- Purbaya Yudhi Sadewa melantik pejabat Kemenkeu pada 12 Mei 2026 sebagai bagian dinamika organisasi.
- Rotasi jabatan dianggap wajar untuk menjaga organisasi tetap bergerak, efektif, dan tidak kaku.
- Fokus utama bukan posisi individu, tetapi peningkatan kinerja dan kepercayaan publik.
Suara.com - Pada Selasa, 12 Mei 2026, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melantik sejumlah pejabat pimpinan tinggi pratama dan pejabat administrator sebagai bagian dari dinamika organisasi.
Pelantikan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali nilai dasar birokrasi yang berorientasi pada pelayanan.
Rotasi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat fungsi kelembagaan dan menjaga efektivitas kerja.
Menurut Menkeu, perpindahan jabatan adalah hal yang wajar dalam organisasi yang terus bergerak dan berkembang.
"Dalam organisasi, perpindahan itu biasa. Tour of duty, tour of area, biasa itu. Organisasi memang harus bergerak. Kalau tidak bergerak, lama-lama akan kaku," ungkap Purbaya pada Selasa, 12 Mei 2026.
"Tapi yang paling penting bukan siapa pindah ke mana. Yang penting adalah setelah pelantikan ini, fungsi Kemenkeu harus semakin kuat. Kita kerjanya semakin rapi, dan kepercayaan publik akan semakin baik," lanjutnya.
Pesan tersebut menekankan bahwa esensi utama dari rotasi jabatan bukan pada individu, melainkan pada peningkatan kualitas organisasi.
Dengan demikian, setiap perubahan posisi harus berdampak langsung pada kinerja yang lebih baik dan kepercayaan publik yang meningkat.
Lebih lanjut, Menkeu mengingatkan bahwa cara pandang terhadap jabatan akan menentukan sikap dan perilaku dalam bekerja.
Baca Juga: Purbaya Tegaskan Tak Ada Lagi Tax Amnesty, Kecuali Perintah Presiden
Ia menegaskan pentingnya memaknai jabatan sebagai tanggung jawab pelayanan, bukan sekadar fasilitas.
"Jabatan ini bukan fasilitas, jabatan ini fungsi. Kalau dilihat sebagai fasilitas, kita sibuk menjaga posisi. Kalau dilihat sebagai fungsi, kita fokus bekerja," tandas Menkeu.
Pernyataan ini menjadi pengingat kuat bahwa orientasi kerja harus berfokus pada kontribusi nyata, bukan pada kenyamanan pribadi.
Dalam konteks birokrasi modern, integritas dan profesionalisme menjadi fondasi utama yang tidak dapat ditawar.
Oleh karena itu, Menkeu meminta seluruh jajaran untuk bekerja secara konsisten dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat.
Ia juga menegaskan pentingnya keselarasan dalam menjalankan kebijakan agar tidak terjadi fragmentasi di dalam organisasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
96% Perusahaan RI Rekrut Lulusan Micro-Credentials, Gaji Dibayar Tinggi
-
Pengguna Tol Jakarta-Cikampek Wajib Tahu! Ada Perbaikan Jalan di Beberapa Titik hingga Awal Juli
-
Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!
-
Jembatan Donat Dukuh Atas Rampung 2028, Menhub: Enam Moda Transportasi Jakarta Akan Terintegrasi
-
Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Kabar Baik! Stasiun JIS Akan Punya Dua Peron, Akses ke Stadion dan Ancol Makin Lancar
-
Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok
-
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong
-
IHSG Ambles 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp486 Triliun
-
60% Anak Muda Terkendala Modal Usaha