- Pemerintah Indonesia mengungkap dugaan manipulasi harga ekspor minyak kelapa sawit oleh sepuluh perusahaan besar melalui sistem digital.
- Modus operandi melibatkan penjualan murah ke perantara di Singapura untuk meminimalkan kewajiban pajak dan bea ekspor negara.
- Kementerian Keuangan sedang melakukan audit forensik mendalam serta menjaga kerahasiaan identitas perusahaan demi kepentingan proses hukum yang berjalan.
Perusahaan-perusahaan tersebut menjual komoditas CPO mereka kepada jaringan anak usaha atau entitas perantara (broker) yang sengaja didirikan di Singapura dengan harga yang sangat murah—bahkan hanya separuh dari harga patokan internasional.
Meski di atas kertas transaksi tercatat dilakukan dengan perusahaan di Singapura, pada realitas fisiknya, kapal pengangkut CPO dikirim langsung dari pelabuhan Indonesia menuju negara pembeli akhir, salah satunya Amerika Serikat.
Melalui skema akuntansi ini, selisih keuntungan (margin) yang masif sengaja diendapkan di luar negeri. Dampaknya, nilai ekspor yang tercatat di dalam negeri menyusut tajam, yang secara otomatis memangkas kewajiban pembayaran Pajak Penghasilan (PPh), Bea Keluar (BK), serta Pungutan Ekspor (PE) yang seharusnya masuk ke kas negara.
Sebagai contoh kasus, pemerintah menemukan satu berkas pengapalan menuju Amerika Serikat yang mencatatkan selisih nilai hingga 57 persen.
Dokumen ekspor yang dilaporkan ke bea cukai hanya bernilai US$1,44 juta, padahal nilai riil komoditas di dalam kapal tersebut ditaksir jauh lebih tinggi.
Pengusutan terhadap 10 korporasi sawit misterius ini menjadi bagian dari agenda besar pemerintah dalam menertibkan rantai pasok komoditas strategis nasional, termasuk di sektor kelapa sawit dan batu bara.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah dirumorkan tengah mengkaji pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus yang akan bertindak sebagai agregator ekspor tunggal demi meningkatkan transparansi tata niaga.
Di saat yang bersamaan, penegak hukum juga sedang menyidik kasus korupsi komoditas terpisah, yakni manipulasi pos tarif (HS Code) ekspor CPO yang diklaim sebagai Palm Oil Mill Effluent (POME) dengan estimasi kerugian negara mencapai Rp14 triliun.
Kasus paralel tersebut sejauh ini telah menjerat 11 orang sebagai tersangka, yang terdiri dari kombinasi oknum birokrat dan direktur operasional perusahaan swasta.
Baca Juga: Prabowo Sebut Sawit-Batu Bara Bikin Cuan RI
Berita Terkait
-
Modus Tambang Luar IUP Terbongkar, Kejagung Jebloskan Bos Bauksit Sudianto Aseng ke Penjara
-
Daftar Harta yang Disita dari Tersangka Korupsi Dirjen SDA Kementerian PU
-
Puluhan Tas Mewah dan Perhiasan Sandra Dewi yang Laku Terjual di Pelelangan BPA Fair
-
Nyanyian Staf Ahli Soal Uang Ratusan Juta, Budi Karya Sumadi Bakal Segera Dipanggil KPK?
-
Laris Manis, 84 Tas Mewah dan Puluhan Perhiasan Sandra Dewi Laku Dilelang Kejaksaan
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Jangan Terburu-buru Beli BBCA, Analis Wanti-wanti Taking Profit
-
Produksi Listrik PLN Nusantara Power Capai 66.919 GWh pada 2025
-
Resmi IPO, Saham JECX Langsung Terbang 24,8%
-
Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Masih di Level Rp17.990
-
Bisa Borong, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.655.000/Gram
-
Bergerak Dua Arah, IHSG Masih Bertengger di Level 5.900
-
Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Bayang-Bayang Melimpahnya Pasokan
-
SMGR Catat Penjualan Semen Tumbuh 4,4% hingga Mei 2026
-
Home Credit Genjot Pembiayaan Usai Penyaluran Kredit Tumbuh 14% pada Kuartal I 2026
-
BEI Gunakan Fitur Repo SBSN di SPPA, Dorong Likuiditas Pendalaman Pasar Keuangan