- Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.540 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026 di Jakarta.
- Pelemahan dipicu oleh sentimen rebalancing indeks MSCI serta lonjakan harga minyak mentah di pasar global.
- Depresiasi mata uang nasional ini menjadi sinyal kewaspadaan terhadap ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.
Suara.com - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi (13/5/2026), mata uang Garuda kembali tersungkur dan mencetak rekor buruk baru dalam sejarah nilai tukar domestik, dengan bertahan di zona merah di kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data pasar spot dari Bloomberg, rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.540 per dolar AS. Angka ini menunjukkan depresiasi sebesar 12 poin atau setara 0,07 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan Selasa yang berada di level Rp17.529.
Kondisi memprihatinkan ini selaras dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang menempatkan rupiah pada level Rp17.415 per dolar AS.
Pergerakan ini kian mempertegas tren pelemahan signifikan yang terjadi sepanjang tahun 2026, di mana rupiah berkali-kali menembus batas psikologis terlemahnya di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sentimen MSCI hingga Harga Minyak
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang mencekik rupiah adalah sentimen dari pasar modal, khususnya terkait rebalancing indeks MSCI periode Mei 2026.
"Jumlah perusahaan asal Indonesia yang didepak dari indeks MSCI pada periode ini ternyata jauh lebih banyak daripada ekspektasi awal para pelaku pasar dan otoritas. Hal inilah yang menjadi beban berat bagi nilai tukar kita," jelas Lukman saat memberikan keterangannya.
Selain faktor internal pasar modal, tekanan eksternal juga datang dari melambungnya harga komoditas energi. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang terus terjadi ikut memberikan tekanan tambahan bagi stabilitas mata uang nasional.
"Rupiah memiliki potensi untuk terus tertekan seiring dengan penguatan dolar AS, terutama setelah rilis data inflasi Amerika yang melampaui prediksi pasar. Untuk hari ini, kami memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.450 hingga Rp17.600," tambahnya.
Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp17.500, Puan Maharani Ingatkan Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!
Nasib kurang beruntung rupiah nyatanya juga dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia. Won Korea Selatan tercatat menjadi mata uang dengan koreksi terdalam di Asia pagi ini setelah menyusut 0,17 persen.
Pelemahan ini diikuti oleh dolar Taiwan yang terkoreksi 0,13 persen, peso Filipina sebesar 0,05 persen, serta yen Jepang yang bergerak melemah tipis.
Namun, tidak semua mata uang Asia bertekuk lutut di hadapan the greenback. Baht Thailand justru tampil perkasa dengan penguatan tertinggi di Asia sebesar 0,22 persen.
Diikuti oleh ringgit Malaysia yang naik 0,13 persen, yuan China yang terapresiasi 0,03 persen, serta dolar Hong Kong yang menguat tipis.
Secara akumulatif hingga pertengahan Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mengalami guncangan hebat.
Penembusan level Rp17.500 per dolar AS ini menjadi sinyal waspada bagi ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian kondisi global yang kian dinamis.
Berita Terkait
-
Pelemahan Rupiah Bikin Emas Meroket, Harga Antam Hingga UBS Kompak Meroket!
-
Rupiah Melemah Jangan Sampai Impulsif: Strategi Waras Hadapi Krisis
-
Rupiah Melemah Terus: Petaka Bagi WNI, Karpet Merah untuk WNA
-
Rupiah Ambruk, Konsumen Ramai-ramai Beralih ke Produk China
-
Rupiah Sentuh Rp17.500 per Dolar AS, BI Bongkar Penyebabnya
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Kemendag Bakal Wajibkan Marketplace Transparan soal Biaya Admin Seller
-
Sejumlah SPBU Vivo di Jabodetabek Tutup, Netizen Heboh Keluhkan Isu Pembatasan Kuota
-
Cara Membersihkan Nama di SLIK OJK, Ini Panduannya agar Pengajuan Pinjaman Disetujui
-
BI Buka Suara Menkeu Purbaya Mau Turun Tangan Stabilkan Rupiah
-
Pertamina Goes to Campus 2026 Siap Jelajahi Kampus di Indonesia
-
Tembus Top 6 Dunia, Startup Binaan Pertamina Bawa Nama Indonesia di Ajang Inovasi Sosial Global
-
6 Emiten Keluar dari MSCI, OJK Ungkap Valuasi Saham RI di Bawah Asia
-
Harga Cabai Naik, Kemendag Masukkan Cabai ke Daftar Komoditas Prioritas Pengendalian Inflasi
-
Jangan Hanya Kejar Pertumbuhan, Industri Kripto Kini Dituntut Transparan
-
Kredibiltas Jadi Bukti, Presiden RI Buat Rupiah Menguat ke Rp6.500 Per Dolar AS