Bisnis / Ekopol
Jum'at, 08 Mei 2026 | 07:39 WIB
Kapal perusak kelas Arleigh Burke (DDG 51) milik AL Amerika Serikat [Naval Technology]
Baca 10 detik
  • Militer Iran menyerang armada AS di Teluk Oman pada 7 Mei 2026 sebagai balasan atas pelumpuhan kapal tanker mereka.
  • Serangan udara AS menargetkan infrastruktur militer Iran di Qeshm dan Bandar Abbas, memicu kekhawatiran berakhirnya gencatan senjata bilateral.
  • Gangguan di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak dunia melonjak dan mengancam stabilitas ekonomi global serta inflasi di berbagai negara.

Suara.com - Pada Kamis (7/5/2026), militer Iran dilaporkan meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal balistik dan drone peledak terhadap armada Angkatan Laut Amerika Serikat. Aksi ini memicu kekhawatiran besar akan berakhirnya gencatan senjata yang baru saja disepakati pada April lalu.

Ketegangan bermula pada Rabu (6/5), ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Iran di sekitar Teluk Oman.

Pihak Teheran melalui Markas Pusat Khatam al-Anbiya mengecam tindakan tersebut sebagai aksi "bandit" dan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata.

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengerahkan berbagai rudal anti-kapal dan pesawat tak berawak. Laporan dari kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa tiga kapal perusak AS terpaksa mundur ke arah Teluk Oman setelah mengalami kerusakan akibat tembakan tersebut.

Namun, klaim ini dibantah oleh CENTCOM yang menyatakan bahwa mereka berhasil menghalau serangan "tanpa provokasi" dari Iran dan bertindak murni untuk pertahanan diri.

Eskalasi tidak hanya terjadi di laut. Laporan dari Fox News menyebutkan militer AS melancarkan serangan udara terhadap infrastruktur militer di Pelabuhan Qeshm dan Kota Bandar Abbas.

Di saat yang sama, suara ledakan keras terdengar hingga ke barat Teheran. Kantor berita Mehr mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara di ibu kota Iran sempat beroperasi aktif untuk menghalau ancaman udara.

Meskipun terjadi baku tembak yang intens, pejabat senior militer AS menegaskan bahwa operasi tersebut tidak bermaksud untuk memulai kembali perang skala penuh.

Presiden Donald Trump pun menyatakan bahwa gencatan senjata secara teknis masih berlaku, sembari memperingatkan Iran untuk segera menandatangani kesepakatan damai permanen guna menghindari kekerasan lebih lanjut.

Baca Juga: Militer AS Punya Program Lumba-Lumba Militer, Isu di Selat Hormuz Jadi Sorotan

Analisis: Dilema Gencatan Senjata Sepihak

Trita Parsi, pakar dari Quincy Institute, menilai situasi ini sangat rumit bagi Teheran. Menurutnya, Iran melihat tindakan AS sebagai upaya menciptakan kondisi "gencatan senjata sepihak".

"Persepsi Iran adalah mereka dilarang membalas, namun jika AS memutuskan untuk menembak, hal itu dianggap bukan pelanggaran gencatan senjata. Ini sangat sulit diterima oleh pihak Iran," jelas Parsi, dilansir dari Aljazeera.

Sumbatan di Selat Hormuz—jalur nadi bagi pasokan minyak dan LNG global—telah menyebabkan aktivitas pelayaran hampir berhenti total. Gangguan pada rute kunci ini langsung memukul pasar energi dunia yang sebelumnya mulai stabil.

Update Harga Minyak Dunia:

Minyak Mentah (WTI): Naik kembali ke level US$97,0 per barel.

Load More