- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pengembangan CNG sebagai pengganti LPG berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp137 triliun.
- Pemerintah memanfaatkan sumber gas melimpah di Blok Ganal, Kalimantan Timur, untuk menekan ketergantungan impor LPG yang mencapai 80 persen.
- Kementerian ESDM sedang menguji coba produksi tabung CNG berkapasitas 3 kilogram yang diklaim 30 persen lebih murah dari LPG.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) pengganti LPG bisa hemat anggaran negara.
Setelah dihitung, setidaknya devisa negara sebesar Rp 137 triliun dari kebijakan pemerintah teranyar itu.
"Dengan kita memakai CNG. Insyaallah, kalau teknologinya sudah ada, itu mampu kita melakukan efisiensi devisa kita kurang lebih sekitar Rp 130 - 137 triliun," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
CNG saat ini tengah dikembangakan guna menekan ketergantuangan terhadap impor LPG. Bahlil mencatat, 75-80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipasok dari luar negeri.
CNG dipilih sebagai alternatif karena ketersediaan bahan bakunya yang melimpah di Indonesia. Terlebih lagi, telah ditemukan sumber gas baru dengan potensi cadangan mencapai 5 triliun kaki kubik di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur.
"Nah ini sebagian besar kita bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk meng-cover CNG ya," jelas Bahlil.
Dengan bahan baku yang melimpahnya, Bahlil memastikan bahwa harga jual CNG akan lebih ekonomis dibanding dengan LPG.
"Kurang lebih sekitar 30 persen-lah lebih murah. Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya saja sudah bisa mengcover," bebernya
Sebagai bagian dari proses pengembangan, Kementerian ESDM kini tengah melakukan uji coba produksi CNG dalam kemasan tabung 3 kilogram, serupa dengan tabung LPG yang saat ini beredar di masyarakat. Tahap uji coba dilakukan karena CNG memiliki tekanan yang sangat besar, yakni sekitar 200 hingga 250 bar.
Baca Juga: Apa Itu CNG? Ini Calon Pengganti LPG yang Diklaim Lebih Murah hingga 40 Persen!
"Nah ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insya Allah 2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya kemudian kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Gerai Es Krim Mixue dan Bingxue Apakah Sama? Cek Faktanya
-
Utang Masyarakat di Pinjol Tembus Rp101 Triliun, Ada yang Masih Gagal Bayar
-
Inabuyer B2B2G Expo 2026 Dibuka, Target Transaksi UMKM Tembus Rp2,5 Triliun
-
Ekonomi Indonesia Melesat 5,61 Persen saat Rupiah Pecahkan Rekor Terlemah
-
Pertukaran Mata Uang dengan China dan Jepang Jadi Strategi Jaga Nilai Tukar Rupiah
-
Rupiah Masih Melemah Akibat Turunnya Surplus Perdagangan
-
Ikon Kota yang Terawat Bisa Menggerakkan Ekonomi, AVIA Ungkap Alasannya
-
Purbaya Bantah Ekonomi RI Seperti Krisis 1998: Ekonom Salah Prediksi, Kecele
-
Pemerintah Bidik Hilirisasi Industri demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen di 2029
-
Pelemahan Rupiah yang Terparah dalam Sejarah Bisa Picu Gagal Bayar dan PHK