- Pelaku usaha khawatir pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia pada 1 Juni 2026 mengganggu pasar ekspor komoditas nasional.
- Managing Director Danantara, Rohan Hafas, menegaskan perdagangan tetap mengacu pada mekanisme harga bursa komoditas internasional yang berlaku.
- PT Danantara Sumber Daya Indonesia dibentuk untuk memperkuat tata kelola serta meningkatkan investasi komoditas strategis bagi perekonomian nasional.
Suara.com - Rencana pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) memunculkan kekhawatiran dari sebagian pelaku usaha, khususnya di sektor sawit dan batu bara.
Sejumlah pihak menyoroti potensi gangguan terhadap pasar ekspor yang selama ini telah terbangun antara eksportir dan pembeli di luar negeri.
Salah satu persoalannya mengenai relasi bisnis yang selama ini sudah terbentuk antara perusahaan dalam negeri dengan pembeli atau importir dari berbagai negara.
Pelaku usaha disebut telah memiliki pasar dan pelanggan masing-masing, sehingga muncul pertanyaan mengenai dampak pembentukan DSI terhadap pola perdagangan yang sudah berjalan.
Menanggapi hal itu, Managing Director Stakeholders Management & Communications Danantara, Rohan Hafas, mengatakan perdagangan komoditas global selama ini telah memiliki mekanisme pasar yang berjalan secara internasional.
"Kalau kekhawatiran pengusaha dari sisi punya langganan atau tidak, bursa komoditas di dunia ini sudah terjadi, sudah terbentuk," kata Rohan kepada wartawan, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, komoditas seperti batu bara dan sawit memiliki acuan harga di pasar internasional sehingga proses transaksi dinilai tetap akan mengacu pada mekanisme yang berlaku.
"Mereka juga, kalau kita beli minyak kan Indonesia juga beli di bursa, brent oil. Pembeli-penjual ada matchmaker-nya," ujarnya.
Rohan mengatakan, pada tahap kedua operasionalnya nanti PT DSI akan berperan sebagai trader yang membeli komoditas dari eksportir sebelum menjualnya kembali ke pasar internasional.
Baca Juga: DSI Ambil Alih Ekspor Komoditas, Rantai Pasok Nasional Bakal Berubah Total?
Dalam skema tersebut, perusahaan disebut akan membeli komoditas dengan mengacu pada harga pasar yang berlaku.
"Harganya dia mau minta lebih, enggak bisa dong di bursa-bursa dunia ini angkanya segini," katanya.
Selain kekhawatiran dari pelaku usaha, muncul pula pertanyaan mengenai respons investor terhadap kebijakan baru tersebut.
Sejumlah pihak menilai perubahan kebijakan yang berlangsung cepat dapat menimbulkan persepsi ketidakpastian.
Namun, Danantara menilai keberadaan DSI justru diharapkan dapat mendukung tata kelola perdagangan yang lebih transparan.
Menurut Rohan, pembentukan DSI ditujukan untuk memperkuat pengelolaan perdagangan komoditas strategis nasional.
"This is only for Indonesia. Kalau uangnya masuk, tumbuh perekonomian, tumbuh investasi di dalam negeri," ucapnya.
PT DSI dijadwalkan mulai beroperasi efektif pada 1 Juni 2026. Pada tahap awal, komoditas yang akan masuk ke dalam skema tersebut meliputi batu bara, sawit, dan paduan logam.
Berita Terkait
-
Produk Lokal RI Siap Ekspor ke Pasar ASEAN Berkat Jualan Online via Live
-
Danantara Disebut Jadi Mesin Baru Ekonomi Indonesia, Siap Akhiri Era Inefisiensi BUMN
-
Lawan Overcapacity, Strategi Transformasi SIG Mulai Berbuah Manis
-
Aturan Baru DHE SDA Berlaku 1 Juni 2026, Devisa Eksportir Wajib Disimpan di Bank Negara
-
Batik Gunung Kendil Rembang Sukses Tembus Pasar Eropa
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.652 per Dolar AS
-
IHSG Mulai Reborn, Menghijau di Awal Perdagangan Kamis
-
Pasokan Kritis Akibat Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Melesat ke Level 105 Dolar AS
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi, Hari Ini Dibanderol Rp 2,8 Juta/Gram
-
Literasi Keuangan Tertinggal dari Inklusi, Mahasiswa Rentan Terjebak Utang di Era Cashless
-
OJK Terbitkan Dua Aturan Baru Efek dan Manajer Investasi, Update Modal Minimal
-
Kontraktor Tambang Andalan Perkuat Armada, Bidik Lonjakan Laba 31%
-
Biaya Logistik RI Membengkak, Kapal Antre Berhari-hari di Pelabuhan
-
Strategi Prabowo Wujudkan Kedaulatan Pangan
-
Bank Himbara hingga Bank Asing Kebanjiran Dana BI, Total Likuiditas Tembus Rp424,7 Triliun