properti bergantung pada kredit perbankan, riset mendalam menjadi kunci agar cicilan tidak membebani di kemudian hari.
"Sebagai konsumen, harapannya bunga KPR jangan tinggi-tinggi. Yang paling terasa itu perubahan cicilan setiap bulan. Perubahan kecil saja sangat berdampak pada kemampuan bayar," tegasnya.
Selain harga dan pembiayaan, generasi muda kini memprioritaskan konektivitas. Desain rumah yang estetik saja tidak cukup; akses transportasi, kedekatan dengan tempat kerja, hingga fasilitas penunjang gaya hidup menjadi poin krusial yang dipantau melalui ulasan video dan foto di media sosial.
Aya menekankan bahwa media sosial kini berfungsi sebagai ruang edukasi, bukan sekadar etalase visual. Oleh karena itu, pengembang dituntut untuk beradaptasi dengan menyajikan informasi yang transparan dan relevan.
"Pengembang harus bisa menjelaskan nilai proyeknya dengan jelas melalui digital, jangan hanya sekadar jualan visual," pungkasnya.
Disisi lain skema pembayaran kreatif dinilai bisa menjaga minat masyarakat untuk membeli properti di tengah tekanan daya beli. Associate Director Bank Artha Graha Internasional, Andy Dharma, mengatakan bunga rendah di awal cicilan menjadi salah satu cara untuk membantu konsumen membeli properti.
Baca Juga: Suku Bunga dan Daya Beli Jadi Penentu, Bagaimana Peluang Investasi Properti 2026?
Namun, dia mengingatkan konsumen tetap perlu memahami skema bunga setelah masa promo selesai.
“Pada awalnya bunga bisa disubsidi melalui promo. Setelah itu, bunga akan kembali ke level normal,” ujar Andy.
Menurut Andy, bunga promo memang dapat meringankan beban konsumen pada fase awal pembelian. Namun, pembeli harus menghitung kemampuan membayar cicilan secara matang.
Dia mengatakan konsumen tidak boleh hanya melihat cicilan pada periode promo. Konsumen juga harus siap ketika bunga kembali mengikuti ketentuan normal.
“Karena itu, konsumen perlu punya financial planning yang baik sebelum mengambil rumah,” katanya.
Andy menjelaskan pembiayaan properti tidak hanya dipengaruhi bunga KPR. Kenaikan biaya material dan tekanan biaya pembangunan juga ikut memengaruhi harga properti.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
DPR-Danantara Mau 'Serok' Saham BUMN, Emiten Bank Himbara Siap-siap Rebound?
-
Telkom Gelar RUPST Tahun Buku 2025 dan Bagikan Dividen Rp21,9 Triliun
-
Bahlil Ngebut Terapkan B50, Uji Coba Belum Tuntas
-
DPR Kumpulkan Bos Himbara, Bahas Rencana Buyback Saham BUMN saat Harga Murah
-
Lesu di Lapangan Banteng, Mengapa Purbaya Layak Diganti?
-
CFX Dorong Kedaulatan Ekosistem Aset Kripto Nasional Lewat Inovasi dan Infrastruktur Digital
-
Cabai Tembus Rp78.850, Bawang dan Beras Ikut Naik, Tekanan Harga Pangan Makin Berat
-
Minerba Sempat Dihantui Ketidakpastian, Industri Lega Pemerintah Batalkan Skema Gross Split
-
Ketegangan Iran - Israel Belum Reda, Brent Naik jadi 94,38 Dolar AS per Barel
-
Rupiah Mulai Bangkit Lawan Dolar AS ke Level Rp18.144, Apa Untungnya untuk Ekonomi?