Bisnis / Makro
Selasa, 12 Mei 2026 | 19:24 WIB
Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di ritel modern, Lotte Grosir Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (8/9/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Stok beras tembus rekor 5,19 juta ton, namun harga di 105 daerah tetap melonjak.
  • Pemerintah instruksikan Bulog percepat distribusi tanpa alasan cuaca buruk.
  • Harga gabah petani mahal (Rp8.000/kg) dan biaya logistik katrol harga eceran.

Suara.com - Pemerintah pusat menyoroti anomali harga beras yang masih mengalami kenaikan di 105 kabupaten/kota, padahal stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini tercatat sebagai yang tertinggi dalam sejarah, yakni mencapai 5,19 juta ton. Kondisi surplus ini seharusnya mampu meredam gejolak harga di tingkat konsumen.

Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, menyatakan bahwa persoalan distribusi menjadi titik krusial yang harus segera dibenahi. Ia menegaskan tidak boleh ada lagi alasan klasik seperti kendala cuaca atau gelombang laut yang menghambat pasokan.

"Beras kita surplus, stok tertinggi sepanjang sejarah 5,19 juta ton. Tapi di 105 kabupaten harganya masih naik. Ini yang harus kita atasi. Kalau memang ada kendala gelombang tinggi di bulan tertentu, seharusnya satu bulan sebelumnya stok sudah didorong ke daerah tersebut," tegas Tomsi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (12/5/2026).

Pemerintah meminta Perum Bulog untuk memperkuat koordinasi antarwilayah guna memastikan suplai dari daerah surplus mengalir ke wilayah yang mengalami tekanan harga. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan mengungkapkan bahwa meski harga beras medium di Zona 1 mulai stabil, harga di Zona 2 dan Zona 3 masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, menjelaskan kenaikan harga dalam dua pekan terakhir dipicu oleh tingginya harga gabah di tingkat petani yang menyentuh Rp7.600 hingga Rp8.000 per kilogram, ditambah beban biaya transportasi dan kemasan.

Merespons hal tersebut, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Perum Bulog, Epi Sulandari, menyatakan pihaknya telah meningkatkan penyaluran beras SPHP menjadi 5.000–6.000 ton per hari dan memperluas jaringan pengecer untuk menekan harga di 105 daerah terdampak tersebut.

Load More