Bisnis / Keuangan
Kamis, 21 Mei 2026 | 08:16 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. [Suara.com/Rina Anggraeni].
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial sebesar Rp424,7 triliun per Mei 2026 untuk mendukung pertumbuhan kredit sektor prioritas nasional.
  • Alokasi dana tersebut disalurkan melalui berbagai kelompok bank, seperti bank BUMN, bank swasta, BPD, dan kantor cabang bank asing.
  • Peningkatan likuiditas moneter dan pertumbuhan uang beredar bertujuan menjaga stabilitas ekonomi serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) terus melanjutkan kebijakan makroprudensial longgar melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hal ini guna mendorong pertumbuhan kredit perbankan, pembiayaan sektor prioritas, dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. 

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan hingga pekan pertama Mei 2026, insentif KLM tercatat mencapai Rp424,7 triliun sebagai bagian dari strategi penguatan likuiditas perbankan dan dukungan, terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Dari total insentif KLM sebesar Rp424,7 triliun, alokasi melalui lending channel mencapai Rp361,0 triliun, sementara interest rate channel sebesar Rp63,7 triliun," katanya dalam RDG secara virtual, Kamis (21/5/202).

Berdasarkan kelompok bank, penyaluran KLM terbesar diberikan kepada bank BUMN sebesar Rp214,2 triliun. Selain itu bank swasta hingga kantor cabang luar negeri juga kebanjiran likuiditas dari BI. 

"Sementara itu, bank umum swasta nasional (BUSN) menerima Rp171,1 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) sebesar Rp30,6 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) sebesar Rp8,2 triliun, " jelasnya. 

Menurut Perry Warjiyo, kebijakan likuiditas Bank Indonesia tersebut diarahkan untuk mempercepat penyaluran kredit kepada sektor-sektor prioritas seperti pertanian, industri, hilirisasi, jasa, ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, perumahan, serta UMKM dan ekonomi berkelanjutan. 

“Ke depan, KLM akan terus diperkuat dengan memberikan insentif bagi bank yang meningkatkan pembiayaan dan pendanaan, termasuk non-kredit dan non-DPK, serta bagi bank yang menetapkan suku bunga kredit atau pembiayaan yang sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia,” terang Perry Warjiyo.

Selain memperkuat kebijakan makroprudensial, BI juga mencatat pertumbuhan jumlah uang beredar yang lebih tinggi sejalan dengan kebijakan ekspansi likuiditas moneter. 

Uang primer atau M0 pada April 2026 tumbuh sebesar 14,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 11,8 persen.

Baca Juga: Krom Bank Tahan Seluruh Laba Rp143 Miliar untuk Ekspansi, Kredit Melonjak 103%

Pertumbuhan M0 terutama dipengaruhi oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia yang tumbuh 28,4 persen secara tahunan serta kenaikan uang kartal sebesar 14,6 persen. 

BI menilai kondisi tersebut didorong oleh operasi moneter yang lebih ekspansif dan meningkatnya kebutuhan likuiditas perbankan untuk pembayaran dividen.

Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2026 tercatat tumbuh 9,7 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 8,7 persen. 

Pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh peningkatan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan penyaluran kredit perbankan.

Perry Warjiyo menegaskan, Bank Indonesia akan terus menjaga pertumbuhan uang beredar agar tetap konsisten dalam mendukung stabilitas ekonomi, pengendalian likuiditas, serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi nasional melalui sinergi kebijakan bersama pemerintah. 

Ilustrasi bank. [Pixabay]

Dukungan likuiditas perbankan dan penguatan kredit sektor prioritas dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.

Load More