Bisnis / Makro
Minggu, 24 Mei 2026 | 14:45 WIB
Warga belanja tas salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (30/3/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Riset SleekFlow pada Mei 2026 menunjukkan konsumen Indonesia lebih mengutamakan respons cepat dan transparansi informasi dibandingkan harga saat berbelanja.
  • Sebanyak 81 persen konsumen Indonesia menggunakan WhatsApp dan menuntut balasan bisnis dalam durasi kurang dari lima menit saat berinteraksi.
  • Bisnis kini mengadopsi model layanan hybrid yang menggabungkan kecerdasan buatan serta dukungan manusia guna meningkatkan kualitas interaksi pelanggan.

Suara.com - Konsumen Indonesia kini tidak lagi hanya mempertimbangkan harga dalam berbelanja secara digital. Kecepatan respons dan transparansi informasi mulai menjadi faktor utama yang menentukan loyalitas pelanggan terhadap sebuah bisnis.

Mengutip riset SleekFlow, Minggu (24/5/2026), menunjukkan konsumen Indonesia semakin kritis dan selektif dalam proses pembelian online.

Dalam riset tersebut, sebanyak 87,7 persen responden tercatat berbelanja melalui online marketplace.

Namun, konsumen kini juga mengharapkan bisnis menyediakan komunikasi yang relevan, informasi yang transparan, serta respons cepat di berbagai kanal percakapan digital.

Ilustrasi Konsumen. [SuaraJatim/Dimas Angga]

Temuan ini menandakan loyalitas pelanggan tak lagi hanya dipengaruhi harga atau promosi, tetapi semakin ditentukan oleh seberapa responsif dan mudah diakses sebuah bisnis selama proses pembelian berlangsung.

Selain itu, perilaku konsumen digital di Indonesia juga semakin mengarah pada pola 'chat-first' dalam berbelanja. Sebanyak 81 persen responden memilih WhatsApp sebagai kanal komunikasi utama saat berinteraksi dengan bisnis.

Riset juga menemukan bahwa 46 persen konsumen akan kehilangan minat jika tidak mendapatkan balasan dalam waktu lima menit. Bahkan, 72 persen responden tidak bersedia menunggu lebih lama setelah melewati batas waktu tersebut.

Kondisi tersebut membuat responsivitas kini bukan lagi sekadar indikator layanan pelanggan, melainkan bagian penting dari strategi operasional bisnis untuk menjaga peluang konversi dan pertumbuhan usaha.

Seiring meningkatnya ekspektasi pelanggan terhadap layanan real-time, bisnis mulai menghadapi tantangan menjaga responsivitas secara konsisten di berbagai kanal komunikasi, termasuk di luar jam operasional.

Baca Juga: Belanja Negara Melonjak Rp 1.082 T April 2026, Purbaya Bantah Ekonomi Tumbuh karena Dana Pemerintah

SleekFlow menilai perubahan ini mendorong munculnya model customer engagement hybrid yang menggabungkan otomasi kecerdasan buatan (AI) dan dukungan agen manusia.

Meski penggunaan AI semakin berkembang, riset menunjukkan pelanggan masih menginginkan sentuhan manusia dalam interaksi tertentu.

Sebanyak 73 persen konsumen Asia Tenggara masih memilih interaksi manusia untuk kasus yang kompleks, sementara 71 persen menganggap peran sales tetap penting dalam keputusan pembelian produk bernilai tinggi atau kompleks.

Di sisi lain, sekitar 22 persen responden mulai terbuka terhadap model layanan hybrid yang menggabungkan AI dan manusia.

SleekFlow juga mulai memperluas fokus pengembangan teknologinya dari sekadar messaging dan automation menuju kemampuan menganalisis perilaku pelanggan melalui data percakapan.

Dalam waktu dekat, perusahaan akan menghadirkan fitur CX Intelligence untuk membantu bisnis menganalisis keluhan pelanggan, tren permintaan produk, pola sentimen pelanggan, hingga Customer Satisfaction Scores (CSAT).

Load More