Bisnis / Keuangan
Selasa, 12 Mei 2026 | 13:04 WIB
IHSG merosot tajam pada perdagangan sesi I hari ini. [ANTARA].
Baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,43 persen ke level 6.807 pada sesi pertama perdagangan Selasa, 12 Mei 2026.
  • Penurunan dipicu pelemahan nilai tukar rupiah serta kekhawatiran pasar atas konflik antara Amerika Serikat dan pihak Iran.
  • Investor juga menantikan hasil pertemuan antara pemimpin Amerika Serikat dan China terkait stabilitas hubungan dagang global terkini.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke jurang pada sesi pertama perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. IHSG pada sesi I turun 98 poin atau 1,43 persen ke level 6.807.

Berdasarkan riset Pilarmas Investindo Sekuritas, loyonya IHSG karena pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup dalam. Ditambah lagi, memudarnya harapan perdamaian Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pilarmas menjelaskan, bursa regional Asia bergerak cenderung melemah setelah memudarnya harapan negosiasi damai antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump disebut menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran dan menyatakan gencatan senjata kedua negara berada dalam kondisi kritis.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz yang dapat berdampak terhadap pasokan energi global.

IHSG merosot tajam pada perdagangan sesi I hari ini. [ANTARA].

Selain itu, pasar juga menantikan pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan ini. Investor berharap pertemuan tersebut dapat menjaga stabilitas hubungan dagang AS-China yang masih rapuh.

"Selain perdagangan, kedua pemimpin juga diharapkan untuk membahas konflik Timur Tengah dan Taiwan," tulis Pilarmas.

Dari domestik, pelemahan IHSG juga dipengaruhi tekanan terhadap rupiah akibat penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian global dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.

Pilarmas menilai meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset safe haven membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada di bawah tekanan.

"Fenomena ini memberikan tekanan besar bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, karena penguatan dolar yang dominan di pasar global secara otomatis memperkecil peluang mata uang pasar negara berkembang untuk terapresiasi," tulis Pilarmas.

Baca Juga: Intip Kisi-kisi Rebalancing MSCI

Sentimen lain yang turut membayangi pasar yakni antisipasi investor terhadap pengumuman rebalancing MSCI Indonesia yang dinilai menjadi cerminan penilaian investor global terhadap pasar modal domestik.

Adapun Pilarmas merekomendasikan saham BRPT dengan rating buy pada area support dan resistance di level 1.950 hingga 2.300.

Trafik Perdagangan

Pada perdagangan sesi I, sebanyak 17,96 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,49 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,48 juta kali.

Dalam perdagangan sesi I, sebanyak 203 saham bergerak naik, sedangkan 480 saham mengalami penurunan, dan 276 saham tidak mengalami pergerakan.

Pada sesi pertama perdagangan hari ini, saham-saham dengan kenaikan terbesar ditempati CCSI, ELPI, KJEN, KONI, dan KRYA.

Load More