Bisnis / Energi
Kamis, 21 Mei 2026 | 10:13 WIB
Ilustrasi aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz [Unsplash/Hisham]
Baca 10 detik
  • Tiga supertanker berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Asia setelah sempat tertahan selama dua bulan akibat konflik militer.
  • Perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran sejak 28 Februari melumpuhkan jalur vital pasokan minyak mentah dunia tersebut.
  • Dampak konflik menyebabkan penurunan intensitas pelayaran harian secara drastis serta menurunkan harga minyak mentah global saat ini.

Suara.com - Tiga kapal tanker raksasa (supertanker) yang mengangkut jutaan barel minyak mentah menuju pasar Asia dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu waktu setempat.

Berdasarkan data pelayaran dari LSEG dan Kpler, kapal-kapal tersebut sebelumnya sempat terjebak dan terpaksa mengapung di kawasan Teluk selama lebih dari dua bulan dengan total muatan mencapai 6 juta barel minyak mentah Timur Tengah.

Iring-iringan kapal ini menjadi bagian dari sedikit supertanker yang berhasil keluar dari Teluk bulan ini melalui rute transit khusus yang diperintahkan oleh otoritas Iran.

Bersamaan dengan momen ini, saat berita ini ditulis, harga minyak dunia turun di angka USD 99,06 sementara, harga minyak Brent juga turun di angka USD 105, harga ini menurun dalam sepekan yang rekor tertingginya berada di ang aUSD 108 per barel.

Blokade dan penurunan lalu lintas maritim ini merupakan dampak langsung dari perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu.

Konflik bersenjata tersebut telah melumpuhkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur logistik vital yang biasanya menjadi rute bagi seperlima pasokan energi dan minyak mentah dunia.

Rute Pelayaran Menuju Korea Selatan dan China

Dikutip dari Reuters, data pelayaran menunjukkan kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Korea Selatan, Universal Winner, bergerak keluar dari selat menyusul keberangkatan dua tanker asal China. Kapal tersebut membawa 2 juta barel minyak mentah Kuwait yang telah dimuat sejak 4 Maret.

Menurut data Kpler, tanker tersebut sedang berlayar menuju pelabuhan Ulsan, lokasi kilang minyak terbesar milik SK Energy di Korea Selatan, dan dijadwalkan membongkar muatannya pada 9 Juni mendatang.

Baca Juga: Doa Jahat Warga AS untuk Timnas Iran di Piala Dunia 2026: Datang Kalah Lalu Gak Pulang

Terkait hal ini, pihak SK Energy menolak memberikan komentar, sementara juru bicara HMM selaku pemilik dan pengelola kapal belum dapat dihubungi.

Di sisi lain, pergerakan tanker China juga mulai menunjukkan progres:

  • Yuan Gui Yang: VLCC berbendera China yang disewa oleh Unipec (anak usaha Sinopec) ini mengangkut 200 juta barel minyak mentah Basrah Irak yang dimuat pada 27 Februari, tepat sehari sebelum perang meletus. Kapal milik Cosco Shipping ini diperkirakan tiba di Pelabuhan Shuidong, Provinsi Guangdong, pada 4 Cuaca.
  • Ocean Lily: Tanker berbendera Hong Kong milik Sinochem ini membawa masing-masing 1 juta barel minyak Qatari al-Shaheen dan minyak Basrah Irak. Kapal diproyeksikan bersandar di Pelabuhan Quanzhou, Provinsi Fujian, pada 5 Juni.
  • Yuan Hua Hu: Pekan lalu, tanker ini juga dilaporkan telah meloloskan diri dari selat dengan membawa 2 juta barel minyak Irak menuju Pelabuhan Zhoushan di China Timur.

Sementara itu, data LSEG memantau sebaliknya, sebuah tanker kosong berbendera Siprus bernama Grand Lady terdeteksi memasuki Selat Hormuz dengan mematikan transpondernya dan kini sedang membuang sauh di lepas pantai Dubai.

Sebelum perang berkecamuk, lalu lintas harian di Selat Hormuz tergolong sangat padat dengan rata-rata 125 hingga 140 perlintasan kapal per hari. Imbas konflik ini, sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di dalam Teluk di atas ratusan kapal kargo yang tidak bisa keluar.

Analisis Reuters terhadap data pelacak satelit SynMax dan Kpler menunjukkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, intensitas pelayaran menyusut tajam hingga hanya menyisakan rata-rata 10 kapal yang keluar-masuk per hari.

Volume ini didominasi oleh kapal kargo kecil, tanker kimia, dan pengangkut gas alam cair (LPG), sementara tanker minyak mentah berukuran besar masih mencatatkan proporsi yang sangat kecil.

Load More