- Stok beras tembus rekor 5,19 juta ton, namun harga di 105 daerah tetap melonjak.
- Pemerintah instruksikan Bulog percepat distribusi tanpa alasan cuaca buruk.
- Harga gabah petani mahal (Rp8.000/kg) dan biaya logistik katrol harga eceran.
Suara.com - Pemerintah pusat menyoroti anomali harga beras yang masih mengalami kenaikan di 105 kabupaten/kota, padahal stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini tercatat sebagai yang tertinggi dalam sejarah, yakni mencapai 5,19 juta ton. Kondisi surplus ini seharusnya mampu meredam gejolak harga di tingkat konsumen.
Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, menyatakan bahwa persoalan distribusi menjadi titik krusial yang harus segera dibenahi. Ia menegaskan tidak boleh ada lagi alasan klasik seperti kendala cuaca atau gelombang laut yang menghambat pasokan.
"Beras kita surplus, stok tertinggi sepanjang sejarah 5,19 juta ton. Tapi di 105 kabupaten harganya masih naik. Ini yang harus kita atasi. Kalau memang ada kendala gelombang tinggi di bulan tertentu, seharusnya satu bulan sebelumnya stok sudah didorong ke daerah tersebut," tegas Tomsi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (12/5/2026).
Pemerintah meminta Perum Bulog untuk memperkuat koordinasi antarwilayah guna memastikan suplai dari daerah surplus mengalir ke wilayah yang mengalami tekanan harga. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan mengungkapkan bahwa meski harga beras medium di Zona 1 mulai stabil, harga di Zona 2 dan Zona 3 masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, menjelaskan kenaikan harga dalam dua pekan terakhir dipicu oleh tingginya harga gabah di tingkat petani yang menyentuh Rp7.600 hingga Rp8.000 per kilogram, ditambah beban biaya transportasi dan kemasan.
Merespons hal tersebut, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Perum Bulog, Epi Sulandari, menyatakan pihaknya telah meningkatkan penyaluran beras SPHP menjadi 5.000–6.000 ton per hari dan memperluas jaringan pengecer untuk menekan harga di 105 daerah terdampak tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Rupiah Tembus di Rp17.500, Pedagang Elektronik: Harga Sudah Naik 5 Persen
-
Rupiah Tembus Rp17.528, Harga Laptop dan Ponsel di Mall Ambasador Terancam Melonjak
-
Siap-siap! Dana Rp 31,5 Triliun Bakal Hilang dari Pasar Modal RI
-
RI Bakal Punya Pusat Riset Timah di Bangka
-
Gegara Pelemahan Rupiah, Harga AC dan TV Langsung Naik
-
Pegadaian Semarang Luncurkan BCC 2026 di UNNES, Lebih dari 1.000 Mahasiswa Hadir
-
Rupiah Cetak Rekor Terlemah, IHSG Ditutup Merah Lagi
-
Purbaya Siap Jelaskan ke DPR soal Rupiah Lemah, Tegaskan Itu Tanggung Jawab BI
-
Jelang Rebalancing MSCI, Emiten Sinarmas DSSA Ditinggal Kabur Investor Asing
-
Telkom Bukukan Kinerja Resilience pada FY25, Hasilkan Total Shareholder Return 35,7%