Bisnis / Keuangan
Kamis, 30 April 2026 | 06:52 WIB
Kredit Commercial BRI mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga mencapai Rp61,4 triliun pada tahun 2025, tumbuh sebesar Rp22,6 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. (Dok: BRI)
Baca 10 detik
  • PT Bank Rakyat Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar Rp15,5 triliun pada kuartal pertama tahun 2026, meningkat 13,7% secara tahunan.
  • Pertumbuhan laba didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 11,9% dan efisiensi biaya dana yang ditekan hingga 50 bps.
  • Penyaluran kredit BBRI tumbuh 13,4% secara tahunan, melampaui target awal perusahaan di tengah kualitas aset yang tetap terjaga baik.

Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membuktikan ketangguhannya sebagai pemimpin pasar perbankan mikro di Indonesia dengan mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan pada awal tahun 2026.

Berdasarkan laporan analisis terbaru dari BNI Sekuritas, emiten perbankan pelat merah tersebut melaporkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) konsolidasi sebesar Rp15,5 triliun untuk periode kuartal pertama tahun 2026 (1Q26).

Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 13,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Meskipun secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq) terdapat sedikit penurunan sebesar 2,4%, pencapaian laba tersebut dinilai sangat positif karena telah membentuk sekitar 26% dari total perkiraan tahunan baik dari BNI Sekuritas maupun konsensus pasar.

Sebagai perbandingan, pada kuartal pertama tahun 2025, kontribusi laba kuartal pertama terhadap total tahunan hanya berada di level 24%.

Pendapatan Bunga Bersih dan Margin yang Melampaui Ekspektasi

Pertumbuhan laba BBRI pada pembukaan tahun ini didorong oleh performa top line yang sangat kuat. Pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) tercatat tumbuh 1,6% secara kuartalan dan melesat 11,9% secara tahunan menjadi Rp40,2 triliun.

Kekuatan pendapatan ini mencerminkan dominasi BRI dalam penyaluran kredit di berbagai segmen, terutama mikro dan konsumer.

Salah satu sorotan utama dalam laporan ini adalah kenaikan Net Interest Margin (NIM). BRI berhasil mencatatkan kenaikan NIM sebesar 30 basis poin (bps) baik secara kuartalan maupun tahunan.

Baca Juga: Airlangga Soroti Sepinya IPO Pasar Saham RI di Q1 2026, Ini Penyebabnya

Pencapaian ini berada jauh di atas panduan (guidance) yang ditetapkan sebelumnya, di mana perusahaan sempat memprediksi NIM akan bergerak mendatar (flat) hingga turun 40 bps secara tahunan.

Ekspansi margin ini didukung oleh efisiensi pengelolaan likuiditas yang mumpuni. Biaya dana atau Cost of Fund (CoF) berhasil ditekan hingga turun 20 bps secara kuartalan dan 50 bps secara tahunan.

Laporan tersebut mencatat bahwa posisi CoF pada kuartal ini merupakan level kuartalan terendah bagi BBRI sejak kuartal ketiga tahun 2023. Hal ini memberikan ruang bagi perseroan untuk menjaga profitabilitas di tengah dinamika suku bunga pasar.

Pertumbuhan Kredit Melampaui Target Perusahaan

Dari sisi fungsi intermediasi, BBRI menunjukkan agresivitas yang terukur. Penyaluran pinjaman tumbuh sebesar 2,4% secara kuartalan dan mencatatkan kenaikan impresif 13,4% secara tahunan.

Pertumbuhan kredit ini jauh melampaui panduan tahunan perusahaan yang sebelumnya dipatok pada rentang 7% hingga 9% yoy.

Load More