- Pengamat energi Feiral Rizky Batubara menyatakan panas bumi menjadi solusi strategis mengantisipasi risiko blackout dan menjaga kestabilan listrik nasional.
- Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 24 gigawatt, namun pemanfaatannya saat ini masih rendah yakni sekitar 2,7 gigawatt.
- Pemerintah perlu meningkatkan dukungan kebijakan serta infrastruktur untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi sebagai bagian ketahanan sistem kelistrikan.
Suara.com - Risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout menjadi tantangan yang perlu diantisipasi di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional. Salah satunya, pengembangan energi panas bumi dinilai menjadi solusi strategis karena mampu menghasilkan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam.
Pengamat Energi Feiral Rizky Batubara mengatakan gangguan pada sistem kelistrikan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat menekan kinerja sektor industri.
Pasokan listrik yang tidak stabil berpotensi menghambat proses produksi, meningkatkan biaya operasional, hingga mengganggu rantai pasok.
Karena itu, menurut Feiral, mitigasi risiko blackout perlu dilakukan melalui penguatan sistem kelistrikan secara menyeluruh, termasuk diversifikasi sumber energi dan peningkatan pembangkit yang mampu memasok listrik secara andal.
"Panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan bisa berperan sebagai baseload di sistem kelistrikan," ujar Feiral seperti dikutip, Selasa (7/7/2026).
Ia menjelaskan, karakteristik panas bumi yang mampu beroperasi tanpa bergantung pada kondisi cuaca membuat sumber energi tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik nasional.
"Antisipasi blackout harus dilihat sebagai agenda besar penguatan sistem. Dalam kerangka itu, panas bumi dapat menjadi salah satu pilar penting karena potensinya tersebar di banyak wilayah Indonesia," katanya.
Feiral menambahkan, pengembangan panas bumi tidak dapat berdiri sendiri. Upaya memperkuat ketahanan listrik juga harus dibarengi dengan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi, peningkatan cadangan daya, pengembangan sistem penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS), penyediaan pembangkit cadangan, digitalisasi jaringan listrik, hingga diversifikasi sumber energi.
Indonesia sendiri memiliki cadangan panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW) atau sekitar 40 persen dari total cadangan dunia, menjadikannya salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia.
Baca Juga: Produksi Listrik PLN Nusantara Power Capai 66.919 GWh pada 2025
Namun, pemanfaatannya masih relatif rendah. Dari total potensi tersebut, baru sekitar 2,7 GW atau sekitar 12 persen yang telah dimanfaatkan.
Masih besarnya potensi yang belum tergarap dinilai membuka peluang untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target penambahan kapasitas panas bumi sekitar 2,5 GW dalam 10 tahun mendatang. Target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang mencapai 5,2 GW juga dinilai sejalan dengan upaya mempercepat transisi energi.
Meski demikian, Feiral mengakui pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kebutuhan investasi awal yang besar, tarif keekonomian, proses perizinan, hingga kesiapan infrastruktur jaringan listrik.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memperkuat dukungan kebijakan, seperti skema pembagian risiko eksplorasi, penyediaan pembiayaan jangka panjang, penyederhanaan perizinan, serta sinkronisasi antara pembangunan pembangkit dengan pengembangan jaringan kelistrikan nasional.
"Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai," pungkas Feiral.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Telkom Perkuat Transformasi Digital UMKM di Wilayah 3T lewat Program Rural Youth AI Facilitator
-
Telkom University Gandeng NUS, Telkom Dorong Talenta Digital Indonesia Berdaya Saing Global
-
Purbaya Girang Pendapatan Negara di Semester I 2026 Lebih Tinggi dari Era Sri Mulyani
-
61 Tahun Telkom Indonesia, Gelorakan Semangat Transformasi Digital Nasional
-
Pemerintah Diminta Evaluasi Dampak Komisi Ojol 8 Persen Selama Enam Bulan
-
Saham Tambang Kembali Bersinar, AMMN, ANTM, Hingga BUMI Potensi Cuan Gede
-
Rampungkan Streamlining 10 Entitas, Telkom Perkuat Transformasi Jadi Strategic Holding
-
Zulhas Dorong Sektor Lain Ikuti Langkah Cepat Jalankan Perdagangan Karbon
-
Pelaku Usaha Kembali Dibikin Pusing Pemerintah, Pajak Air Tanah Naik
-
Bolak-balik Masuk BUMN, Faik Fahmi Kini Jadi Bos Pelita Air