Bisnis / Keuangan
Selasa, 12 Mei 2026 | 17:07 WIB
IHSG merosot tajam pada perdagangan sesi I hari ini. [ANTARA].
Baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,68 persen ke level 6.858 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026.
  • Pelemahan dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara, dan antisipasi rebalancing indeks MSCI.
  • Sektor kesehatan menjadi pemberat utama indeks, sementara Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG berpotensi melanjutkan tren pelemahan jangka pendek.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus-terusan memerah hingga akhir perdagadangan, Selasa. 12 Mei 2026. IHSG ditutup melemah 0,68 persen ke level 6.858.

Mengutip riset Phintraco Sekuritas, pelemahan rupiah hingga antisipasi rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi sentimen utama yang menekan pasar saham domestik.

"Pelemahan Rupiah pada level terendah baru serta antisipasi penurunan bobot oleh MSCI menjadi faktor negatif yang mendorong pelemahan IHSG,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

IHSG merosot tajam pada perdagangan sesi I hari ini. [ANTARA].

Phintraco menjelaskan, tekanan terhadap pasar turut dipicu kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun sebesar 10 basis poin ke level 6,72 persen. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Kenaikan yield SUN terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Di sisi lain, nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh rekor terendah baru di level Rp17.525 per dolar Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, kenaikan yield obligasi tidak hanya terjadi di Indonesia. Di AS, yield obligasi pemerintah meningkat menjelang rilis data inflasi. Sementara di Inggris, yield obligasi pemerintah naik ke level tertinggi sejak 2008 di tengah tekanan politik terhadap Perdana Menteri Inggris.

Dari sisi sektoral, sektor kesehatan menjadi pemberat utama IHSG setelah terkoreksi 3,51 persen. Sebaliknya, sektor basic materials mencatat penguatan tertinggi sebesar 1,85 persen.

Secara teknikal, Phintraco memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dalam jangka pendek.

Baca Juga: Rupiah Terkapar ke Level Rp17.529 per Dolar AS, Cetak Rekor Buruk Baru Sore Ini

"Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji level 6.700-6.750, namun jika IHSG bertahan di atas level tersebut diperkirakan berpotensi terjadi technical rebound, menguji level 6.900," tulis Phintraco.

Trafik Perdagangan

Pada perdagangan hari ini, sebanyak 31,08 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 16,27 triliun, serta frekuensi sebanyak 2,51 juta kali.

Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 217 saham bergerak naik, sedangkan 486 saham mengalami penurunan, dan 256 saham tidak mengalami pergerakan.

Pada hari ini, saham-saham yang mencatatkan kenaikan terbesar antara lain NZIA, CCSI, ELPI, KJEN, GRIA, YOII, BRPT.

Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah MORA, ASPR, IRRA, LABS, PYFA, MSJA, KAEF. PEHA.

Load More