- Tiga supertanker berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Asia setelah sempat tertahan selama dua bulan akibat konflik militer.
- Perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran sejak 28 Februari melumpuhkan jalur vital pasokan minyak mentah dunia tersebut.
- Dampak konflik menyebabkan penurunan intensitas pelayaran harian secara drastis serta menurunkan harga minyak mentah global saat ini.
Suara.com - Tiga kapal tanker raksasa (supertanker) yang mengangkut jutaan barel minyak mentah menuju pasar Asia dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu waktu setempat.
Berdasarkan data pelayaran dari LSEG dan Kpler, kapal-kapal tersebut sebelumnya sempat terjebak dan terpaksa mengapung di kawasan Teluk selama lebih dari dua bulan dengan total muatan mencapai 6 juta barel minyak mentah Timur Tengah.
Iring-iringan kapal ini menjadi bagian dari sedikit supertanker yang berhasil keluar dari Teluk bulan ini melalui rute transit khusus yang diperintahkan oleh otoritas Iran.
Bersamaan dengan momen ini, saat berita ini ditulis, harga minyak dunia turun di angka USD 99,06 sementara, harga minyak Brent juga turun di angka USD 105, harga ini menurun dalam sepekan yang rekor tertingginya berada di ang aUSD 108 per barel.
Blokade dan penurunan lalu lintas maritim ini merupakan dampak langsung dari perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Konflik bersenjata tersebut telah melumpuhkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur logistik vital yang biasanya menjadi rute bagi seperlima pasokan energi dan minyak mentah dunia.
Rute Pelayaran Menuju Korea Selatan dan China
Dikutip dari Reuters, data pelayaran menunjukkan kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Korea Selatan, Universal Winner, bergerak keluar dari selat menyusul keberangkatan dua tanker asal China. Kapal tersebut membawa 2 juta barel minyak mentah Kuwait yang telah dimuat sejak 4 Maret.
Menurut data Kpler, tanker tersebut sedang berlayar menuju pelabuhan Ulsan, lokasi kilang minyak terbesar milik SK Energy di Korea Selatan, dan dijadwalkan membongkar muatannya pada 9 Juni mendatang.
Baca Juga: Doa Jahat Warga AS untuk Timnas Iran di Piala Dunia 2026: Datang Kalah Lalu Gak Pulang
Terkait hal ini, pihak SK Energy menolak memberikan komentar, sementara juru bicara HMM selaku pemilik dan pengelola kapal belum dapat dihubungi.
Di sisi lain, pergerakan tanker China juga mulai menunjukkan progres:
- Yuan Gui Yang: VLCC berbendera China yang disewa oleh Unipec (anak usaha Sinopec) ini mengangkut 200 juta barel minyak mentah Basrah Irak yang dimuat pada 27 Februari, tepat sehari sebelum perang meletus. Kapal milik Cosco Shipping ini diperkirakan tiba di Pelabuhan Shuidong, Provinsi Guangdong, pada 4 Cuaca.
- Ocean Lily: Tanker berbendera Hong Kong milik Sinochem ini membawa masing-masing 1 juta barel minyak Qatari al-Shaheen dan minyak Basrah Irak. Kapal diproyeksikan bersandar di Pelabuhan Quanzhou, Provinsi Fujian, pada 5 Juni.
- Yuan Hua Hu: Pekan lalu, tanker ini juga dilaporkan telah meloloskan diri dari selat dengan membawa 2 juta barel minyak Irak menuju Pelabuhan Zhoushan di China Timur.
Sementara itu, data LSEG memantau sebaliknya, sebuah tanker kosong berbendera Siprus bernama Grand Lady terdeteksi memasuki Selat Hormuz dengan mematikan transpondernya dan kini sedang membuang sauh di lepas pantai Dubai.
Sebelum perang berkecamuk, lalu lintas harian di Selat Hormuz tergolong sangat padat dengan rata-rata 125 hingga 140 perlintasan kapal per hari. Imbas konflik ini, sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di dalam Teluk di atas ratusan kapal kargo yang tidak bisa keluar.
Analisis Reuters terhadap data pelacak satelit SynMax dan Kpler menunjukkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, intensitas pelayaran menyusut tajam hingga hanya menyisakan rata-rata 10 kapal yang keluar-masuk per hari.
Volume ini didominasi oleh kapal kargo kecil, tanker kimia, dan pengangkut gas alam cair (LPG), sementara tanker minyak mentah berukuran besar masih mencatatkan proporsi yang sangat kecil.
Berita Terkait
-
Pasokan Kritis Akibat Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Melesat ke Level 105 Dolar AS
-
Menakar Ego Donald Trump: Tabuhan Genderang Perang Mengancam Dompet Kita
-
Kisah Kegagalan Netanyahu Jadikan Mahmoud Ahmadinejad Penguasa Iran
-
Gertakan atau Ancaman Nyata? Klaim Donald Trump Tunda Serangan Bikin Iran Ketar-ketir
-
Harga Minyak Bergejolak Usai Trump Ancam Serang Iran, Stok AS Menipis!
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Pengusaha Khawatir Pasar Ekspor Terganggu Imbas Pembentukan DSI, Begini Respons Danantara
-
Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.652 per Dolar AS
-
IHSG Mulai Reborn, Menghijau di Awal Perdagangan Kamis
-
Pasokan Kritis Akibat Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Melesat ke Level 105 Dolar AS
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi, Hari Ini Dibanderol Rp 2,8 Juta/Gram
-
Literasi Keuangan Tertinggal dari Inklusi, Mahasiswa Rentan Terjebak Utang di Era Cashless
-
OJK Terbitkan Dua Aturan Baru Efek dan Manajer Investasi, Update Modal Minimal
-
Kontraktor Tambang Andalan Perkuat Armada, Bidik Lonjakan Laba 31%
-
Biaya Logistik RI Membengkak, Kapal Antre Berhari-hari di Pelabuhan
-
Strategi Prabowo Wujudkan Kedaulatan Pangan