-
Pergerakan Rupiah mencatat sejarah pasang surut ekonomi sejak awal kemerdekaan.
-
Krisis moneter 1998 menjadi titik terendah dalam sejarah pergerakan Rupiah.
-
Tantangan global membayangi pergerakan Rupiah di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Suara.com - Nilai tukar Rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika Serikat (USD) bukan sekadar angka di papan bursa.
Nilai tukar rupiah ini adalah cerminan jatuh bangunnya ekonomi Indonesia.
Sejak merdeka hingga saat ini, mata uang Garuda telah melewati berbagai badai, mulai dari sanering, krisis moneter 1998, hingga tekanan global yang kini membayangi pemerintahan Prabowo Subianto.
Bagaimana sebenarnya sejarah panjang pergerakan Rupiah dan di mana posisi nilai tukar kita di era kepemimpinan Prabowo Subianto? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Era Soekarno
Pada awal kemerdekaan, tepatnya tahun 1950, Rupiah mulai digunakan secara nasional.
Saat itu, posisinya sangat kuat, yakni berada di level Rp3,80 per USD.
Namun, ketidakstabilan politik dan inflasi tinggi perlahan menggerus nilainya.
Tahun 1957, Rupiah merosot ke level Rp90 dan krisis semakin parah pada 1962 hingga menyentuh Rp1.205.
Baca Juga: Prabowo Sebut Warga Desa Gak Pakai Dolar: Benarkah Aman dari Dampak Rupiah Melemah?
Puncaknya terjadi saat peristiwa G30S PKI tahun 1965, Rupiah anjlok ke angka Rp4.995 per USD.
Guna menyelamatkan ekonomi, pemerintah melakukan sanering atau pemotongan nilai uang di mana Rp1.000 lama menjadi Rp1 baru, yang dipatok pada Rp0,25 per USD.
Era Soeharto
Di awal Orde Baru, Rupiah sempat stabil di kisaran Rp250 hingga Rp500 per USD.
Namun, badai sesungguhnya datang pada akhir era 90-an. Krisis Moneter (Krismon) 1997-1998 menjadi titik terkelam dalam sejarah Rupiah.
Dari posisi Rp2.248 di tahun 1995, Rupiah terjun bebas hingga mencapai rekor terlemah sepanjang sejarah pada Juni 1998 di level Rp16.800 per USD.
Berita Terkait
-
Prabowo Sebut Warga Desa Gak Pakai Dolar: Benarkah Aman dari Dampak Rupiah Melemah?
-
Tentang Dolar dan Orang Desa: Meluruskan Logika Pidato Presiden di Nganjuk
-
IHSG Libur 4 Hari, Senin Besok Dihantui Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Investor
-
Gohan Buat Haru Penonton, Ini 5 Rekomendasi Film untuk Libur Panjang
-
5 Rekomendasi HP OPPO RAM Besar 2026, Cocok untuk Gaming hingga Multitasking
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
Terkini
-
Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia
-
IHSG Libur 4 Hari, Senin Besok Dihantui Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Investor
-
Percepat Akselerasi KEK di Indonesia, Wahyu Agung Group Jalani MOU dengan Perusahaan China
-
Nasabah PNM Mekaar Buktikan Pemberdayaan Perempuan Bisa Menguatkan Ekonomi Keluarga
-
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Pakar Prediksi Harga BBM Nonsubsidi dan Bahan Baku Impor Naik!
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Prabowo: Yang Pusing Pengusaha!
-
Permintaan Emas Batangan di Indonesia Melonjak 47%, Warga Ogah Lirik Saham?
-
Menjelang Bitcoin Pizza Day, Member Indodax Hampir Tembus 10 Juta Pengguna
-
Kesabaran Trump ke Iran Habis, Harga Minyak Naik Lagi
-
IPC TPK Area Panjang Datangkan Crane Raksasa Post Panamax dari China