- Nilai tukar rupiah menguat 0,29 persen ke level Rp17.336 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026.
- Penguatan mata uang terjadi akibat penurunan harga minyak dunia serta sentimen positif kesepakatan damai antara AS dan Iran.
- Tren apresiasi rupiah di pasar spot ini turut diikuti oleh mayoritas mata uang negara lain di kawasan Asia.
Suara.com - Perdagangan rupiah pagi ini pada Kamis 7 Mei 2026 mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda terus konsisten masuk zona hijau.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka ke level Rp17.336 dolar AS. Mata uang garuda pun menguat 0,29 persen dibandingkan penutupan pada Selasa kemarin di level Rp17.387.
Sedangkan kurs Jisdor BI, rupiah masih berada di level Rp17.405. Penguatan rupiah ini dinilai Analis Doo Financial Futures Lukman Leong disebabkan penurunan harga minya dunia.
"Rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on dan penurunan harga minyak mentah dunia," katanya saat dihubungi Suara.com.
Tidak hanya itu, penguatan mata uang Garuda dikarenakan merespon laporan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Hal ini menjadi angin segar buat rupiah.
"Perkiraan rupiah ada di range 17250-17350," imbuhnya.
Penguatan rupiah juga diikuti oleh beberapa mata uang Asia lainnya. Salah satunya, peso Filipina menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,96 persen.
Selanjutnya, dolar Taiwan yang menanjak 0,39 persen dan ringgit Malaysia terkerek 0,37 persen. Disusul, yuan China dan yen Jepang yang sama-sama terapresiasi 0,11 persen. Berikutnya ada dolar Singapura yang terangkat 0,1 persen dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,04 persen.
Sedangkan, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,13 persen. Diikuti, won Korea Selatan yang melemah tipis 0,06 persen terhadap the greenback di pagi ini.
Baca Juga: Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah
Berita Terkait
-
Kurs Rupiah Anjlok ke Rp17.409, Investor Pantau Data Pertumbuhan Ekonomi Q1
-
Data Ekonomi Loyo, Rupiah Terkapar ke Level Rp17.394 per Dolar AS
-
Bos BI Perry Warjiyo Beberkan Strategi Perkuat Stabilitas Rupiah
-
Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.337 pada Awal Bulan Mei
-
Rupiah Anjlok ke Level Terburuk Sepanjang Masa, 'Kalah' dari Mata Uang Zimbabwe
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
BI: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Pendorong Ekonomi Indonesia Meroket
-
IHSG Lanjutkan Tren Penguatan Pagi Ini, Melesat ke Level 7.100
-
Hari Buruh Internasional, Serikat Pekerja Pegadaian Makassar Gelar Pekan Olahraga dan Seni
-
Emas Antam Terus Meroket, Hari Ini Harganya Rp 2,84 Juta/Gram
-
Ngeri! Macet Jabodetabek Rugikan RI Rp 100 T, BUMN Ini Punya Solusinya
-
BI dan ASEAN+3 Siaga! Ancaman Krisis Ekonomi Global Kian Nyata
-
Ruijie Luncurkan Cybrey di RI Biar UKM Bisa Pakai Jaringan Kelas Kakap
-
Tekan Beban Klaim BPJS Kesehatan, Produk Tembakau Alternatif Jadi Opsi Realistis?
-
Kredit Tembus Rp8.659 Triliun, OJK Pastikan Kondisi Perbankan Masih Kuat
-
Wall Street Kembali Melambung Tinggi Setelah Perang AS-Iran Akan Usai