Bisnis / Properti
Jum'at, 24 April 2026 | 23:20 WIB
Ilustrasi Milenial mencari hunian.Foto ist.
Baca 10 detik
  • Milenial & Gen Z pilih riset properti via media sosial ketimbang cara konvensional.
  • Kenaikan bunga KPR buat konsumen lebih selektif dan hati-hati sebelum membeli hunian.
  • Akses transportasi dan gaya hidup jadi faktor utama penentu keputusan beli rumah.

Suara.com - Di tengah tekanan suku bunga kredit dan daya beli yang masih menantang, calon pembeli dari kalangan milenial dan Gen Z kini tidak lagi mengandalkan cara-cara konvensional seperti brosur atau pameran untuk mencari hunian impian.

Data terbaru menunjukkan bahwa riset digital menjadi langkah pertama yang wajib dilakukan sebelum mengambil keputusan besar. Dengan penetrasi internet di Indonesia yang mencapai 78 persen, mayoritas pencarian rumah kini dimulai dari kanal online dan media sosial.

"Pengaruh media sosial sangat besar dalam mencari properti. Calon pembeli kini tidak lagi bergantung pada brosur. Mereka menggali informasi melalui konten digital sebelum memutuskan survei langsung," ujar Aya Choiriyah, influencer sekaligus konsumen properti, dalam Seminar Property Outlook ASG Expo di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Menurut Aya, faktor kenaikan suku bunga KPR membuat konsumen jauh lebih hati-hati. Mengingat sebagian besar pembiayaan properti bergantung pada kredit perbankan, riset mendalam menjadi kunci agar cicilan tidak membebani di kemudian hari.

"Sebagai konsumen, harapannya bunga KPR jangan tinggi-tinggi. Yang paling terasa itu perubahan cicilan setiap bulan. Perubahan kecil saja sangat berdampak pada kemampuan bayar," tegasnya.

Selain harga dan pembiayaan, generasi muda kini memprioritaskan konektivitas. Desain rumah yang estetik saja tidak cukup; akses transportasi, kedekatan dengan tempat kerja, hingga fasilitas penunjang gaya hidup menjadi poin krusial yang dipantau melalui ulasan video dan foto di media sosial.

Aya menekankan bahwa media sosial kini berfungsi sebagai ruang edukasi, bukan sekadar etalase visual. Oleh karena itu, pengembang dituntut untuk beradaptasi dengan menyajikan informasi yang transparan dan relevan.

"Pengembang harus bisa menjelaskan nilai proyeknya dengan jelas melalui digital, jangan hanya sekadar jualan visual," pungkasnya.

Baca Juga: Suku Bunga dan Daya Beli Jadi Penentu, Bagaimana Peluang Investasi Properti 2026?

Load More