- Pasar Cemas Risiko Fiskal: Kecemasan pasar sumbang 23% pelemahan kurs rupiah belakangan ini.
- Chatib sebut opsi menteri keuangan hanya tiga: naikkan pajak, potong belanja, atau utang.
- Pemangkasan anggaran secara selektif jadi obat mujarab jaga kredibilitas fiskal.
Suara.com - Ekonom senior sekaligus Menteri Keuangan periode 2013–2014, Chatib Basri, mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan di balik jebolnya nilai tukar rupiah hingga Rp18.000. Menurut dia isu fiskal tidak ditangani dengan baik oleh pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan.
Menurut Chatib, sekitar 23 persen dari total pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS yang terjadi akhir-akhir ini bukan disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi nasional yang memburuk, melainkan dipicu oleh kecemasan pasar terhadap risiko fiskal pemerintah.
"Artinya saya bisa bilang bahwa soal kita itu adalah soal confidence risk. Jadi kalau isu ini di-address (ditangani), sebetulnya ada harapan ini bisa diperbaiki," ujar Chatib dalam acara Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Chatib mencatat bahwa kekhawatiran pelaku pasar ini tecermin dari kenaikan premi risiko Indonesia atau Credit Default Swap (CDS) yang merangkak naik sejak awal tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor sangat sensitif terhadap ke mana arah kebijakan tata kelola risiko anggaran ke depan.
Di hadapan pelaku usaha, Chatib menguraikan bahwa tugas seorang bendahara negara dalam menghadapi tekanan fiskal di tengah gejolak global sebenarnya sangat sederhana. Kerumitan formula ekonomi makro pada akhirnya selalu bermuara pada tiga pilihan kebijakan yang absolut.
"Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal: naikkan, potong, pinjam. Itu, hanya tiga itu," selorohnya.
Opsi tersebut adalah menaikkan penerimaan negara (pajak), memangkas pengeluaran (belanja), atau menutup celah pembiayaan lewat utang (pinjaman). Jika satu opsi tidak bisa diambil, maka opsi berikutnya harus dieksekusi secara berurutan.
"Kalau Anda tidak bisa naikkan, maka Anda harus potong. Kalau Anda tidak bisa potong, Anda harus pinjam (utang). As simple as that," tandas Chatib.
Meski rumusnya terdengar mudah di atas kertas, Chatib mengingatkan situasi nyata di lapangan membuat ruang gerak fiskal pemerintah kini kian sempit. Kombinasi dari melemahnya nilai tukar rupiah, perlambatan ekonomi global, hingga tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi tembok penghalang yang tebal.
Baca Juga: Chatib Basri: Tugas Menkeu Gampang!
Dari kacamata Chatib, mengambil opsi pertama dengan menaikkan tarif pajak saat ini sama sekali bukan langkah yang bijak. Alih-alih menggenjot penerimaan negara, kebijakan tersebut justru berisiko memukul daya beli masyarakat bawah yang sedang lesu dan melumpuhkan aktivitas dunia usaha yang tengah berjuang bertahan.
"Masa di dalam situasi ini tax revenue, tax-nya mesti dinaikkan? Nggak mungkin juga," tegasnya.
Di sisi lain, jalan pintas melalui opsi ketiga yaitu menarik utang baru juga sudah menghadapi lampu kuning. Tren suku bunga global yang masih bertengger di level tinggi membuat biaya penandatanganan kontrak utang (cost of fund) menjadi terlampau mahal untuk dipikul oleh APBN.
"Siapa yang mau pinjam uang sekarang, cost-nya akan jadi sangat mahal," imbuh Chatib.
Melihat buntunya jalan untuk menaikkan pajak maupun menambah utang, Chatib menyarankan pemerintah untuk segera mengambil opsi kedua, yakni melakukan rasionalisasi anggaran secara ketat namun strategis.
Langkah memotong belanja secara selektif (cut the spending selectively) dipandang Chatib sebagai obat paling mujarab yang harus diambil pemerintah saat ini. Langkah berani ini dinilai sangat krusial untuk menjaga kredibilitas dan keberlanjutan (sustainability) fiskal Indonesia di mata investor global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi
-
Mengenal Profesi Mixologist, Peracik Minuman yang Kini Makin Diburu Industri F&B
-
Minta Rp4 Juta lalu Sita HP Korban! Modus Polisi Gadungan Terbongkar di Banyumas
-
Indonesia Masih Bergantung pada Obat Impor, Kemandirian Farmasi Jadi Tantangan
-
Nekat Gelantungan di Pintu KRL saat Mabuk, Pria Ini Resmi Masuk Daftar Hitam KAI Commuter
-
Proyek E10 Ambisius, Tapi Siapa Mau Pasok Tebu untuk Pemerintah?
-
Siap War Tiket! Indomaret Fun Run 2026 Bakal Ramaikan Gaya Hidup Sehat Warga Semarang