- Tenaga Ahli Bakom RI, Fithra Faisal, menyatakan ekonomi Indonesia mengalami empat tekanan berat atau quadruple whammy pada Juli 2026.
- Empat indikator tersebut meliputi defisit neraca perdagangan, kontraksi indeks manufaktur, kenaikan inflasi, serta penurunan indeks keyakinan konsumen nasional.
- Pemerintah merespons kondisi tersebut melalui stimulus senilai Rp26,34 triliun serta kebijakan pemotongan harga gas dan tarif impor bahan baku.
Suara.com - Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan kalau kondisi ekonomi Indonesia dihantam empat tekanan sekaligus, atau yang disebut sebagai quadruple whammy.
Fithra menjelaskan bahwa situasi ekonomi saat ini sedang tidak berada dalam kondisi yang ideal akibat akumulasi data rilis terkini yang berada di zona kontraksi dan perlambatan.
"Kita melihat data-data terakhir ini menghadirkan concern atau kekhawatiran buat kita semua. Bisa disebut bukan hanya triple, tetapi quadruple whammy," ujar Fithra dalam acara Bisnis Indonesia Forum yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Fithra merinci empat indikator ekonomi utama yang menjadi komponen dari hantaman beruntun tersebut. Pertama yakni runtuhnya surplus neraca perdagangan 72 hari berturut-turut sejak pertengahan tahun 2020.
Ia memaparkan, neraca perdagangan Indonesia akhirnya terjungkal ke zona defisit sebesar 1,6 miliar dolar AS. Pembengkakan defisit migas mencapai 3,8 miliar dolar AS, serta anjloknya ekspor non-migas sebesar 4,5 persen menjadi pemicu utama berakhirnya era surplus tersebut.
Kedua yakni Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur, yang mana angkanya terkontraksi ke level 46,9. Menurutnya, angka yang di bawah ambang batas ekspansi (50,0) ini menunjukkan bahwa para pelaku industri mulai menahan diri untuk melakukan ekspansi akibat lonjakan ongkos produksi, terutama dari sektor energi.
Ketiga yakni faktor inflasi. Fithra mengatakan tekanan dari sisi produsen mulai merembet ke konsumen, di mana tingkat inflasi nasional tercatat merangkak naik dari posisi sebelumnya di angka 3,08 persen menjadi 3,34 persen.
Keempat yaitu anjloknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) atau Consumer Confidence Index. Angka ini dilaporkan ikut merosot tajam ke level 117,8 dari posisi sebelumnya yang berada di 120,9. Penurunan ini mencerminkan pudarnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Guna meredam efek domino dari quadruple whammy ini agar tidak memicu perlambatan ekonomi yang lebih dalam, Fithra memaparkan sejumlah langkah intervensi taktis dari sisi penawaran (supply-side intervention) yang tengah dikebut oleh pemerintah.
Baca Juga: MSCI Masih Jadi Batu Sandungan, Rp75 T Dana Asing Kabur dari Bursa Meski Fiskal RI Menguat
Dalam jangka pendek, pemerintah menggelontorkan paket stimulus senilai Rp26,34 triliun pada Semester II, dengan alokasi khusus Rp2 triliun untuk intervensi sektor transportasi dan pos produksi hulu.
Kebijakan ini dibarengi dengan pemotongan harga gas industri (LNG) dari puncaknya yang sempat menyentuh 23 MMBTU menjadi dipatok maksimal 13 MMBTU, serta pembebasan tarif impor untuk input produksi vital seperti komponen plastik dan bahan baku lainnya.
"Melalui langkah-langkah fiskal ini, pemerintah berupaya meringankan beban biaya yang ditanggung produsen. Dengan begitu, kita harapkan laju kontraksi industri dapat ditekan dan roda ekonomi nasional kembali stabil di tengah ketidakpastian global," pungkas Fithra.
Berita Terkait
-
MSCI Masih Jadi Batu Sandungan, Rp75 T Dana Asing Kabur dari Bursa Meski Fiskal RI Menguat
-
INDEF Ungkap Kelas Menengah RI Tertekan, 10 Juta Orang Turun Kelas dalam Waktu Sedekade
-
Tak Lagi Berbasis Latihan Kemiliteran, Pelatihan SPPI Kini Lebih Humanis
-
Qodari: Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Pemerintah Menjaga Daya Beli Masyarakat
-
Inovasi Water-Based Dipamerkan untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- 3 Sabun Muka Rekomendasi Dokter Estetika yang Ampuh Jaga Skin Barrier
Pilihan
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
Terkini
-
Program AURA BRI Peduli Cetak UMKM Perempuan Tangguh Dengan Peluang Ekonomi Olahan Pala
-
B50 Mulai Mengalir ke 57% SPBU Pertamina, Pemerintah Targetkan Transisi Tuntas dalam Dua Bulan
-
Bahlil Akan Preteli RKAB Perusahaan Tambang yang Ogah Pakai Solar B50
-
Polemik Pajak JHT, Kenapa Tabungan Hari Tua Bisa Dipotong Pajak hingga 30 Persen?
-
Konsumen Makin Pesimis, Penjualan Ritel Anjlok, Rupiah Ambruk ke Rp18.128 per Dolar AS
-
MSCI Masih Jadi Batu Sandungan, Rp75 T Dana Asing Kabur dari Bursa Meski Fiskal RI Menguat
-
Siap-siap! Tarif 52 Ruas Tol Berpotensi Naik Tahun Ini
-
Status Pekerja Outsourcing Diubah, Ini Penjelasan Lengkap dari Kemnaker
-
Profil Sunaryanto, Direktur Utama Pertamina Hulu Migas yang Baru
-
8 Bank Resmi Merger, OJK Ungkap Alasannya